News

PTPN 4 Kebun Ajamu Dituding Pecat Karyawan Sepihak

Kasusnya Kini Ditangani PHI

FaseBerita.ID – PT Perkebunan Nusantara 4 (PTPN 4) Kebun Ajamu yang berada di Kecamatan Panai Hulu, Kabupaten Labuhanbatu, dituding memberhentikan karyawannya secara sepihak.

Pasalnya, setelah dikeluarkan surat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari PTPN4 Kebun Ajamu pada tanggal 20 Februari 2019, hingga kini, Erison Sormin (40) warga Dusun ll, Desa Cinta Makmur, Kecamatan Panai Hulu, sama sekali merasa tidak melakukan kesalahan apapun yang mengakibatkan dirinya diberhentikan dari pekerjaan sebagai karyawan bagian verifikasi di perkebunan tersebut, dan Erison Sormin kini masih mencari keadilan.

“Saya tidak tahu kesalahan apa yang telah saya perbuat sehingga saya di PHK oleh perusahaan milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu. Namun, pihak perusahaan mengeluarkan surat PHK dengan alasan saya telah melakukan kesalahan berat di perusahaan tersebut. Saya merasa dipecat secara sepihak oleh perusahaan,” ungkap Erison yang juga mantan Ketua Serikat Pekerja Buruh Perkebunan (SPBUN) kepada wartawan Kamis (22/8/2019), di Rantauprapat.

Erison menceritakan, dirinya telah bekerja selama 18 tahun 2 bulan sebagai karyawan di PTPN4 Ajamu.

“Sebelumnya, 10 orang buruh harian lepas (BHL) suami istri bersama anak mereka datang menemui saya pada bulan Februari 2019. Mereka mengadukan kepada saya dan minta tolong agar status mereka sebagai BHL ditingkatkan menjadi karyawan, karena mereka sudah bekerja selama 10 tahun menjadi BHL di PTPN4 tersebut,” sebutnya.

Kemudian, kata Erison, para BHL bersama LSM Poso Mapala wilayah Pantai demo ke PTPN 4, dan dirinya ikut hadir pada aksi tersebut sebagai Ketua SPBUN dan berniat menjadi mediator.

“Namun, setelah 2 hari pascademo tersebut, saya mendapat surat PHK dari pihak PTPN 4 pada tanggal 20 Februari 2019. Saya dipanggil dan diberikan langsung surat PHK oleh Manager PTPN4 Ajamu Edy Arianto,” jelasnya seraya mengatakan, hanya itu yang terjadi sebelum pemecatan.

Sewaktu di ruangan manager, sambung Erison, dia diminta jangan membaca terlebih dahulu surat PHK yang diberikannya sebelum keluar ruangan kantor.

“Jangan dibaca di ruangan saya. Dibaca di luar saja,” ujar Erison menirukan perkataan Manager PTPN4 Ajamu tersebut.

Atas hal ini, Erison membuat pengaduan ke Dinas Ketenagakerjaan Disnaker Kabupaten Labuhanbatu. Setelah dilakukan mediasi, akhirnya dirinya ditawarkan dua pilihan.

Pertama, kata dia, pihak perusahaan menawarkan uang pesangon sebesar Rp58 juta. Sedangkan pilihan kedua, melanjutkan kasus ini ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) Medan, Sumatera Utara.

“Saya memilih untuk melanjutkan kasus ini ke PHI. Saat ini sidang di PHI akan memasuki tahap sidang yang kedua. Karena hal ini, menurut saya sangat bertentangan dengan UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,” tandasnya.

Terpisah, Manager PTPN4 Kebun Ajamu Edy Aarianto belum dapat dikonfirmasi terkait hal tersebut. Meskipun, telah dihubungi melalui seluler pribadinya namun tidak dijawab.

Selain itu, pesan singkat konfirmasi wartawan melalui Whatsapp pribadinya juga telah dilayangkan, namun hingga berita ini diturunkan belum ada balasan.

Sementara, Kadis Ketenagakerjaan Labuhanbatu Elpin Riswan, membenarkan bahwa pihaknya telah melakukan mediasi terhadap kedua belah pihak.

“Benar, kita telah melakukan mediasi antara pihak PTPN4 Kebun Ajamu dengan karyawan Erison Sormin, beberapa waktu lalu. Namun, karyawan memilih melanjutkan kasus tersebut ke PHI Medan, Sumatera Utara,” ujarnya melalui seluler. (bud/ahu)