News

PN Sibolga Eksekusi Rumah Warga: Sudah 27 Tahun Ditempati

SIBOLGA, FaseBerita.ID – Kesedihan mendalam dirasakan oleh Gamel Purba (65). Pasalnya, rumah yang sudah ditempatinya bersama anak dan istrinya selama 27 tahun di Jalan KH Zainul Arifin, Kelurahan Kota Beringin, Sibolga Kota, dieksekusi oleh Pengadilan Negeri (PN) Sibolga, Rabu (31/7/2019).

Gamel diketahui bersengketa dengan tetangganya, Mathias Hutapea, yang mengaku kalau tanah miliknya telah digarap oleh Gamel seluas 3 meter persegi. Sementara, dalam menempati tanah tersebut, Gamel mengaku telah memiliki sertifikat resmi dari Badan Pertanahan Nasional (BPN).

“Padahal, rumah saya ada sertifikatnya dan sudah 27 tahun kami tinggal di sini. Saya tidak terima dengan keputusan PN Sibolga yang mengeksekusi tanah saya. Karena saya punya sertifikat resmi yang dikeluarkan BPN,” kata Gamel ditemui ditengah pelaksanaan pembongkaran rumahnya.

Sementara menurut pria yang merupakan pensiunan guru tersebut, dalam sidang perdata yang pernah digelar hingga ke Mahkamah Agung (MA) surat yang diajukan Mathias sebagai penggugat hanya berupa foto copy.

“Menurut saya pengadilan tidak adil, surat saya lengkap, sah. Sementara surat Matias hanya foto copy,” ungkapnya dengan nada kesal dengan eksekusi yang dilakukan oleh PN Sibolga.

Tak hanya itu, sekilas Gamel bercerita, awal mula pertama kali mereka tinggal di tanah yang dia beli tahun 1992 yang lalu dari seorang pria bernama Syarifuddin Nasution, rumah Mathias belum berdiri di samping rumahnya. Dan saat Mathias membangun rumah yang bersebelahan dengan rumahnya, Mathias tidak pernah komplain dengan luas tanah bangunan rumahnya.

“Rumah saya duluan berdiri, baru rumah Mathias. Bahkan, sewaktu Mathias membangun rumahnya, saya pernah ingatkan agar broti bangunan tidak mengenai rumahnya. Kalau memang saya menyerobot tanahnya, kenapa gak dari dulu dia ambil, kenapa baru sekarang,” ketusnya.

Eksekusi yang dilakukan oleh PN Sibolga sangat disesali oleh Gamel dan keluarganya. Apalagi, tidak pernah ada surat pemberitahuan sebelumnya yang diberikan kepada mereka. “Gak ada surat pemberitahuan sama kami. Tiba-tiba, pas saya sedang menyiram bunga tadi pagi di depan, mereka datang langsung mengeksekusi rumah saya. Jelas saya keberatan,” tukasnya.

Kemudian masih kata Gamel, pihaknya juga dalam perkara perdata tersebut telah mengajukan banding ke pengadilan tinggi Medan melalui dua pengacara yang telah dihunjuknya. “Sementara, saya.masih mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Medan, kenapa langsung dieksekusi?” pungkasnya.

Terpisah, Jabona Manihuruk SH MHum, Panitra PN Sibolga sebagai pelaksana eksekusi ketika dimintai keterangan mengenai eksekusi tersebut menolak memberikan tanggapan. “Sudah kami sepakati sebelumnya, kalau saya gak berhak memberikan keterangan, harus melalui humas,” kata Jabona.

Amatan, akibat eksekusi tersebut, sebagian rumah Gamel terpaksa harus dihancurkan. Pihak keluarga Gamel pun bergegas mengangkut barang-barang dari ruangan yang harus segera dirobohkan. Sementara, pihak Panitra PN Sibolga dibantu aparat dari Kepolisian mengawal jalannya eksekusi hingga bangunan seluas 3 meter persegi tersebut rata dengan tanah. (ts)

iklan usi