News

Setahun Corona, 33 Orang Warga Asahan Meninggal

FaseBerita.ID – Wabah Covid-19 (virus Corona) tidak terasa sudah hampir setahun terjadi. Tidak hanya berdampak pada kematian korban jiwa musibah ini ikut menyeret ekonomi masyarakat. Berdasarkan update data rekapitulasi sebaran Covid-19 per Kecamatan se-Kabupaten Asahan tanggal 9 Maret 2021, penambahan jumlah kasus pasien positif Covid-19  terus meningkat.

“Dari data yang kita rangkum hingga hari ini, Selasa 9 Maret, jumlah pasien positif Covid-19 dari Kabupaten Asahan total sebanyak 646 kasus terkonfirmasi dengan klasifikasi yakni pasien dalam perawatan 57 orang, pasien sembuh 556 orang dan meninggal 33 orang”, sebut Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Asahan, Rahmat Hidayat Siregar kepada wartawan, Selasa (9/3).

Terkait angka pasien yang terpapar virus corona di Kabupaten Asahan yang kini sudah mencapai 646 orang, Hidayat menghimbau, kepada masyarakat untuk tidak sepele terhadap virus yang tak kasat mata namun telah nyata menyebabkan puluhan orang terinfeksi dan 33 orang telah meninggal dunia di Kabupaten Asahan.

Hidayat juga menegaskan, Covid-19 merupakan ancaman nyata yang dapat menyerang siapa saja, tak peduli seseorang itu pejabat, tokoh masyarakat, atau tenaga kesehatan sekalipun, dapat terserang oleh virus mematikan tersebut.

Kecamatan Kisaran Timur menjadi daerah yang terdampak paling banyak dijumpai kasus virus corona ini yakni 189 kasus terkonfirmasi, 19 masih menjalani perawatan, 160 sembuh, dan 10 orang meninggal. Disusul Kecamatan Kisaran Barat dengan 137 orang terkonfirmasi positif, 15 dirawat, 116 sembuh dan 6 orang meninggal dunia.

Meski demikian, dari 25 kecamatan di Kabupaten Asahan terdapat daerah yang paling sedikit dan jarang ditemukan kasus Covid-19 ini diantaranya, Aek Ledong, Sei Kepayang Barat, Sei Kepayang dan Sei Kepayang Timur.

Sebelumnya, seluruh tenaga kesehatan di Kabupaten Asahan baik rumah sakit maupun Puskesmas ditambah pejabat public telah dilakukan vaksinasi secara bertahap. Para tenaga medis ini dianggap paling rentan terkena virus Covid-19.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan, dr Elfina br Tarigan menjelaskan lebih kurang 600 orang tenaga kesehatan dilakukan vaksinasi untuk mengetahui klaster baru penyebaran virus corona yang masih belum mereda.

“Tenaga kesehatan paling rentan. Olehkarena itu seluruhnya kita lakukan swab tes untuk mengetahui apakah diantara mereka ada yang sudah terjangkit,” kata dr Elfina br Tarigan.

Corona B.1.1.7 Sudah Masuk Sumut

Jumlah kasus positif Covid-19 varian baru B.1.1.7 di Indonesia kini bertambah.Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, sudah empat kasus positif Covid-19 varian baru B.1.1.7 ditemukan di empat provinsi di Tanah Air.

“Adapun keempat virus varian B.1.1.7 ini ditemukan di 4 provinsi yakni Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan,” kata Nadia dalam konferensi pers virtual Kementerian Kesehatan, Senin (8/3).

Namun demikian, Nadia menyebut, dari hasil tracing yang dilakukan pemerintah terhadap keempat orang pasien tersebut, tidak ditemukan adanya penularan pada keluarga atau orang dengan kontak erat. “Sampai saat ini dari proses pelacakan kasus yang kita lakukan, tidak ada keluarga atau kontak erat yang kemudian positif setelah kasus ini dinyatakan positif sebelumnya,” lanjut Nadia.

Selain itu empat pasien Covid-19 varian B.1.1.7, sambung Nadia, juga tidak mengalami gejala berat hingga membutuhkan perawatan ICU. Kini, kondisi mereka juga telah dinyatakan sembuh. “Semuanya mengalami gejala ringan dan sedang, dan hanya melakukan isolasi terpusat, di tempat-tempat isolasi. Ada yang dirawat di rumah sakit dengan kondisi ringan sedang, tidak ada kondisi yang cenderung berat bahkan membutuhkan perawatan ICU,” jelasnya.

