News

Pertamina Diminta Tertibkan Rumah Rangkap Gudang LPG

RANTAU, FaseBerita.ID – Kebakaran Pangkalan LPG 3 Kg yang terjadi beberapa waktu lalu di Sei Berombang, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu mengakibatkan sebanyak 32 unit rumah terbakar. Kondisi pangkalan LPG merangkap rumah warga dan berada di tengah pemukiman padat penduduk,dinilai dari lemahnya pengawasan dari pihak pertamina.

Hal tersebut dikatakan oleh Ketua LSM Labuhanbatu Coruption Watch (LCW) Drs Zulham Abdul Fatah. Menurutnya, kesalahan ada pada pengawasan pihak Pertamina terhadap Pangkalan LPG dengan tidak menegur pangkalan atau melakukan pengawasan. “Pangkalan LPG merangkap rumah itu sangat berbahaya. Apa lagi posisinya di tempat padat penduduk. Seharusnya Pangkalan itu memiliki gudang khusus dengan setandard tempat penyimpanan yang aman dengan fasilitas lengkap untuk pencegahan kebakaran,” ujar fatah.

Akan tetapi, lanjut fatah, kondisi saat ini sangat memperihatinkan, dan itu adalah tugas Pertamina selaku penyedia barang yang lebih memahami teknisnya. Belum lagi dengan kenakalan para pangkalan yang menyalah gunakan barang bersubsidi tersebut.

“Ini merupakan tanggung jawab dari pertamina, seharusnya dari awal ini sudah di cegah sehingga tidak terjadi hal yang tidak di inginkan seperti peristiwa kebakaran besar ini,” pungkasnya.

Ketika Dikonfirmasi melalui pesan Whatsapp, Ibrohim selaku Sales LPG Pertamina Sumatera Utara menanggapi hal diatas dengan datar tanpa ada menyinggung sejauh mana keterlibatan pihak Pertamina dengan adanya dugaan kelalaian dari pengawasan kepada para pangkalan LPG di Labuhanbatu.

“Pangkalan tersebut sudah posisi off karena terkena musibah. Untuk Pangkalan yang memang melanggar tolong dilaporkan detail nama dan alamatnya biar segera dikroscek dan ditindak,” terang Ibrohim.

Terpisah, Anggota Tim Pengawasan LPG Pemkab Labuhanbatu, Syamsul Siregar menjelaskan bahwa pihaknya belum ada keluarkan izin dan akan melakukan penataan. “Sampai saat ini belum Pemkab belum ada mengeluarkan izin untuk pangkalan gas di labuhanbatu, khususnya izin zoning ( pembagian kawasan),” kata Syamsul.

Lanjut Syamsul, di dalam rumah rangkap pangkalan Gas LPG itu terdapat dua nama Pangkalan dan menurutnya hal itu tidak di benarkan karena terjadi penumpukan.

“Rumah terbakar rangkap gudang pangkalan itu ternyata ada dua nama pangkalan di dalam satu gudang setelah kita lihat data yang ada dari pertamina, maka dari itu akan kita lakukan penataan bersama pertamina untuk menghindari penumpukan gas dan pemerataan peredaran gas bersubsidi tersebut,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Kebakaran yang melanda pangkalan elpiji 3 kg dan 30 unit rumah di Sei Berombang, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu 5 Juni lalu, membuat keluarga korban trauma. Bagaimana tidak, seluruh harta benda mereka habis terbakar. Tidak ada yang bisa diselamatkan. Bahkan ‘menelan’ empat korban jiwa. Peristiwa memilukan itu terjadi dini hari atau sekitar pukul 03.30 WIB.

Pangkalan elpiji adalah milik Julham alias Pangku (50) yang turut menjadi korban dalam peristiwa itu, bersama istri dan kedua anaknya. Selama ini, pangkalan tersebut sekaligus sebagai tempat tinggal almarhum. Sementara dua anak korban yakni Jenni (15) dan Angel (11) sempat menyelamatkan diri bersama keponakannya. Dan, sampai saat ini keduanya masih trauma.

Hal serupa dialami korban lainnya. Seperti H Sulaiman Harun. Menurut Sulaiman, kejadian itu membuat keluarganya shock dan trauma.

“Kami shock. Kejadian itu masih segar di ingatanku. Saat kejadian tak ada yang bisa kami selamatkan. Saya pasrah begitu melihat rumah kami terbakar. Tak ada yang bisa kami lakukan karena kejadiannya sangat cepat. Harusnya keluarga pada saat itu bergembira karena menyambut takbir kemenangan untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri 1440 H. Tapi kenangan itu berubah menjadi duka,” terang Sulaiman Harun.

Dia mengaku sampai sekarang masih trauma melihat api. “Begitu melihat api yang sangat besar, semangat kami pun hilang. Apa yang mau kami ucapkan, apa yang harus kami buat, apa yang harus kami pegang, kami tidak tahu saat itu,” ungkapnya.

Pasca kebakaran, Sulaiman mengatakan bantuan mulai berdatangan. Baik dari keluarga, famili, para dermawan, Pemkab Labuhanbatu, bantuan pribadi dari Plt Bupati H Andi Suhaimi Dalimunthe dengan ASN lainnya.

“Merekalah yang mengurangi rasa kesedihan seluruh korban. Ini akan menjadi pelajaran buat kita. Kami berharap agar masyarakat lebih berhati-hati kedepannya. Jangan tempatkan barang yang mudah terbakar di tempat pemukiman yang padat. Kami tidak ingin kejadian pilu itu terulang kembali. Satu rumah yang terbakar, puluhan rumah kena imbasnya,” sebutnya.

Begitupun Sulaiman berharap tempat tinggal mereka kembali tegak berdiri. Sehingga para korban bisa kembali berkumpul bersama keluarga, yang saat ini mereka hanya bisa terima kenyataan dan menikmati kemurahan hati dari seanak famili yang mau menampung mereka.

Dari kebakaran yang terjadi, tidak ada yang tersisa, kecuali puing – puing bangunan yang hangus rata dengan tanah. Apa daya, tim pemadam kebakaran baru tiba di lokasi setelah amukan api yang hanguskan 30 rumah tersebut mereda.

Hal itu dikarenakan jarak yang cukup jauh yang harus ditempuh tim pemadam ke lokasi kebakaran. Ditambah dengan cepatnya api menyebar kala itu.

Baca juga: Cerita Korban Kebakaran di Labuhanbatu: Begitu Lihat Api, Kami Tidak Tau Mau Ngapain

Tak lain disebabkan oleh sebagian besar bangunan dari bahan yang mudah terbakar dan pula berada di lokasi sangat padat penduduk, dengan kondisi tidak ada jarak dari bangunan satu ke bangunan lainnya.

Kepulan api yang tampak seperti bukit itu hanya dipadamkan dengan kerja sama warga dengan anggota TNI dan Polri setempat, yang berjibaku menjinakan api. (zas)

USI