News

Sidang Dugaan Suap Walikota Medan: Saksi Perlihatkan Foto Rumah Mewah Samsul Fitri

FaseBerita.ID – Sidang kasus dugaan suap Wali Kota Medan nonaktif, T Dzulmi Eldin kembali digelar di ruang Cakra 2 Pengadilan Tipikor Medan, Senin (4/5).

Saat sidang, saksi dari kuasa hukum terdakwa, Chandra Lubis (38), menunjukkan foto pembangunan rumah mewah di kawasan Medan Helvetia, yang disebutnya milik Samsul Fitri, mantan Kasubbag Protokoler Pemko Medan, yang didakwa sebagai perantara suap.

Di hadapan majelis hakim diketuai Abdul Azis, saksi warga Jalan Pinang Baris itu menjelaskan, dirinya yang mengambil gambar/foto pembangunan rumah mewah tersebut.

Dalam beberapa lembar foto yang memperlihatkan proses pembangunan rumah mewah tersebut, juga tercantum adanya SIMB (Surat Izin Mendirikan Bangunan) atas nama Leni Agustina Rame. Leni adalah istri Samsul Fitri.

“Benar Pak Hakim, saya yang ambil foto itu kira-kira seminggu lalu. Saya nggak tau apa ada kaitannya dengan Eldin atau yang lain. Saya tau rumah itu dari om saya, Ilhamsyah,” ungkap saksi.

Zunaidi Matondang selaku kuasa hukum Eldin, pada persidangan tersebut menegaskan, foto yang diambil saksi merupakan foto pembangunan rumah Samsul Fitri, yang proses pembangunannya sejalan dengan rentang waktu awal mula kasus dugaan suap terjadi.

“Nah, dari situ kita patut menduga bahwa dalam kasus ini Samsul Fitri lah yang berperan memanfaatkan situasi untuk meminta uang kepada para kepala dinas. Pembangunan rumah atas nama Leni Agustina Rambe itu, kalau dilihat proses pembangunannya sejalan dengan kasus ini mulai bergulir,” ungkapnya.
Keterangan Terdakwa

Dalam proses persidangan yang dilanjutkan dengan keterangan terdakwa itu, terdakwa T Dzulmi Eldin mengaku, baik para kadis maupun Samsul Fitri tidak pernah melaporkan mengenai permintaan uang. Begitu juga sebaliknya, ia tidak pernah mempertanyakan soal permintaan uang kepada para kadis atau Samsul Fitri.

“Tidak pernah saya mempertanyakan, Yang Mulia. Kadis ataupun Samsul, tidak pernah saya tanya mengenai uang itu,” sebut Eldin.

Selain itu, terdakwa Dzulmi Eldin juga mengaku, tidak pernah mengetahui ke mana saja uang operasional sebesar Rp160 juta selama sebulan tersebut, dipergunakan oleh para ajudan maupun Samsul Fitri sebagai Kasubbag Protokoler.

“Saya kurang tau ke mana saja uang itu digunakan. Setahu saya, kalau sudah habis, melapor lagi,” ujarnya.

Usai mendengar keterangan saksi dan terdakwa, Majelis Hakim menunda persidangan hingga Kamis (14/5) mendatang, dengan agenda tuntutan. (man)

USI