Nadia juga mengatakan, mutasi virus Corona B.1.1.7 asal Inggris itu lebih menular dari virus Corona yang ada sebelumnya. Namun, mutasi virus Corona asal Inggris itu tidak lebih mematikan. “Kita tahu bahwa dari penelitian di negara lain terkait varian virus Corona B.1.1.7 ini disebutkan lebih cepat menular, namun dia tidak lebih mematikan,” kata Nadia lagi.

Nadia mengatakan, mutasi terjadi pada bagian tanduk atau spike virus yang menyebabkan virus lebih mudah masuk ke sel sasaran, sehingga penularannya akan lebih cepat dibanding varian virus yang lama.

Selain itu, Nadia mengatakan, belum ada penelitian atau bukti ilmiah yang menunjukkan vaksin Covid-19 yang digunakan di berbagai negara, tidak mampu melindungi manusia dari mutasi virus corona B.1.1.7. “Tentunya vaksin yang digunakan dalam upaya melakukan penanggulangan pandemi Covid-19 masih sangat efektif dan tentunya tidak akan berpengaruh terhadap adanya mutasi virus Covid-19 atau B.1.1.7 ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, Nadia meminta masyarakat semakin waspada dan disiplin menerapkan protokol kesehatan, mengingat telah terjadi penambahan kasus Covid-19 dari mutasi virus corona asal Inggris. “Karena dari 2 kasus Covid-19, saat ini sudah bertambah lagi menjadi 4 kasus yang kita temukan, kita imbau masyarakat tetap disiplin protokol kesehatan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, ada penambahan kasus infeksi virus corona asal Inggris, yakni B.1.1.7 di Indonesia. Ia mengatakan, empat kasus Covid-19 tersebut ditemukan di empat provinsi di Indonesia yaitu Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Timur dan Sumatera Utara. “Di Palembang, Sumatera Selatan pada 11 Januari 2021, Kalimantan Selatan 6 Januari, Balikpapan Kalimantan Timur dari 12 Februari dan ada yang keempat itu di Medan Sumatera Utara pada 28 Januari,” ujar Budi dalam konferensi pers Perpanjangan PPKM Mikro secara virtual, Senin (8/3).

Dinas Kesehatan Sumut belum mengetahui pasti varian baru Covid-19 atau B117 di Sumut. Meski begitu, masyarakat diminta jangan panik. “Mungkin saja, tapi sejauh ini belum ada informasi. Namun, masyarakat jangan panik,” kata Kepala Dinas Kesehatan Sumut, dr Alwi Mujahit Hasibuan saat dihubungi via seluler, Senin (8/3) malam.

Kata Alwi, pihaknya akan terus memantau perkembangan varian baru virus Covid-19 itu. Pemantauan dilakukan dengan pengamatan penyakit kepada warga yang terindikasi terinfeksi Covid-19. Jika ada indikasi B117, tentu ada upaya pencegahan yang terukur untuk mengantisipasi penyebaran yang lebih meluas.”Upaya untuk mencegah penyebaran virus corona, ya tetap dengan protokol kesehatan Covid-19. Makanya, masyarakat lebih ketat lagi menerapkan 5 M yaitu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjauhi kerumunan dan membatasi mobilitas,” sebutnya.

Alwi menyebutkan, Virus Corona B117 penularannya lebih cepat dibanding virus corona biasanya. “Varian baru virus corona ini ibarat ‘larinya’ (penularannya) lebih kencang dari biasanya. Tapi, begitupun protokol kesehatan terus dijalankan dan jangan sampai kendor,” pungkas dia.

Senada disampaikan Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Sumut, dr Aris Yudhariansyah. Kata Aris, diingatkan agar masyarakat tetap menjalankan 5 M supaya tidak sampai terpapar virus ini. “Masyarakat tak usah panik. Karena, kalau tetap menerapkan 5M, tidak akan terpapar,” ujarnya.

Disinggung soal antisipasi yang mungkin bakal dilakukan oleh Satgas, Aris mengaku tidak ada hal yang berbeda dari penanganan Covid-19 yang telah dilakukan. Pada hakikatnya, virus B117 asal Inggris ini gejala yang ditimbulkannya tidak lebih berat dari SARS-CoV-2 (Covid-19). “Tidak lebih berat, hanya saja penyebarannya lebih cepat,” ungkap Aris.

Dia juga mengatakan, apabila Covid-19 perbandingan penyebarannya adalah 1:3 maka B117 adalah 1:5. Namun, meski B117 tidak lebih berat dari Covid-19, hal ini tetap perlu diwaspadai, karena juga dapat berisiko bagi kematian. “Maka, untuk mencegahnya terapkan 5 M dengan baik dan benar,” tandasnya. (int/fabe)

USI