News

Rumah Orangtua UH di Siantar Digeledah Pakai Anjing Pelacak

SIANTAR, FaseBerita.ID-Penangkapan UH, yang disebut-sebut terlibat kasus penyalahgunaan narkoba, mendapat protes keras dari pihak keluarga. Bukan soal penangkapan UH, namun lebih kepada penggeledahan yang dilakukan di rumah orangtuanya di Jalan Handayani Kelurahan Bah Kapul, Kecamatan Siantar Sitalasari, Kota Pematangsiantar.

Sebab polisi menggeledah rumah tersebut dengan membawa anjing pelacak. Masuk ke seluruh ruangan yang ada di dalam rumah, termasuk ruangan sholat.

“Itu kan tidak sesuai prosedur, menyalahi aturan, dan melanggar norma agama,” kata perwakilan keluarga UH, yakni PH, kepada sejumlah wartawan, Minggu (25/7) siang.

Menurut PH, aksi penggeledahan di rumah tersebut sudah dua kali dilakukan pihak kepolisian. Namun sejauh ini polisi tidak ada ditemukan barang bukti narkoba di rumah tersebut. Terakhir, penggeledahan dilakukan Jumat (23/7) sekira pukul 17.00 WIB. Saat penggeledahan, polisi melibatkan ratusan personel dan dua ekor anjing pelacak.

“Seluruh ruangan dimasuki petugas, termasuk tempat sholat dengan membawa anjing pelacak. Hal ini jelas membuat ketidaknyaman bagi keluarga,” sebut PH.

Diterangkannya, penggeledahan dilakukan karena adanya surat penangkapan terhadap UH yang diduga melakukan pengancaman melalui WhatsApp (WA) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 187 jo Pasal 55, 56, dan Pasal 335 ayat 1 KUHPidana.

Menurut PH, sebenarnya pihak keluarga tidak keberatan saat UH dibawa petugas. Yang mereka sesalkan, proses penggeledahan yang dilakukan pihak kepolisian. Mereka menilai polisi seakan-akan mencurigai di rumah tersebut disimpan atau disembunyikan narkoba.

“Kalau memang melakukan penangkapan, kenapa seluruh isi rumah digeledah? Selain itu, petugas juga tidak ada menunjukan surat untuk melakukan penggeledahan. Ini jelas mengangkangi Hak Asasi Manusia (HAM). Seharusnya polisi bersikap profesional dan jangan dipaksakan,” tukasnya.

Lebih lanjut PH mengatakan, pihak keluarga keberatan dengan adanya tudingan UH sebagai bandar narkoba. Menurutnya, sebelumnya Kamis (24/6) lalu UH dibawa polisi karena terbukti positif mengonsumsi narkoba jenis ganja. Namun kemudian, UH dilepaskan dengan alasan belum cukup bukti untuk dijadikan tersangka tindak pidana narkotika. Selanjutnya UH menjalani rehabilitasi rawat inap medis sosial.

“Surat perintah pelepasan tangkapan Nomor: SP.Sidik/289-A/VI/2021/Dirnakorba itu ditandatangani Direktur Reserse Narkoba Poldasu, Kombes Pol C Wisnu Adji,” terang PH.

Sebelumnya, lanjut PH, ada surat dari Dirnakorba Poldasu kepada Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sumatera Utara tertanggal 25 Juni 2021 untuk dilakukan assessmen medis kepada UH. Surat itu dibalas BNN Sumut yang menjelaskan telah dilakukan assessmen medis terhadap UH dan terindikasi menyalahgunakan ganja. Sehingga dilanjutkan untuk mengikuti program rehabilitasi rawat inap.

Kemudian, Dirnarkoba Poldasu menyurati Kepala Loka Rehabilitasi BNN Deliserdang tertanggal 29 Juni 2021 agar dilakukan rehabilitasi medis terhadap UH. Dalam surat itu juga dijelaskan, saat dilakukan penangkapan tidak ditemukan barang bukti narkotika dari UH, namun dilakukan pemeriksaan tes urine dan hasilnya positif mengandung THC atau mengonsumsi ganja.

“UH pun menjalani rehabilitasi medis di Loka Rehabilitasi BNN Deliserdang. Hingga kemudian dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang atas permintaan keluarga. Selain itu, berdasarkan surat keterangan dokter tertanggal 21 Juli 2021, tes urine UH negatif menggunakan narkoba,” jelas PH.

Terkait peristiwa ini, PH menyatakan, pihak keluarga menghormati proses hukum yang dijalani UH saat ini terkait dugaan melakukan pengancaman. Namun keluarga meminta agar hal ini jangan dikaitkan dengan narkoba.(awa/fabe)