News

Sepekan Pasca Gas Beracun PT SMGP, Lima Tewas: Berikut Cerita 4 Korban Selamat

FaseBerita.ID – Sepekan pasca peristiwa gas beracun PT SMGP di Sibanggor Julu, Mandailing Natal (Madina), yang menyebabkan lima orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka, masih menyisakan trauma dan kerugian bagi warga di sana.

Sedikitnya, ada empat korban selamat yang menceritakan kesedihan masing-masing kepada awak koran ini. Mereka adalah; Haidar, Zulhamdi, Hambali dan Muhammad Solih Nasution. Berikut penuturan mereka.

Senin (25/1) tengah hari itu, Haidar gembira memulai masa panen tanaman cabai yang ia semai 3 bulan silam, di kebun yang berada di desanya, Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Marapi. Desing suara seperti jet terdengarnya, menandakan gas telah dilepas. Dan tiba-tiba, pria berusia 40 Tahun itu sesak dengan mata yang terasa perih, lalu tak sadarkan diri di parit antara batang-batang cabai berbaris empat bedengan miliknya, saat akan mencuci muka.

Baca juga:

9 Orang Diperiksa Terkait Kebocoran Gas di Madina

Beberapa saat kemudian ia siuman. suara rintihan dan pekik teriakan minta tolong lamat-lamat terdengarnya dari balik pepohonan karet yang persis berada di persawahan seberang. Dengan nafas setengah Haidar bangkit, berlari, melihat tubuh bergelimpang di tengah persawahan. Haidar semakin kalut berlari mengitari pematang sawah yang kemudian mengarah ke jalan sekaligus jalur pipa yang terhubung ke Wellpad (Sumur Galian) Tango milik Sorik Marapi Geothermal Power, perusahaan pembangkit listrik panas bumi di desa yang berada di pundak gunung api aktif; Sorik Marapi itu.

Saat mencapai pos pengamanan perusahaan multi nasional itu. Ia sadar. Ayahnya juga berada di kebun, lantas berusaha kembali lagi. Dan pingsan juga di pos itu. Saat siuman lagi, di antara keriuhan warga yang datang ke lokasi Wellpad meminta agar pelepasan gas segera ditutup oleh pekerja. Haidar sedikit merasa lega, menyaksikan ayahnya juga baru kembali dari kebun.

Suasana masih begitu panik, kacau, penuh amarah. Haidar yang merasa tak karauan, dengan nafas yang masih tersengal malah balik ke rumah. Lantas kembali tak sadarkan diri di sana. Hingga terakhir ia membuka mata telah berada di Rumah Sakit Umum Panyabungan, dengan hidung terpasang selang oksigen.

Baca juga:

Gas Beracun di Madina: Warga Menduga Keteledoran Pekerja

“Gas yang keluar itu ada tiga macam. Yang satu putih kehitam-hitaman, putih, dan putih bening (seperti semprotan air). Putih bening ini yang terbang merendah, dibawa angin, itu terlihat menggumpal. Jadi pas terhirup itu, nafas terasa tertahan di kerongkongan, perut seperti dipompa angin,” cerita Haidar.

Sepekan berlalu. Minggu (31/1) petang. Haidar memberanikan diri menemani kami menunjukkan lokasi peristiwa itu, serta posisinya saat pertama tak sadarkan diri. Meski masih trauma, ia meringankan langkah untuk menunjukkan kondisi tanam-tanaman yang banyak rusak dengan sebahagian dedaunannya mengeriput masak, diduga akibat gas beracun itu. Termasuk sebagian dari kebun cabainya yang berjumlah sebanyak 4.700 batang itu.

Bersama Haidar,ada Zulhamdi (31). Zulhamdi turut serta di persawahan melakukan evakuasi tubuh para korban yang terserak di sana. Ia merinci beberapa lokasi korban. Jarak sekitar 200 meter ke barat daya Wellpad, ada tubuh Dahni. Di tenggaranya tepat di bawah pohon enau, ada dangau di mana Yusniar (2.5) dan Kayla Zahra (4.5).

Dan ke bawahnya dekat sungai kecil, ada tubuh Suratmi dan anaknya Syahrini. Itu posisi lima korban meninggal dunia. Sementara korban yang pingsan menyebar di atas persawahan.

Baca juga:

Aktivis Lingkungan Soroti Peristiwa Keracunan H2S dari Wellpad PT SMGP

Posisi persawahan ini sendiri berada lebih tinggi daripada Wellpad penyebar gas beracun itu. Dipisah pagar besi. Namun dari arah sawah, jelas terlihat kondisi dan aktivitas di dalam lingkungan Wellpad.

Tepat di batas itu tanah milik keluarga Zulhamdi. Dan ibunya saat itu juga menjadi korban, dan harus dirawat.
“Itu kerukannya, masih tanah kami. Belum ada ganti ruginya sampai sekarang ini,” kata Zulhamdi.

Berada di kawasan ini, kami diminta warga untuk mengenakan masker. Dalam gambar mereka, zat yang telah membunuh lima warga itu masih aktif, seperti embun melekat di dedaunan. Bahkan Zulhamdi, Solih Tanjung dan Haidar yang masih trauma itu melapisi masker mereka dengan kain sarung. Belakangan, sekembalinya dari kebun.

Haidar kembali merasakan sesak di pernafasan. Selama rawat jalan ini kata dia, ia terbiasa merasakan itu, termasuk yang masih tertinggal sampai hari ini yakni sakit di kepala, diare dan tekanan darah yang tidak normal.

