News

Tahun Ajaran Baru: Siswa di Siantar Tetap Belajar di Rumah

Melanggar, Bakal Ditindak

SIANTAR, FaseBerita.ID– Meski SD dan SMP saat ini sudah memasuki tahun ajaran baru 2020/2021, Pemko Siantar memastikan tetap akan memberlakukan sistem belajar di rumah bagi para siswa.

Hal tersebut dilakukan mengingat saat ini Kota Siantar masih berstatus zona merah, yang berarti belum terlalu aman untuk menerapkan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Rosmayana Marpaung SPd MM menegaskan, pihaknya belum bisa memastikan kapan masuk sekolah.

“Untuk saat ini, yang aman adalah belajar di rumah secara daring. Bagi sekolah yang melanggar akan kita tindak tegas,” kata Rosmayana SPd MM, Rabu (15/7).

Lagi-lagi, ia mengingatkan pihak sekolah untuk taat peraturan. Hal itu disampaikannya mengingat ada beberapa sekolah yang sudah masuk sekolah.

“Belum ada anjuran dari pemerintah untuk masuk sekolah. Baik itu perkenalan maupun yang lain-lain. Tetap belajar secara online atau daring. Semua sekolah sampai saat ini masih belajar di rumah. Kita tunggu saja imbauan dari Menteri Pendidikan bagaimana nanti penerapannya ke depan,” tegasnya.

Bagi guru, ia mengimbau agar siswa nantinya tetap belajar. Artinya, guru harus memberi Pekerjaan Rumah (PR) terhadap siswa, agar minat eblajarnya tetap baik.

“Untuk itu, kita berharap kepada orang tua agar memantau anak-anak. Jangan banyak bermain. Biasakan belajar sesuai dengan anjuran pemerintah,” pungkasnya.

Dana BOS Bisa Dipakai Beli Kuota Internet Siswa

Di tengah pandemi virus corona Covid-19 saat ini, pemerintah menerapkan sistem pembelajaran online demi mencegah penularan virus.

Namun, sistem pembelajaran online tersebut diakui oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim banyak mendapat kritikan.

Di sisi lain, kebijakan pembukaan sekolah zona hijau yang sudah dimulai di tahun ajaran baru mulai 13 Juli 2020 itu, berada di tangan kepala sekolah.

Terkait kritik pembelajar jarak jauh, Nadiem pun setuju dengan kritikan tersebut.

“Itu saya seratus persen setuju dengan semua kritikan itu. Tetapi kita tidak punya opsi yang lain pada saat ini. Kita harus mencari jalan masing-masing, karena tidak ada satu platform yang cocok untuk satu sekolah,” kata Nadiem dalam wawancara program “Ini Budi” Tempo secara virtual di Jakarta, Sabtu (11/7/2020) lalu sebagaimana dikutip dari laman resmi Kemendikbud.

Soal efektivitas pembelajaran jarak jauh di masa pandemi, Nadiem mengatakan sangat variatif.

Terdapat beberapa daerah yang dinilai cukup efektif, tetapi tidak sedikit pula yang dinilai tidak cukup efektif.

Beberapa kendala dan tantangan yang ditemukan antara lain akses internet yang di beberapa daerah memang sangat sulit, terutama di daerah terluar, dan tertinggal.

Kemudian dana untuk membeli kuota internet.

“Hal inilah yang membuat Kemendikbud mengizinkan penggunaan Dana BOS untuk pembelian kuota internet bagi siswa dan guru,” ujar Nadiem.

Kemudian yang ketiga adalah waktu adaptasi terhadap program PJJ masih sangat kecil sehingga banyak sekali yang terjadi adalah pemberian tugas-tugas kepada siswa yang yang berlipat ganda sehingga memberatkan siswa.

“Kemendikbud maupun siapa pun di sistem ini sebenarnya tidak mau (dipaksa) melakukan pembelajaran jarak jauh. Kita terpaksa melakukan pembelajaran jarak jauh karena opsinya adalah kita tidak belajar sama sekali atau kita coba-coba biar masih ada pembelajaran yang terjadi,” terang Mendikbud.

Namun, selain penggunaan teknologi, Mendikbud menjelaskan bahwa kriteria kesuksesan pembelajaan jarah jauh tercermin dari meningkatnya partisipasi orang tua.

“Dari evaluasi yang dilakukan Kemendikbud, partisipasi orang tua mengakibatkan efektivitas pembelajaran jauh meningkat. Untuk para siswa yang belum memiliki akses ke internet, Kemendikbud telah meluncurkan program Belajar dari Rumah yang merupakan kolaborasi dengan TVRI,” ujarnya.

Mengenai pemberitaan bahwa Kemendikbud akan menerapkan pembelajaran jarak jauh secara permanen, Mendikbud menampik hal tersebut. Adapun yang dipermanenkan adalah penggunaan teknologi dalam pembelajaran.

“Jadi waktu saya bilang hybrid model, itu artinya cara interaksi guru dan siswa dengan bantuan teknologi akan lebih dinamis. Jadi, mungkin akan ada jenis interaksi-interaksi lain pada saat siswa di rumah, saat dia mengerjakan PR, yang akan menggunakan platform-platform teknologi tertentu,” jelasnya.(ros/trb/int)