News

Sengketa Lahan Gerhan Berlanjut di PN Tanjungbalai

FaseBerita.ID – Gugatan PT Sumber Sawit Makmur (SSM) soal sengketa lahan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) atau biasa disebut GERHAN yang diklaim masuk dalam HGU PT SSM dengan Kelompok Tani (Koptan) Pasada Lestari Desa Aek Nagali, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, berlanjut di Pengadilan Negeri Tanjungbalai, Selasa (14/7).

Sidang ini beragendakan mendengar keterangan saksi dari penggugat “Gugatan PT SSM terhadap Kelompok Tani Pasada Lestari, hari ini agendanya mendengarkan keterangan saksi-saksi yang dihadirkan oleh penggugat PT.SSM,” kata Majelis Hakim yang diketuai Salomo.

Dari pantauan wartawan, saksi pertama dari dua saksi yang dihadirkan pihak penggugat yakni Yahbin Sirait warga Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, dalam persidangan mengatakan pada kegiatan GERHAN di Desa Gunung Berkat hanya ada dua kelompok tani pendamping dalam kegiatan GERHAN tahun 2003/ 2004 yaitu Koptan Maraja Lestari dan Koptan Lobu. Yahbin Sirait sendiri merupakan Ketua dari Koptan Maraja Lestari.

Dikatakan Yahbin bahwa kegiatan yang dilaksanakan tahun 2003 dan 2004 yakni menanami bibit pohon Mahoni, Jengkol, Durian dan Pete dilokasi hutan rakyat (HR) yang berada di Desa Gunung Berkat.

Dirinya juga mengaku mengenal Baharuddin Butar-Butar yang merupakan pembina dari Koptan Pasada Lestari
Desa Aek Nagali saat ikut mendampingi Dinas Kehutanan Kabupaten Asahan melakukan monitoring dalam kegiatan GERHAN tahun 2003 dan 2004.

“Saya kenal dengan Baharuddin Butar-Butar ketika mendampingi Dinas Kehutanan Kabupaten Asahan, namun dirinya sama sekali tidak mengetahui ada kegiatan GERHAN yang dijalankan oleh Baharuddin sebagai pembina kelompok tani ditahun 2006 s/d 2008,” ujarnya kepada majelis hakim.

Kemudian saat disinggung mengenai objek yang menjadi perkara dalam persidangan dirinya sama sekali tidak mengetahuinya.

Sementara Jamil Siagian saksi kedua yang dihadirkan pihak penggugat merupakan Ketua Koptan Jagawana Lestari juga merangkap tenaga honorer Dinas Kehutanan Kabupaten Asahan. Dalam persidangan, Jamil menjelaskan bahwa dirinya bersama 29 anggota kelompok tani lainnya ikut dalam kegiatan GERHAN tahun 2003 s/d 2004 menanami bibit mahoni, durian, pete dan jengkol di lokasi hutan lindung (HL) Desa Huta Rao.

Jamil juga menyebutkan selain ikut dalam kegiatan GERHAN bersama kelompok tani, dirinya juga ikut serta melakukan pengukuran yang menjadi batas antara Hutan Lindung dengan HGU Perusahaan sepanjang 200 meter dihadiri Dinas Kehutanan setempat. Ketika disinggung apa itu Hutan Lindung dan Hutan Rakyat dirinya sama sekali tidak memahaminya.

“Entah itu Hutan Lindung dan entah itu Hutan Rakyat saya tidak paham dan tidak mengerti, keberadaan Koptan Jagawana Lestari di Hutan Lindung Desa Hutarao memborong penanaman bibit pohon Mahoni dan bibit lainnya,” terang Jamil.

Sebagai informasi dalam perkara tersebut penggugat (PT.SSM-red) melalui kuasa hukumnya melakukan gugatan ke Pengadilan Negeri Tanjungbalai. Gugatan dilayangkan sebagian areal HGU perkebunan mereka seluas 199.56 hektar diklaim Kelompok Tani Pasada Lestari masuk dalam lahan GERHAN tahun 2006 yang berada dalam kawasan Hutan Lindung Tormatutung Desa Aek Nagali.

Untuk itu, karena merasa dirugikan oleh kelompok tani terhadap areal yang mereka usahai dan kuasai tersebut maka PT. SSM melakukan gugatan ke Pengadilan Negeri Tanjungbalai.

Dari sidang tersebut, pihak Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai memutuskan akan melanjutkan persidangan pada pekan depan dari sidang yang berlangsung dengan meminta pihak Koptan Pasada Lestari untuk menghadirkan saksi-saksi nya. (bay/rah)