Horor Gas Yang Bikin Trauma

Suara desing menggema yang keluar saat pelepasan gas dari Wellpad, masih terngiang di telinga Hambali (40). Hari nahas itu, ia yang hanya bekerja bangunan di rumahnya, dan tak menyadari ada malapetaka di sepanjang persawahan di mana istri dan dua anaknya ada di sana.

Baca juga:

Warga Sekitar Sumur PT SMGP Mengungsi ke Masjid

Warga tiba-tiba gempar. Ada yang berlari dari arah persawahan, dan ada pula yang berlari ke arah sebaliknya. Menyusul di Masjid Nurul Iman Sibanggor Julu, tersiar pengumuman ada banyak warga yang pingsan di persawahan. Hambali pun berlari, ke sana mencari sang istri dan dua anak serta keluarganya yang lain.

Hambali bergetar menahan tangis, berbagi cerita perihal peristiwa gas beracun yang telah membunuh buah hatinya, Kayla Zahra, yang belum genap lima tahun itu, pada Senin (25/1) siang itu. Ia melihat jelas, anaknya Kayla Zahra dan Fadillah (9) yang mengenakan pakaian bermotif sama, tergeletak di dangau sawah itu. Di sudut dangau beratap ijuk tersebut, pun ada istri dari adiknya, Fatimah yang juga tergelatak tak sadar memangku tubuh Yusniar (2.5) yang belakangan disadari telah meninggal dunia. Balita yang lain dari pasangan Aswan dan Fatimah ada Ahmad Zaki berusia 1 tahun enam bulan di bawah dangau.

“Kalau saja terlambat sedikit, anakku si Fadillah juga sudah lewat (meninggal), itu kata dokter ke saya kemarin,” kata ayah 7 anak itu, parau.

Bertambah Lima Korban Dirawat, Gejala Dirasakan Belakangan

Kepala Desa Sibanggor Julu Awaluddin, Minggu (31/1) kemarin menyebut, ada lima korban lain yang dirawat ke Rumah Sakit Umum Panyabungan setelah merasakan gejala mual dan sesak. Lima korban itu berada di lokasi cukup jauh dari cakupan gas, namun baru belakangan merasakannya.

Hal demikian juga sudah terjadi terhadap bayinya Muhammad Solih Nasution pada malam sehari peristiwa itu. Diceritakannya, putrinya Riyadatul Jannah yang berusia satu tahun sembilan bulan itu, seharian berada di rumah bersama sang istri.

Baca juga:

Operasional Wellpad PT SGMP Timbulkan Suara Bising.. Warga: Harus Minggat, Biar Tenang!

Namun pada saat peristiwa malang itu, Solih ke sawah menolong dan mengevakuasi beberapa korban dari sana.

Saat itu ia memundak beberapa tubuh membawanya ke desa, selanjutnya dibawa ambulans ke Rumah Sakit.

“Awalnya aku juga udah sadar, kalau ku angkat dari depan, nanti terhirupku aku kenak juga. Jadi ku pundaki mengevakuasinya. Pas pulang, aku gak sadar kan, anakku ini bagaimana lah anak kecil, manggil ayah, langsung ku sambut menggendongnya, mungkin ada menempel di pundakku dan terhirupnya lalu tengah malamnya mulai sesak,” ceritanya.

Karena itu pula, ia pun masih ragu jika harus berusaha ke kawasan yang terinfeksi gas beracun itu. Dan ia juga sempat melarang kami untuk melihat lokasi.

Baca juga:

Demo, Mahasiswa Ancam Bakar Kantor SMGP

Dari beberapa korban, yang paling disesalkan mereka di antaranya tidak ada informasi pelepasan gas itu. Kemudian keteledoran SOP perusahaan itu dengan tidak adanya prediksi angin.

“Kalau memang sesuai SOP, kenapa tidak ada bendera arah angin. Tidak ada juga pemberitahuan. Kalau pun ada itu pengumuman di Masjid biasanya, ini malah pengumuman pertolongan,” sesal Hambali, dan disambut Haidar dan Solih Tanjung.

Tentang dugaan-dugaan warga ini, Kapolres Madina AKBP Horas Tua Silalahi menyebut, saat ini masih dalam penyelidikan. Dan untuk tersangka dalam peristiwa ini belum ada sebelum rangkaian pemeriksaan dan penyidikan tuntas.

“Belum, belum. Penyelidikannya kan masih berlangsung, kita tunggu aja nanti selesai semua juga kita umumkan,” katanya usai memfasilitasi pembagian bingkisan bahan kebutuhan pokok sebanyak 450 paket kepada warga Sibanggor Julu dari SMGP.

Baca juga:

Manajemen PT SMGP Prihatin dan Menyesal

Di sisi lain, Eddiyanto selaku Kepala Teknik Panas Bumi PT Sorik Marapi Geothermal Power (PT SMGP) mengatakan, perusahaan akan bertanggung jawab dan berkomitmen untuk memastikan penyelesaian masalah-masalah yang timbul imbas dari malapetaka gas beracun itu.

Ia pun merinci pemulihan kesehatan bagi warga Desa Sibanggor Julu yang terkena dampak musibah tersebut dengan perincian data per tanggal 30 Januari 2021 yaitu dari 35 korban rawat inap, masih ada 5 orang dalam perawatan di Rumah Sakit dan selebihnya sudah diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan.

“Untuk hal ini perusahaan terus berkoordinasi dengan pihak Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten,” katanya dalam rilis pers yang diterima. (san/fabe)

USI