News

Pergoki Pria Bertopeng Beraksi dalam Rumah: Suami Luka-luka, Istri Tewas

FaseBerita.ID – Rumah Kabid Aset Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Pemkab Palas Sahrin Siregar (39) di Desa Mompang, Kecamatan Barumun, diserang orang tak dikenal, pada Selasa (25/6/2019) sekira pukul 02.39 WIB. Kejadian dini hari itu, mengakibatkan istrinya, Rita (38), meninggal dunia.

Informasi yang dihimpun, korban diduga meninggal dengan tujuh tusukan diduga benda tajam. Empat di antaranya luka tusukan di leher sebelah kanan hingga mengenai pembuluh darah, dua di kiri dan satu tusukan diduga benda tajam di dada.

Sedang Sahrin yang juga Ketua PD Muhammadiyah Palas ini, mengalami luka di kepala yang diduga akibat pukulan benda tumpul, lalu di pipi dan di tangan kanan. Dan kini sudah mendapat perawatan di RSUD Sibuhuan.

Korban yang ditanyai wartawan di Rumah Sakit Umun Daerah (RSUD) Sibuhuan menjelaskan, pelaku perampokan itu diperkirakannya sudah masuk rumah ketika dia dan istrinya pergi ke pasar Sibuhuan pada Senin (24/6/2019) malam.

”Anak-anak yang lain tinggal rumah, bang. Saya perkirakan, kemungkinan anak-anak tidak menutup pintu. Jadi, di situlah masuk pelaku. Selanjutnya, pelaku beroperasi sekira pukul tiga pagi,” cerita Sahrin.

Sahrin menambahkan, dalam peristiwa itu, istrinya terlebih dahulu terkena serangan benda tajam oleh pelaku. Sedangkan ia sempat melakukan perlawanan.

“Saat kejadian, istri saya sempat berusaha minta bantuan tetangga. Ia keluar dari rumah dan terjatuh, lalu tidak sadarkan diri di pintu rumah samping,” jelas Sahrin.

”Saya sempat melakukan perlawanan tapi tidak berhasil menangkapnya karena pelaku terlebih dulu memukul leher saya,” lanjut Sahrin.

Saat peristiwa itu, korban tak sempat mengenali wajah pelaku, karena pelaku mengenakan penutup wajah. ”Hanya saja, saya sempat mengetahui postur tubuh pelaku, cuma tidak mengenal secara pasti karena pelaku mengenakan semacam topeng.”

Sahrin juga tak pernah menduga kejadian ini. Ketua PD Muhammadiyah yang dikenal taat beribadah ini juga tak punya firasat akan kejadian ini. Ia dan istri sempat melaksanakan puasa bersama. “Ya begitulah, semalam kita sama-sama puasa juga,” ujar Sahrin duduk di samping jenazah istrinya di RSUD Sibuhuan pasrah.

Informasi lainnya menyebutkan, Rita sebagai istri korban dilaporkan tewas di tempat kejadian, lantaran tak sempat mendapat pertolongan medis.

Dari hasil olah TKP sementara, tidak ada ditemukan barang yang hilang atau kerusakan. Benda tajam yang diduga sebagai alat bukti juga belum ditemukan.

“Kita belum bisa meminta keterangan korban, karena masih di Rumah Sakit. Tidak ada barang yang hilang, dan alat yang digunakan juga belum ditemukan. Kasus ini masih proses lidik,” jelas Kapolsek Barumun AKP Sudirman di TKP yang sudah dipasangi garis polisi tersebut.

Untuk sementara, polisi menduga kasus ini terkait pasal 351 ayat tiga tentang penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang.

“Namun tak menutupi kemungkinan bisa ke pasal 340 subsider 338 tentang pembunuhan berencana. Karena masih lidik, nanti kita informasikan lah,” tukas Sudirman.

Di sisi lain, Wakil Bupati drg H Ahmad Zarnawi Pasaribu yang didampingi Sekda Arpan Nasution turut mendatangi korban ke Rumah Sakit. Selain mengucapkan belasungkawa terhadap kabid aset ini, wabup dan sekda juga mendatangi TKP di Desa Mompang.

“Kita merasa prihatin yang dialami korban. Istri korban rencananya dibawa ke Medan (pantai cermin, red). Kasus ini juga telah ditangani kepolisian, kita serahkan saja,” tandas Wakil Bupati.

Hingga siang, jenazah korban yang sudah ditutupi kain itu masih di rumah sakit. Sahrin Siregar dengan infus di tangan, tampak duduk disamping jenazah, dan sesekali menerima ucapan belasungkawa dari kerabat yang berdatangan.

Kerabat organisasi dan sejawat kantor juga masih memadati RSUD itu. Menunggu proses membawa jenazah ke rumah duka di Pantai Cermin.

Saya Kira Istri Cuma Pingsan

Kepergian sang istri, Rita, meninggalkan pilu mendalam bagi Sahrin. Ternyata, makan mi Aceh malam itu, yang disantap bersama di rumah setelah dibeli di luar merupakan kali terakhir makan bersama istri.

Meski beberapa perban menempel di bagian punggung dan dahi, Sahrin tetap berusaha berbagi cerita. Bahkan, ia mengaku, tak menyangka perempuan yang telah memberinya empat anak itu telah tiada.

“Saya kira cuma pingsan dia. Karena, begitu saya keluar, saya lihat terbaring. Saya balikkan badannya, ternyata sudah tak ada,” kenang Sahrin dengan mata berlinang.

Saat itu, jenazah istri masih berada di sampingnya. Belum dibawa pulang, karena baru saja selesai diambil visum oleh kepolisian. “Kami keluar beli mi Aceh itu sekitar pukul setengah sepuluh,” ungkapnya saat ditanya.

Ada empat anak pasangan ini, yang saat ini masih kecil-kecil. Paling besar, Nisa yang saat ini menjalani pendidikan kelas 7 SMP di Medan, kemudian ada Hakim dan Hanif masing-masing kelas 5 dan 2 SD Mompang. Satu lagi, Alya, masih balita.

Santun dan Baik Bertetangga

Kepergian Rita, tak hanya meninggalkan kepedihan bagi keluarga. Kehilangan dan perasaan kaget berbalut sedih juga dirasakan warga lain, yang saat itu mengaku seolah tak percaya akan kejadian ini.

“Dia (korban) itu baik orangnya, sopan, ramah. Tidak pernah juga terdengar pertengkaran di keluarga mereka, ” kata Jarunjung, tetangga yang rumahnya persis berbelahan.

Bagi Jarunjung sendiri, sikap dermawan dan suka berbagi, merupakan kebaikan yang tak pernah dilupakannya dari korban. Digambarkannya, saat Lebaran belum lama ini, ia dikasih kue oleh korban. “Saya pun kasih lemang” tambahnya.

Bahkan, dikatakannya, korban mengungkapkan, “Nadao umakku, ho doma umakku di son (jauh mamakku, ibu yang saya anggap mamak di sini),” kata Jarunjung menirukan perkataan korban. (tan/lay)