News

Tangis Anggota Paskibra saat Pemakaman Ibunya

Didia Do Janji Mi Umak…

HUMBAHAS, FaseBerita.ID – Kartini Rajagukguk, ibunda dari Sayang Khamesi Simorangkir sudah dimakamkan. Jasadnya dikebumikan di makam keluarga Oppung Kusor, Desa Lobu Pining, Kecamatan Pahae Julu, Tapanuli Utara. Isak tangis dan haru keluarga mengiringi kepergian Kartini.

Sayang Khamesi, anggota Paskibra Kecamatan Parlilitan, Humbahas, yang sedang dirundung kesedihan tampak lunglai usai pemakaman sang ibu pada Senin (19/8/2019) lalu. Sepertinya dia belum siap menerima kenyataan akan kehilangan sosok ibu yang dicintai. Sayang pun tak henti-hentinya menangis. Sesekali dia menyeka airmatanya.  Tumor ganas yang bersarang di antara hati dengan lambung, merenggut Kartini dari kehidupan Sayang serta keluarga.

Tangis Sayang pun pecah dan semakin menjadi manakala peti jenazah Kartini akan ditutup. Saat itu Sayang histeris menagih janji sang ibu.

Didia do janji mi umak. Marjanji ho umak naeng mangida ahu tu Parlilitan ala dohot ahu Paskibra di ulangtahun on. Hape margabus do ho umak, ditinggalhon ho do ahu. Didia do janji mi umak? (Mana janjimu ibu. Kau bilang akan melihat penampilanku sebagai anggota Paskibra pada HUT RI. Nyatanya ibu berbohong sama aku. Ibu justru meninggalkan aku untuk selamanya,” jerit Sayang.

Tangisan Sayang tak ayal menambah haru suasana, membuat khalayak ramai berurai airmata. Sayang kemudian memeluk dan mencium jasad ibunya untuk yang terakhir kali, sebelum diantarkan ke tempat peristirahatan terakhir.

Sebelumya, sikap nasionalisme Sayang Khamesi Simorangkir, salah seorang Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) pada upacara HUT ke-74 RI di Kecamatan Parlilitan, Sabtu (17/8/2019) lalu, mendapat apresiasi dari berbagai pihak.

Dia rela menunda melihat ibunya yang meninggal dunia dan sudah disemayamkan di kampung, demi berkibarnya Merah Putih di cakrawala Parlilitan.

Kepada media ini, Sayang mengisahkan bahwa dirinya mendapat kabar duka tersebut saat mengikuti latihan Paskibra di Tanah Lapang Parlilitan, Kamis (15/8/2019).

Tak lama kemudian, pihak keluarga datang menjemput Sayang untuk melihat ibunya yang sudah meninggal di kampung, tepatnya di Dusun Lobu Pining 2, Desa Lobu Pining, Kecamatan Pahae Julu, Tapanuli Utara. Perjalanan dari Parlilitan ke Pahae Julu memakan waktu satu hari dengan kendaraan penumpang umum.

Namun, karena jenazah almarhumah Kartini Rajagukguk, ibunda Sayang, direncanakan akan dimakamkan pada Senin (19/8) sehingga siswi kelas XII Mia 3 SMAN 1 Parlilitan itu merasa terpanggil dan memutuskan untuk kembali ke Parlilitan menunaikan tugas yang diembannya sebagai pasukan pengibar bendera demi berkibarnya Merah Putih pada upacara HUT ke-74 RI di Parlilitan.

“Ini semua demi Merah Putih. Lagipula, ibu dikuburkan hari Senin (19/8). jadi, saya dapat melaksanakan tugas saya dulu tanpa harus khawatir tidak dapat mengikuti acara pemakaman ibu. Saya bisa kembali  ke kampung setelah upacara penurunan bendera selesai,” ujarnya.

Sayang mengaku,  sebenarnya dia merasa sangat sedih dan haru manakala dihadapkan pada pilihan, dimana dia dituntut untuk menentukan sikap. Akan tetapi, Sayang merasa bahwa menjalankan tugas yang dipercayakan oleh bangsa adalah bentuk tanggungjawab yang harus dilakukan.

“Yang pasti perasaan saya sangat sedih. Perasaan saya sangat haru. Akan tetapi, itu merupakan salahsatu tanggungjawab yang harus saya lakukan. Harus saya tuntaskan,” kata sayang terbatabata berusaha menahan airmatanya.

Lebih jauh, Sayang menandaskan bahwa satu tanggung jawab yang dipercayakan oleh bangsa, harus dilalui dan harus dilakukan.” Karena, meski sekecil apapun itu, sangat berarti bagi kita dan untuk negara. Jadi, kita harus bangga bisa berbuat untuk bangsa walaupun itu sebenarnya sangat kecil dibandingkan dengan apa yang sudah negara lakukan untuk kita,” ujar anak kelima (bungsu) dari pasangan Burju Simorangkir dengan Kartini Rajagukguk itu.

Ditanya terkait tanggapan keluarga terhadap keputusan yang diambilnya, Sayang menjelaskan, pihak keluarga sepenuhnya memercayakan apa yang terbaik menurut Sayang. “Saya ikhlas tidak ada paksaan ataupun halangan dari semua pihak. Keluarga menyerahkan sepenuhnya kepada saya terkait keputusan yang saya ambil,” tandasnya. (sht)