News

Positivity Rate Covid-19 Pecah Rekor Lagi

FaseBerita.ID – Angka positivity rate Covid-19 terakhir melonjak tajam dan memecahkan rekor yang tertinggi selama ini. Pada Selasa (16/2) angka positivity rate Indonesia begitu tinggi yakni 38 persen. Padahal syarat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), positivity rate sebuah negara saat pandemi seharusnya kurang dari 5 persen.

Angka positivity harian yaitu jumlah positif kumulatif dibagi jumlah orang yang dites lalu dikali 100 melonjak jadi 38 persen pada Selasa (16/2). Angka itu naik dari Senin (15/2) yakni 32 persen.

Menjawab hal ini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengakui bahwa tes Covid-19 memang turun. Baik spesimen maupun orang yang diperiksa memang jauh lebih sedikit dibanding sebelumnya terutama saat long weekend Imlek.

“Banyak yang bertanya mengenai positivity rate yang tinggi akhir-akhir ini. Ini kami sampaikan memang tinggi khususnya di hari libur jumlah yang dites itu turun. Akibatnya kasus terkonfirmasi juga turun dan postivity rate-nya naik,” paparnya dalam keterangan virtual, Rabu (17/2).

Dia mencontohkan misalnya tanggal 1 Januari positivity rate tinggi karena tes relatif turun. Lalu tanggal 10–11 Januari ketika weekend membuat jumlah tesnya turun kemudian positivity rate naik. “Terulang terus sehingga di Imlek pun demikian. Polanya sama. Sehingga saat libur itu positivity rate memang naik. Karena memang liburannya yang panjang,” tukasnya.

Budi mengakui dalam kondisi normal pun dengan tes seperti biasanya, angka positivity rate Indonesia dengan kisaran 20-an persen. Masih tergolong tinggi. Sebab saran WHO seharusnya positivity rate di bawah 5 persen.

“Dan kami sudah melakukan beberapa analisa apakah memang positivity rate yang tinggi memang disebabkan masalah kebanyakan confirmed case di Indonesia. Yang memang kami amati adalah jumlah kasus turun, jumlah kasus positif harian yang kami amati turun,” katanya.

“Contoh terakhir di November (2020) ada penurunan, kemudian ada libur panjang langsung naik. kemudian kejadian di Lebaran itu juga naik lagi. Jadi sehabis naik karena sifatnya virus 14 hari mati dengan sendirinya jadi menurun,” tambahnya.

Sementara itu, Budi mengecek data di rumah sakit untuk memastikan apakah data penurunan konfirmasi atau jumlah tes yang menurun memengaruhi kapasotas rumah sakit atau tidak. Namun setelah dicek, jumlah pasien yang dirawat di RS konsisten bahwa jumlahnya memang turun relatif selama 2 minggu.

“Baik kasus konfirmasi dan pasien masuk di RS sejak 2 minggu terakhir sudah turun dan turunnya bukan 4 hari terakhir. Jadi jumlah tes turun 4 hari terakhir tapi kasus konfirmasi turun sejak 2 minggu terakhir dan pasien masuk RS sdh turun 2 minggu terakhir,” ungkapnya.

“Kami ambil kesimpulan sebenernya jumlah turunnya testing itu memang disebabkan oleh libur. Jadi turunnya kasus konfirmasi dan pasien dirawat memang disebabkan secara fundamental laju penularan berkurang,” imbuhnya. (jp/fabe)

USI