News

Puang Sorma Ditampilkan Pada Pesta Rondang Bittang Sidamanik

SIDAMANIK – Film pendek dan pertunjukan teater legenda Puang Sorma akan mengisi acara Festival Rondang Bittang(PRB) , yang digelar 27-28 Juli 2019 di Kampung Budaya Op. Tuan Djorhatim Damanik, Kelurahan Sarimatondang, Kecamatan Sidamanik, Simalungun.

“Kami merintis tor- tor, teater dan film sebagai media ekspresi tradisi Simalungun agar lestari juga semakin banyak dikenal generasi milenial” kata Sultan Saragih.

Pimpinan Rumah Produksi Sanggar Budaya Rayantara ini mengatakan, legenda Puang Sorma mengisahkan putri kerajaan Siantar yang cantik jelita kemudian berubah menjadi ular. Kemudian penduduk kerajaan nya memberi gelar Puang Sorma setelah melihat cahaya dan penampakannya di Bah Sorma, tepatnya saat ini di Kelurahan Pamatang, Kota Siantar.

Selain legenda Puang Sorma, PRB juga akan diisi acara budaya masyarakat Simalungun dalam keseharian.
Seperti marsuan, manabi, mamurpur, mardogei, maranggir, manggalang, pembuatan tipa tipa, dayok na binatur, nittak, tor tor, dan pencak tradisional sebagai ucapan syukur panen padi.

Penutur Opung Raminah Garingging bersama sutradara Sultan Saragih sebelum melaksanakan latihan, sudah terlebih dahulu ziarah ke mata air panakboru di tepian Bah Bolon , Pamatang (belakang kolam renang Setia) eks pusat kerajaan Siantar. Legenda Panakboru Anggarainim boru Damanik ini mendapat perspektif baru sebagai pesan kesadaran lingkungan , menjaga kebersihan dan kejernihan air sebab telah memberi dan memenuhi banyak untuk kebutuhan manusia , timbal balik penghargaan kita kepada alam.

Berbagai berita buruk muncul melihat kondisi wisata Simalungun , banyak pengunjung wisata di berbagai lokasi sangat kecewa dengan banyak nya sampah berserakan di lokasi wisata. Kita bercermin dari pertunjukan teater, panakboru Anggarainim Damanik bagian dari kita walau sudah berubah memasuki dimensi astral yang berbeda, tetapi mata air sebagai “jembatan jiwa” harus selalu terawat bersih dan jernih, menghormati alam, menjadi bagian tak terpisahkan dari diri sendiri, bekerja sama menjaga keseimbangan ekosistem.

Adaptasi tradisi Simalungun kepada minat generasi milenial , Sanggar Budaya Rayantara melibatkan Reach Fahreza dari Sisi Lensa dalam pembuatan film pendek guna mendapatkan kemasan sinematografis. Kolaborasi jejaring budaya ini akan menambah nuansa dan warna baru sehingga pesan tradisi yang disampaikan dapat sampai kepada generasi milenial.
Take shooting akan dilaksanakan dua lokasi pada tanggal 7-8 Juli 2019, yakni di mata air Bah Ulu, Mariah Bandar , bekerja sama dengan hasusuran Tuan Jontahali Damanik juga Rumah Adat Desa Gunung Malela bersama hasusuran Tuan Gunung Malela.

Film pendek Puang Sorma ini mendapat sambutan baik dari Plt. Kepala Dinas Pariwisata Kota Pematangsiantar Kusdianto, juga dukungan dari Maruli Damanik PT Lovely Holidays Tours n Travel, serta Sri Steph Salon Jalan Pattimura yang menangani kostum dan tata rias.

Panakboru Anggarainim Damanik diperankan oleh Debora Damanik, sedangkan Raja oleh Willy Girsang dan sebagai Puang Bolon Adelin boru Napitupulu masih duduk di SMK GKPS 3 Pematangsiantar, bersama teman dayang-dayang lainnya Meta Malau, Irma Sinaga, Jesica Purba, Kerina Purba, Graciella Saragi, Tessa Sianipar, Cindy Purba, Kharisma Sipayung, Veronika. Guru Bolon dilakonkan oleh Roresky Sianipar (SMK 1 Siantar), remaja milenial yang sudah intens mendapat pembelajaran tor tor dan seni tradisi.

Jumlah pemain dan crew sebanyak 25 orang, Andrew Silalahi penata musik dan sound efect dengan pemeran tambahan Damar Laut Purba utusan Kerajaan Purba Pakpak, masih garis keturunan Raja Attian Purba Pakpak, hal ini seperti mengulangi kejadian 400 tahun silam ketika raja Siantar pertama, Opung Datu Parmata Manunggal dikunjungi pinangan kerajaan luar.

Harapan dari terbitnya film pendek dan pertunjukan Puang Sorma, generasi milenial dapat membaca zaman, mengingat sejarah, meneruskan dan melestarikan tradisi serta menjaga kearifan lokal , memberi muatan dan tafsir baru dari kaum leluhur dalam konteks kekinian.(rel/esa)