News

Pra Rekonstruksi Kasus Dugaan Penculikan Batal Digelar

FaseBerita.ID – Pra rekonstruksi kasus dugaan tindak pidana penculikan dan penganiayaan yang dialami Ametro Pandiangan, keponakan dari mantan Bupati Tapteng Raja Bonaran Situmeang yang diduga dilakukan oknum berinisial TS, batal digelar. Pra rekonstruksi yang dijadwalkan berlangsung Sabtu (15/2) lalu dibatalkan.

Keinginan korban agar pra rekonstruksi dilaksanakan di lokasi kejadian yakni di Kelurahan Pargarutan, Kecamatan Sorkam, Tapteng, tidak dipenuhi pihak kepolisian. Dengan alasan keamanan, korps baju coklat ini bersikeras agar pra rekonstruksi dilakukan di pelataran Mapolres Tapanuli Tengah, di Jalan Feisal Tanjung, Pandan.

Amatan awak media, terjadi lempar argumen terkait lokasi pra rekontruksi. Ametro Pandangan melalui kuasa hukumnya menegaskan jika pra rekonstruksi adalah mereview kembali kejadian yang sebenarnya. Dengan pra rekonstruksi tersebut, polisi memiliki gambaran yang jelas bagaimana terjadinya peristiwa pidana tersebut. Oleh karena itu, kuasa hukum Ametro, Devi Anggraini Siahaan, menilai jika pra rekonstruksi seharusnya dilaksanakan di lokasi kejadian yang sesungguhnya.

Walau Devi Anggraini Siahaan menyatakan kesediaannya membuat surat pernyataan sebagai jaminan keamanan pelaksanaan pra rekonstruksi dilaksanakan di lokasi kejadian, namun pihak kepolisian tetap bersikeras pra rekonstruksi dilaksanakan di Mapolres Tapteng.

Karena tidak tercapai kesepakatan, Ametro Pandiangan dan kuasa hukumnya meninggalkan Mapolres Tapteng dengan sedikit raut muka kesal. Devi Anggraini Siahaan tidak habis pikir sejak kapan polisi takut kepada masyarakat.

“Kemungkinan ada ketakutan skenario yang disusun tidak berjalan jika pra rekonstruksi dilakukan di tempat kejadian,” ujar Devi Angraini Siahaan, Sabtu (15/2).

Terpisah, Kapolres Tapteng AKBP Sukamat melalui Paur Humas Polres Tapteng Ipda J Sinurat, membantah jika batalnya pra rekonstruksi dikarenakan alasan keamanan. Dari pesan tertulis yang diterima awak media ini, pelaksanaan pra rekonstruksi tersebut ditunda karena belum lengkapnya dokumen admistrasi sekaligus pemantapan koordinasi.

“Ditunda, untuk kelengkapan administrasi dan koordinasi,” sebut Sinurat, sembari menegaskan jika pra rekonstruksi dilakukan langsung pihak Polda Sumatera Utara.

Sebagaimana diketahui, Ametro Pandiangan melaporkan dugaan penculikan dan penganiayaan terhadap dirinya yang terjadi tanggal 10 Januari 2020 sekira pukul 18.00 WIB. Ametro membuat laporan pengaduan pada 13 Januari 2020, setelah sebelumnya mengambil visum atas luka memar yang dideritanya pada bagian kepala, wajah dan dada.

Ametro mengaku diculik di depan usaha galon pertamini miliknya di Kelurahan Pargarutan, Kecamatan Sorkam, Tapteng. Para pelaku sebanyak 5 orang dengan menggunakan mobil Toyota Avanza warna putih.

Seorang di antara pelaku yang mengaku anggota polisi sekaligus ajudan Bupati Tapteng, sempat menodongkan pistol kepada Ametro. Korban sempat melawan, namun kemudian takut karena ditodong pistol.

Dua jam perjalanan, mobil Avanza yang ditumpangi mereka berhenti di Kelurahan Sarudik, Kecamatan Sarudik, tepat di depan Lucky Cafe atau 11 kilometer dari Mapolres Tapteng. Terduga pelaku memaksa Ametro turun dan menggiringnya ke arah belakang kafe.

Setibanya di belakang Lucky Cafe, Ametro kemudian digeledah sembari disuruh mengeluarkan seluruh isi kantong, termasuk uang. Setelah korban meletakkan seluruh isi kantongnya di tanah, salah seorang pelaku mengambil uang yang tergeletak dan memperlihatkan dua bungkusan kecil berwarna putih. Ametro yang ditanya terkait bungkusan kecil tersebut mengaku tidak tahu menahu dan menyebutkan tidak pernah mengantonginya. Meski diperlakukan kasar, Ametro tetap tidak mengakui bahwa bungkusan kecil itu miliknya.

“Bagaimana saya mau mengaku, merokok saja tidak, apalagi mengkonsumsi narkoba,” papar Ametro, sembari menyebutkan sempat melakukan test urine dilokasi Lucky Cafe, namun hasilnya negatif.

Selanjutnya sekira pukul 23.00 WIB, Ametro dibawa ke Mapolres Tapteng dan diserahkan ke pihak kepolisian. Ametro sempat menjalani pemeriksaan selama dua hari, hingga dilepas pada Minggu, 12 Januari 2020. Saat menjalani pemeriksaan di Mapolres Tapteng, Ametro mengaku diperlakukan dengan baik oleh penyidik. Usai dibebaskan, Ametro membuat laporan resmi ke polisi tentang dugaan penculikan dan penganiayaan yang dialaminya.

Kasus dugaan penculikan ini sempat viral di media sosial dan menjadi konsumsi publik secara nasional.

Anggota DPR RI Masinton Pasaribu saat Rapat Kerja antara Komisi III DPR RI dengan Kapolri beserta jajarannya, sempat mempertanyakan adanya dugaan salah satu petinggi Polri melakukan intervensi atas kasus tersebut. Tidak hanya sampai di situ, perkara intervensi berbuntut panjang. Kuasa Hukum Ametro Pandangan, Joko Pranata Situmeang, melaporkan Kabaharkam Mabes Polri ke Kadiv Propam Mabes Polri. (ztm)

USI