News

Tak Kebagian Sembako Omak-omak di Tapteng Serbu Kantor Lurah

FaseBerita.ID – Merasa tidak adil dalam pembagian sembako kepada masyarakat, sejumlah omak-omak (ibu-ibu, red) berbondong-bondong mendatangi Kantor Kelurahan Sibulan Indah, Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah (Tapteng), Kamis(30/4) siang.

Mereka bermaksud mempertanyakan bantuan sembako yang telah diprogramkan oleh pemerintah daerah terhadap warga yang terdampak covid-19 seharusnya tidak tembang pilih sehingga menimbulkan kecemburuan sosial bagi masyarakat.

Putra Panjaitan, salah seorang warga yang merasa kecewa atas pembagain sembako itu saat dikonfrimasi oleh wartawan koran ini di depan pintu masuk kantor Kelurahan Sibulan Indah mempertanyakan kelayakan penerima bantuan sembako tersebut.

“Kami masyarkat Kelurahan Sibulan Indah, Kecamatan Pandan yang terdamapak pandemi Covid-19 tidak mengetahui bantuan ini bersumber dari mana. Tujuannya apa? Dan siapa yang seharusnya meneriama bantuan? Kami selaku warga yang berada di Kelurahan Sibuluan Indah yang seharusnya layak mendapatkan batuan tersebut malah tidak mendapatkan bantuan. Yang tidak layak malah mendapatkan bantuan,” ungkapnya.

Dia mencontohkan, salah satu contohnya, ada seorang yang berkemampuan di kelurahan tersebut dan mendapatkan sembako. Ada juga beberapa Aparatur Sipil Negara (ASN) seperti guru dan honorer juga ada yang mendapat sembako.

“Mirisnya, pengangguran serta farkir miskin yang selayaknya mendapatkan bantuan malah tidak mendapatkannya,” terang Putra Panjaitan.

Masih katanya, parahnya mereka dan banyak warga lainnya tidak mengetahui adanya bantuan dan untuk siapa saja bantuan itu diberikan. “Pak Bupati Bahktiar Ahmad Sibarani, tolong perhatikan kami masyarakat kecil ini. Jangan bapak hanya sekadar memperintahkan bawahan bapak mengumpulkan data. Tolong lebih diperhatikan kami masyarakat kecil ini Pak Bupati!” pintanya.

Dari tempat terpisah, yakni di Lingkungan I Kelurahan Sibuluan Indah, seruan senada diungkapkan kaum ibu atau omak-omak atas pembagian sembako yang dinilai tidak merata. “Kami merasa kecewa kepada Lurah Sibuluan Indah. Selaku warga Kelurahan Sibuluan Indah, kenapa kami tidak mendapatkan bantuan tersebut,” ujar salah seorang omak-omak seraya meneteskan air mata.

Lanjutnya, ia melihat beberapa orang tetangganya mendapat bantuan sembako berupa beras lima kilogram, minyak goreng satu kilogram, gula pasir satu kilogram dan uang non tunai sebesar Rp200 ribu.

“Lantas kami Tanya kepada mereka; dari mana kamu dapat beras? Tetangga menjawab dari kantor lurah, bantuan covid-19. Lalu kami pertanyakan lagi sama tetangga, apa persaratannya? Dijawab hanya bawa KK (kartu keluarga),” ujarnya.

Mendengar informasi tersebut, para omak-omak langsung mendatangi kantor lurah dan mempertanyakan kepada lurah tentang pembagian sembako. Namun sesampainya di kantor kelurahan, oknum lurah mengatakan bahwa itu merupakan bantuan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) bukan bantuan Covid-19.

“Yang menjadi pertanyaan di hati kami masyarakat yang jauh dari garis berkecukupan ini, kenapa bantuan Baznas yang dapat malah orang yang mampu? Itukan seharusnya bantuan buat fakir miskin dan orang-orang yang benar-benar layak untuk mendapatkan, ini tidak sama sekali. Orang yang sanggup dan mampu diberikan bantuan. Apakah ada orang-orang pilihan yang telah ditentukan?”

“Pak Bupati… Tolong kami masyarakat kecil ini. Tolong bapak perhatikan kami warga yang tinggal di pinggiran sungai yang berada di Lingkungan I, Keluruhan Sibuluan Indah. Agar sekiranya bantuan yang bapak berikan sampai ke tangan masyarakat yang sangat membutuhkan.”

Lurah Sibuluan Indah, Aji Martoni Jambak saat dikonfrimasi mengatakan bahwa bantuan tersebut bukan bantuan covid-19, melaikan bantuan Baznas untuk 238 KK yang sesuai data dan diberikan oleh bupati. “Kita pihak kelurahan hanya sebagai penyalur. Yang mendata adalah Pak Bupati. Jadi kita tidak tahu seperti apa kategori masyarakat yang menerima bantuan tersebut,” ujarnya.

Saat dipertanyakan oleh wartawan koran ini, masyarakat yang menerima bantuan sembako kategorinya seperti apa? Aji Martoni Jambak mengaku tidak tahu. “Tidak tahu kami itu, kami di sini hanya membagikan saja. Yang mendata adalah pak bupati, silahkanlah tanya pak bupati.”

Sementara Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Tapanuli Tengah, Syahfaria Hasibuan saat dikonfrimasi, Jumat (1/5) pagi membenarkan bantuan tersebut berasal dari Baznas.

“Memang benar kita dari Baznas menyalurkan bantuan zakat bagi farkir miskin yang berada di Kabupaten Tapanuli Tengah. Jumlah (keseluruhannya, red) sebanyak 11.000 fakir miskin yang berada di Tapanuli Tengah, bersumber dari zakat PNS dan masyarakat, serta dibantu Bupati Tapanuli Tengah berupa sembako secara pribadi,” ujarnya.

Lanjutnya, bantuan Baznas yang disalurkan berupa uang tunai sebesar Rp200 ribu serta dibantu oleh Bupati Tapanuli Tengah berupa sembako secara pribadi untuk farkir miskin. “Beda bantuan Baznas, beda pula bantuan Covid-19. Jangan digabungkan!” ujarnya.

Sambugnya, bantuan Baznas merupakan bantuan yang bersumber dari zakat PNS dan masyarakat yang membayar zakat terhadap Baznas dan di salurkan sesuai syariat Islam, bukan bantuan Covid-19.

Ketua Baznas Syahfaria Hasibuan juga sangat menyesalkan terjadinya kericuhan pembagian zakat farkir miskin yang berada di Kelurah Sibulan Indah. “Sebelum dilakukan pembagian zakat bagi farkir miskin kita sudah lakukan koordinasi terhadap pihak kelurahan, agar terlebih dulu dibagikan bantuan zakat farkir miskin yang berasal dari Baznas, agar tidak menimbulkan kericuhan.”

“Agar dibedakan penerima zakat fakir miskin dengan penerima batuan dampak covid-19. Namun nyatanya menjadi polemik di tengah-tengah masyarakat. Untuk kedepannya kita akan lakukan pengawasan yang ketat agar batuan zakat tersalur sesuai ketentuanya,” tukasnya. (tam)