News

Ribka dan Tiga Adiknya Tak Pernah dapat KIP: Ibu Menderita Gangguan Jiwa

FaseBerita.ID – Derita Ribka Mikalia (11) bersama tiga adiknya Novita Setiawati (10), Johan Ganteng (7) dan Kristina (5) seolah tidak berkesudahan.

Setelah ditinggal pergi ayah mereka Surnaryo (54) untuk selamanya pada Rabu (18/7/2019) lalu, ibu mereka ternyata mengalami gangguan jiwa dan sekarang berada di Lubuk Pakam.

Bahkan, selama ini, meski hidup susah, Ribka bersama ketiga adiknya juga belum pernah mendapat bantuan pemerintah seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) di sekolahnya.

Hal itu dibenarkan Kepala SD Negeri 091444 Resnawati Sidabutar, tempat Ribka dan adiknya sekolah.

“Ribka dan adiknya tidak pernah mendapat bantuan seperti KIP. Saya selalu mengusulkan tapi tidak pernah dapat,” ujarnya.

Namun, selama ini, kata Resnawati, Ribka bersama adiknya mampu mengikuti pelajaran dan termasuk pintar.

“Anak-anak ini bisa mengikuti pelajaran dan termasuk pintar. Pihak sekolah minta sama keluarga besok kami akan datang untuk mengucapkan belasungkawa,” ujarnya.

Hal senada disampaikan L Gultom, Guru adiknya Ribka, Johan Ganteng yang kini duduk Kelas 2 SD. Katanya, Johan mendapat ranking 6. Sementara Ribka mendapat ranking 10 besar.

Diasuh Keluarga Pandapotan Lubis

Untuk sementara hak asuh Ribka bersama tiga adiknya diambil alih tetangga mereka, Pandapotan Lubis.
Hal itu dibenarkan Pandapotan didampingi istrinya Irahayu br Sitinjak.

Mereka mengatakan, pihaknya telah dipercayai keluarga dan Pemkab Simalungun untuk mengasuh Ribka beserta tiga adiknya.

“Keluarga dan pemerintah telah memberikan kuasa hak asuh kepada kami sebagai penanggung jawab mereka. Pemerintah sudah berjanji akan memberikan biaya kebutuhan sehari-hari keempat anak ini sebesar Rp2 juta per bulan,” kata Pandapotan Lubis.

Ribka bersama adiknya sudah sering bermain-main ke rumah Pandapotan semasa Ayah mereka hidup. Bahkan, kalau ayah mereka telat pulang, keempatnya makan di rumah Pandapotan.

“Kalau Bapaknya terlalu sore pulang, kadang mereka makan di rumah kami. Kalau ibu Ribka masih hidup. Sekarang ada di Lubuk Pakam. Tapi masih sakit. Dia mengalami gangguan kejiwaan,” bebernya.

Soal hak asuh sementara ini dibenarkan Camat Dolok Panribuan Bangun Sihombing. Ia mengatakan, rencananya, Minggu depan keluarga dari Ibu Ribka (tulang/abang kandung ibu Ribka, red) akan datang ke Tiga Dolok.

Kedatangan mereka untuk membahas hak asuh Ribka bersama ketiga adiknya.

“Katanya Tulang si Ribka mau datang hari Minggu ke rumah Pandapotan Lubis. Mereka mau membahas hak asuh Ribka dan adik-adiknya. Namun untuk sementara hak asuh diambil alih keluarga Pandapotan Lubis bersama istrinya. Karena si Lubis ini tetangga si Ribka di Tiga Dolok,” ujar Camat.

Untuk diketahui, Rabu (17/7/2019) lalu Ayah Ribka, Surnaryo dikebumikan di Huta 4, Nagori Padang Maino, Kecamatan Dolok Batunanggar, Kabupaten Simalungun. Almarhum dimakamkan secara muslim. Ribka bersama adiknya juga ikut mengantarkan ayah mereka untuk terakhir kalinya.

Usai dikebumikan, Ribka bersama adiknya kembali ke Tiga Dolok bersama Pandapotan Lubis.

Sebelumnya, Ayah Ribka meninggal dunia di RSUD Rondahaim Saragih, Rabu (17/7/2019) sekira pukul 00.05 WIB. Kepergian almarhum membuat Ribka sempat histeris begitu tahu ayahnya sudah meninggal.

Tidak banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ribka hanya bisa menangis melihat jenazah ayahnya yang sudah terbujur kaku. Sesekali ia peluk tubuh orang yang sangat ia sayangi itu. Beban seberat itu ia tanggung sendiri.

Kesedihan Ribka semakin dalam karena sampai saat ini ia tidak tahu dimana keberadaan ibunya Imelda Enawati br Hutabarat. Dua tahun belakangan, mereka hilang komunikasi.

Selama ini, ia bersama ketiga adiknya Novita Setiawati (10), Johan Ganteng (7), Kristina (5) tinggal bersama almarhum. Jadi selama ayahnya sakit, Ribka hanya seorang diri mendampingi almarhum.

“Aku sendirian jaga bapakku sakit. Kalau infusnya habis kukasih tau sama perawat. Kalau adekku ada tiga. Tidur di rumah tetangga marga Lubis. Kalau Mamakku Imelda Enawati boru Hutabarat sudah lari nggak tahu kemana. Sudah dua tahun kami ditinggal. Nggak tahu gara-gara apa,” ujar Ribka polos.

Ribka juga mengatakan, kalau ayahnya Surnaryo mengalami cacat sejak lahir pada bagian tangan di sebelah kanan. Masuk rumah sakit gegara batuk-batuk, tumbang lalu pingsan.

“Bapakku kerjanya servis TV di rumah orang. Dia dibawa kemari karena pingsan. Awalnya Bapak batuk-batuk. Sejak ia pingsan kami pergi ke puskesmas, baru ke RS Harapan Siantar tapi ditolak gara-gara nggak ada identitas KTP bapak,” ujarnya lalu menangis terisak.

Dia juga menceritakan seperti apa sakit yang diderita ayahnya selama ini. “Bapak bilang, kalau sudah tua batuk-batuk. Dadanya terasa sakit kalau batuk. Setahuku bapak sakit lambung dan paru-paru,” ucapnya.

Dia kemudian menceritakan kisah kehidupannya selama ini. Sejak ditinggal ibu, dialah yang mengambil alih pekerjaan di rumah setiap hari. Pagi hari ia harus bangun cepat untuk memasak nasi buat bapak dan ketiga adiknya, sebelum dia pergi sekolah.

“Aku bangunnya cepat-cepat. Biar bisa masak. Kalau bapak kerja, kami makan di rumah tetangga marga Lubis,” katanya.

Ribka juga mengakui kalau bapaknya (Surnaryo) menganut agama Islam. Tetapi ia beserta tiga adeknya beragama Kristen. “Bapakku Jawa. Dia muslim. Tapi aku sama tiga adekku Kristen,” ungkapnya.

Sakit Stroke Iskemik

Pegawai RSUD Tuan Rondahaim Saragih kepada wartawan mengatakan, Surnaryo meninggal dunia pada Rabu (17/7/2019) sekira pukul 00.05 WIB, karena mengalami penyakit Stroke Iskemik. (tom/ari/des)

iklan usi