News

Satpol PP Tapteng Gelar Razia: 6 Wanita Tukang Pijat Diamankan

TAPTENG, FaseBerita.ID – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) bersama Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dinas Dukcapil) Tapteng menggelar razia salon pijat di Kecamatan Pandan dan Kecamatan Sarudik. Hasilnya 6 wanita pun terjaring.

Kepala Satpol PP Tapteng Jontriman Sitinjak mengatakan, dari hasil razia yang digelar pada Senin (5/8/2019) lalu, pihaknya mengamankan 6 wanita yang berprofesi sebagai tukang pijat refleksi yang diduga juga menyediakan jasa ‘plus-plus’.

“Setelah diperiksa, identitas tiga di antaranya memiliki KTP-el dan berdomisili di luar Kabupaten Tapanuli Tengah. Sementara tiga lainnya tidak memilih KTP-el,” ujar Jontriman.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah, lanjut Jontriman, terhadap 6 wanita yang diamankan pihaknya itu, dilakukan tes HIV/AIDS namun tidak ada yang terindikasi. Namun begitu, seorang di antaranya positif narkoba.

“Hasilnya tidak ada yang terindikasi virus HIV/AIDS atau negatif. Satu orang dari 6 wanita yang terjaring razia itu positif memakai narkoba jenis sabu-sabu,” tuturnya.

Lebih lanjut dikatakan Kabid Satpol PP Tapteng Panuturi Simatupang, sesuai pengakuan 4 wanita dki antaranya, mereka bekerja di Salon T dan ada pijat ‘plus-plusnya’. “Untuk itu, kita berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan instansi terkait atas tindak lanjut hasil razia ini,” katanya.

Sementara Kadis Sosial Tapteng Parulian Panggabean saat dikonfirmasi terkait hal itu, menuturkan akan memberikan waktu selama 2 hari untuk keenam wanita tersebut guna melengkapi identitas mereka sembari dilakukan pembinaan. “Kalau mereka tidak memenuhi persyaratan dalam dua hari ini, kita akan kirim semua ke Unit Pelayanan Sosial Wanita Tunasusila dan Tuna Laras di Brastagi, Dinas Provinsi Sumut,” kata Parulian, Selasa (6/8).

Dijelaskan, identitas yang dimaksud yaitu adanya keluarga yang bersangkutan untuk melakukan pembinaan selanjutnya. Dan bila tidak, maka pihaknya yang akan mengambil alih pembinaan lanjutan.

“Akan dikembalikan kepada keluarga untuk dibina, jadi peran pemerintah di sini, apabila tidak ada keluarga yang mampu membina, maka itulah yang dibina pemerintah dengan mengirimkannya ke parawasa,” ucapnya.

“Dengan catatan, yang boleh datang menjemput mereka harus orang tua dan saudara kandung serta menunjukkan identitas diri seperti KTP dan KK selaku keluarga yang bersangkutan, karena mereka dari luar Tapanuli Tengah semua,” tegasnya.

Sementara untuk seorang yang diduga terindikasi mengkonsumsi narkoba tidak akan dikirim ke BNN dikarenakan salah diagnosa. “Salah diagnosa, kebetulan dia baru minum obat karena menderita sakit teroid,” tutupnya. (dh)

iklan usi