News

Selisih Rp410 Juta di Kas ATM BRI, Karyawan Dipukul Berujung ke Polisi

FaseBerita.ID – Uang dari anjungan tunai mandiri (ATM) Bank BRI cabang Sibuhuan terjadi selisih kas. Diperkirakan ada sebesar Rp410 juta selisih yang terdeteksi kantor BRI Pusat, terhitung sejak November 2019 hingga April 2020 lalu.

Dampaknya, salah seorang karyawan (outsourching, red) IT, yang bertugas di bidang ATM ini tertuduh sebagai dalang hilangnya uang ratusan juta tersebut. Bahkan, terjadi pemukulan hingga karyawan IT mengalami luka di pelipis.

M Dirham Hasibuan karyawan IT yang mengaku dianiaya didampingi pengacara Donna Siregar SH dan Fauzan Daulay SH menceritakan kronologis selisih kas hingga pemukulan tersebut.

Diperkirakan, seminggu sebelum puasa, ada selisih kas di beberapa ATM, BRI cabang Sibuhuan. Lalu, bulan Mei, Dirham yang sudah bekerja lima tahun di BRI ini, dipanggil dan diperiksa secara internal.

“Pada tanggal 8/05/2020 saya diperiksa di ruang rapat lantai 3 BRI kantor Cabang Sibuhuan oleh beberapa orang kantor cabang, termasuk Pinca (pimpinan cabang, red). Hanya sebatas menanyakan tentang perbaikan,” kata Dirham merunut kejadian itu.

Kemudian, lanjut Dirham dua minggu berikutnya, pemeriksaan internal itu kembali dilakukan. Di situ Dirham merasa ditekan, dan dipaksa mengakui yang mengambil uang secara kumulatif.

“Pemeriksaan dilanjutkan pada tanggal 22/05/2020 sampai pada akhirnya saya ditekan untuk mengakui kerugian tersebut. Dan saya dipaksa membuat surat pernyataan pengakuan sebesar Rp50 juta,” terang Dirham.

Kemudian, 27/05/2020 pemeriksaan dilanjutkan mulai jam 4 sore, oleh tim pemeriksa intern BRI di ruang rapat lantai 3. Yang terdiri dari tim periksa ada 9 dan saksi ada 14 orang.

Saat pemeriksaan ketiga ini, sebut Dirham diperiksa dengan cara dibentak-bentak, dan mengancam. Bahkan sempat keluar pernyataan Pinca BRI cabang Sibuhuan, Heldin Suranta Tarigan, dengan nada ancaman. “Sampai keluar kata-kata pemimpin cabang, tidak bertanggung jawab hidup mati saya,” ujarnya.

Pemeriksaan dari sore hingga tengah malam itu pun berujung pemukulan. Dan mengakibatkan pelipis M Dirham memar, berdarah.

“Sekitar pukul 23.30 WIB, atas nama Hermanto memukul saya pakai kepalan tangan, sampai berdarah. Kemudian saya diantar pulang menggunakan mobil kantor. Dan ditolak (dorong-dorong, red) oleh satpam masuk ke mobil. Bahkan keesokan harinya ada tiga satpam datang ke rumah saya, menggedor-gedor pintu dan jendela. Layaknya saya dibuat seperti kriminal,” tandas Dirham dan pengacaranya Donna Siregar SH dan Fauzan Daulay SH.

Menindaklanjuti itu, M Dirham bersama pengacara sudah membuat laporan ke Polres Palas. Berharap kasus raibnya ratusan juta yang dituduhkan sepihak oleh pihak Bank terhadap M Dirham hingga berujung penganiayaan ini, diproses secara hukum.

Sementara Pinca BRI Sibuhuan Heldin Suranta Tarigan membantah segala tudingan, dan telah menekan karyawan Outsourching itu. Malah sebaliknya, beberapa kali ditanyai, karyawan tersebut mengakui telah mengambil uang, di dua ATM berbeda. Dan tanpa paksaan membuat surat pernyataan, terkait pengakuan telah mengambil uang di ATM.

Dalam pengakuan M Dirham Hasibuan, kata Pinca ini, mengambil berkisar Rp50 juta. “Rp40 juta di ATM yang di PT KAS, Rp 10 juta di ATM Cabang,” kata Heldin.

Dan diakui Heldin, selisih Kas ATM ini awalnya diketahui kantor pusat. Selama ini tidak terdeteksi, karena sejumlah ATM tersebut rusak. Begitu diperbaiki, ATM langsung koneksi ke pusat. Dan baru ketahui April lalu. Untuk selanjutnya, persoalan ini diserahkan ke pimpinan cabang untuk menyelidikinya.

“Dan dari CCTV yang ada, mengarah ke dia (M Dirham Hasibuan, red). Terlihat membongkar ATM. Dan dia mengaku mengambil berkisar Rp50 juta. Makanya ada beberapa kali pemeriksaan. Kita sudah kooperatif menyelesaikan ini, dan malah sudah kita serahkan ke kepolisian,” jelas Heldin.

Terkait pemukulan, Pinca mengaku itu di luar ketentuan manajemen. Pihaknya sendiri tidak ada mengetahui kejadian pemukulan itu.

“Dan mungkin ini emosinya (oknum pemukul) karena itu kan pimpinannya yang menangani Kas ATM ini. Kesalahpahaman, makanya mungkin emosi pimpinan yang membidangi itu. Merasa dibodoh-bodohi sama anggotanya ini. Ini juga pemutar balikan fakta,” beber Heldin Suranta Tarigan. (tan)