News

Takut Ada Pembatasan, Banyak Orang Putuskan Mudik Lebih Awal

FaseBerita.ID – Pemerintah hingga kini masih mengkaji rencana kebijakan larangan mudik lebaran untuk menghindari penyebaran Covid-19. Belum adanya kebijakan yang pasti ini pun membuat masyarakat berinisiatif melakukan mudik untuk menghindari adanya pelarangan tersebut.

Direktur Jenderal (Dirjen) Hubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Budi Setiyadi pun mengakui bahwa banyak masyarakat memilih mudik lebih cepat dari biasanya. Pasalnya, saat ini aktivitas juga tengah dibatasi, apalagi di kawasan zona merah seperti DKI Jakarta.

“Ada mudik yang sebelum waktunya karena memang kegiatan (menjaga jarak) di Jakarta ini kan kita ada penurunan juga. Itu ada terminal A di daerah lonjakan dari Jabodetabek,” jelasnya melalui Telekonferensi Pers, Jumat (27/3).

Pihaknya juga telah memberikan instruksi kepada Kepala Dinas Provinsi dan Kepala BPTD (Balai Pengelola Transportasi Darat) untuk melakukan pengecekan dan identifikasi tergadap masyarakat yang masuk ke wilayahnya.

“Kalau sudah diverifikasi, nanti harus lakukan isolasi selama 14 hari dan Pemkot (pemerintah kota) juga jangan menunggu permintaan dan sebagainya untuk perintah itu. Spontan saja ambil keputusan supaya ada peran untuk mengurangi penyebaran korona,” tegasnya.

Dia menyebutkan kalau sejak 20 hingga 23 Maret kemarin, terdapat lonjakan beberapa terminal bus di Jawa Tengah, seperti Wonogiri, Purwokerto dan Solo. Kebanyakan para pemudik bekerja di sektor informal dari Jakarta.

“Kita sudah sampaikan dengan kepala BPTD, orang itu harus dipantau statusnya PDP atau ODP dari dinas kesehatan setempat. Mudah-mudahan Pemda (pemerintah daerah) juga merespon untuk kepentingan daerahnya,” terang dia.

Staf Khusus Menteri Perhubungan Bidang Komunikasi Adita Irawati mengatakan, dengan adanya ini, dikhawatirkan penyebaran akan semakin luas.

“Ini kita khawatirkan wabah Covid-19 ini akan semakin luas dan menambah zona merah di zona tujuan mudik, kita dengan tegas akan merekomendasikan untuk pelarangan mudik,” tutup dia.

Komisi VIII DPR Dukung Warga Tidak Mudik Lebaran

Pemerintah tengah mengkaji beberapa opsi terkait mudik Lebaran mendatang. Salah satunya adalah melarang semua penduduk untuk mudik. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya mencegah penyebaran virus Korona.

Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi VIII DPR Selly Andriany Gantina mengatakan, pemerintah bisa mengambil keputusan bijak mengenai musim mudik di Lebaran nanti.

“Pemerintah sedang menghitung lewat kajian matang. Tujuan utamanya kan maslahat seluruh masyarakat” ujar Selly kepada wartawan, Jumat (27/3).

Selly menambahkan bahwa kekhusyukan ibadah Ramadan tidak akan terganggu oleh virus Korona ini. Ia yakin, masyakarat akan bisa beribadah dengan baik, meskipun kondisinya tidak sama seperti dahulu.

“Poinnya ibadah selama bulan suci Ramadan tidak kehilangan makna sucinya. Masyarakat tetap bisa beribadah secara khusyuk walaupun dalam kondisi prihatin. Pemerintah harus jamin” katanya.

Karena itu, ia berharap seleuruh umat muslim bisa menunjukkan rasa empati dengan kondisi pandemi ini dengan tidak melaksanakan mudik. Karena dikhawatirkan bisa membahayakan sanak keluarga di kampung halaman.

Selly berujar bahwa virus Korona ini tidak akan bisa teratasi jika tidak ada kesadaran bersama. Sehingga masyarakat bisa membantu pemerintah memutus rantai Korona ini di Indonesia.

“Nuansa Lebaran kan tetap bisa dirayakan dengan bantuan teknologi. Tinggal video call atau skype. Harus sadar kita lawan Korona ini itu butuh kerjasama,” katanya.

Oleh sebab itu hidup yang disiplin dari masyarakat yang saaat ini dibutuhkan. Ikuti semua anjuran pemerintah. Terlebih jalani hidup yang disiplin di tengah pandemi Korona ini.

“Virus ini matinya karena kita disiplin ketat. Saatnya kita semua bisa bekerjasama, untuk menahan diri berpergian dan berdisplin,” pungkasnya. (JP)

USI