News

Sri Mulyani Kembali Bahas RAPBN 2020 dengan DPR

JAKARTA, FaseBerita.ID – Pemerintah bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI kembali melakukan pembahasan mengenai asumsi dasar makro dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja (RAPBN) 2020.

Dalam kesempatan itu pihak pemerintah yakni Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas).

Selain itu hadir juga Gubernur BI Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, serta Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto.

Dalam rapat yang dipimpin oleh Ketua Komisi XI DPR RI Melchias Marcus Mekeng itu dihadiri dihadiri sebanyak 16 anggota DPR dari 6 fraksi. Rapat sendiri dimulai pukul 14.00 WIB dari agenda awal 13.00 WIB.

“Rapat kali dihadiri 16 anggota dari 6 fraksi, dimana 3 anggota DPR tidak hadir karena izin. Maka rapat dapat dimulai,” ujar Mekeng membuka Rapat di Gedung DPR, Jakarta, Senin (17/6/2019).

Dalam rapat kali ini, diagendakan pemerintah menjawab seluruh pandangan yang diajukan oleh anggota DPR dalam rapat yang berlangsung pekan lalu. “Menteri Keuangan bisa segera menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam rapat sebelumnya,” tambah Mekeng.

Adapun, dalam Rapat Paripurna DPR RI yang berlangsung pada 20 Mei 2019, Sri Mulyani menyampaikan asumsi makro RAPBN Tahun 2020 yakni untuk target pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,3-5,6%. Sedangkan inflasi disasar pada kisaran 2%-4% dan tingkat bunga SPN 3 bulan berada di 5%-5,6%.

Kemudian nilai tukar Rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp14.000-Rp15.000 per USD. Serta harga minyak mentah Indonesia diasumsikan USD60-USD70 per barel di tahun depan.

Lalu lifting minyak bumi ditargetkan mencapai 695 ribu hingga 840 ribu barel per hari. Sedangkan lifting gas bumi mencapai 1,19 juta hingga 1,30 juta barel setara minyak per hari. Sedangkan defisit dalam RAPBN tahun 2020 ditargetkan terjaga di kisaran 1,75% hingga 1,52% dari PDB. Keseimbangan primer juga ditargetkan positif dan rasio utang bisa di kisaran 30% terhadap PDB. (kmj)