News

Pingsan Keadaan Setengah Bugil di dalam Mobil, 2 ASN Asahan Terancam Pecat Tidak Hormat

FaseBerita.ID – Hukuman pemecatan menjadi ancaman terberat bagi 2 Aparatur Sipil Negara (ASN) dinas Pendidikan (Disdik) Asahan yang viral pingsan dalam keadaan setengah bugil di dalam mobil.

“Sanksi terberat, pemecatan dengan tidak hormat,” ungkap Kepala Inspektorat Kabupaten Asahan melalui Sekretaris Ruslan, Jumat (19/6).

Ruslan menjelaskan bahwa pihaknya telah membentuk tim untuk melakukan penyidikan kasus asusila yang tidak pantas dilakukan oleh seorang ASN, apalagi mereka berdinas di lingkungan pendidikan.

“Kita telah membentuk tim dan telah memeriksa 2 ASN dan pihak terkait termasuk keluarga dari ASN laki-laki itu,” ungkapnya lagi.

Ruslan juga menjelaskan pihaknya akan menerapkan Peraturan Pemerintah (PP) No 53 tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil. “Bila mengacu dengan peraturan itu bisa diberi hukuman maksimal diberhentikan dengan tidak hormat,” ungkap Ruslan.

Namun, semua itu, tentunya akan dilakukan pemeriksaan dahulu, dan melihat fakta yang ditemukan, pasal mana yang dilanggar, sehingga disesuaikan dengan tingkat hukumannya.

“Di dalam PP itu, hukuman tertinggi adalah pemberhentian tidak hormat,” jelas Ruslan.

Sebagaimana diberitakan bahkan sempat viral kedua ASN masing-masing berinisial Z (37) memiliki jabatan sebagai Korwil Kecamatan Rawang Panca Arga Dinas Pendidikan Kabupaten Asahan dan KH (39) selaku Bendahara di Korwil Kecamatan Meranti.

Kondisi setengah bugil itu dan dalam keadaan pingsan itu sempat direkam oleh masyarakat sehingga tersebar di media sosial maupun melalui pesan berantai whatshap. Akibatnya Pemkab Asahan yang memiliki salah satu visinya religius tercoreng dengan ulah kedua ASN yang bukan suami isteri itu.

Tak tanggung-tanggung selain pihak kepolisian menerapkan pasal 284 KUHPidana atas dasar pengaduan istri ASN tersebut, pihak kepolisian dalam hal ini ditangani oleh UPPA Sat Reskrim Polres Asahan juga menerapkan pasal 281 tentang perbuatan asusila di depan umum dengan sanksi hukuman 2 tahun delapan bulan. (per/rah)