News

Penting Peran Orangtua Cegah Remaja Bunuh Diri

FaseBerita.ID – Kejadian percobaan bunuh diri remaja 17 tahun di Asahan dengan menyayat nadi di lengan dan lehernya menggunakan pisau silet menjadi pembelajaran bagi para orang tua. Banyak masyarakat yang menyangkan mengapa remaja sekarang cepat berpikir tak wajar hanya gara-gara persoalan sepele apalagi soal percintaan.

Ketua Lembaga Perlindangan Anak (LPA) Kabupaten Asahan Awaluddin mengatakan berita ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh orang tua agar senantiasa mengontrol pergaulan anaknya apalagi mereka saat usia remaja dan pubertas.

Minimnya komunikasi dengan anak sewaktu di rumah bisa menjadi sebab anak merasa tak diperhatikan hingga mereka mencari orang lain yang lebih memperhatikan kehidupan mereka.

“Inilah bahaya membiarkan anak-anak kita di luar sana tanpa dikontrol dan dipantau pergaulannya. Kejadian seperti ini harus benar-benar jadi pukulan telak untuk semua orang tua dan guru untuk senantiasa lebih sering berkomunikasi lagi dengan anak. Apalagi jika mereka sudah berpacaran,” ucapnya.

Baca juga: Dibujuk, Remaja Putri Selamat dari Percobaan Bunuh Diri

Dalam kesempatan itu, Awaluddin mengimbau agar orang tua meningkatkan peran komunikasi terhadap anak anak mereka sewaktu dirumah. “Komunikasi dengan anak itu penting. Kadang kadang kita orang tua ketemu di rumah dengan anak jarang berkomunikasi hingga tak tahu apa kegiatan mereka di luar,” ucapnya.

Kasus bunuh diri di kalangan remaja semakin banyak terjadi. Berdasarkan hasil penelitian Global School-Based Student Health Survey (GSHS) pada tahun 2015 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan ditemukan 5,2% remaja memiliki ide bunuh diri, 5,5% sudah memiliki rencana bunuh diri, dan 3,9% sudah melakukan percobaan bunuh diri.

Hasil ini didapat setelah pelajar SMP dan SMA dengan jumlah responden mencapai 10.837 siswa diberi pertanyaan seputar bunuh diri. Fakta tersebut tentunya sangat mengejutkan banyak pihak. Ide bunuh diri, ancaman, dan percobaan bunuh diri adalah hal serius yang harus segera ditangani oleh banyak pihak, entah itu sekolah maupun keluarga.

Baca juga: Ribut dengan Kekasih, Gadis Potong Urat Nadi

Salah satu caranya adalah melakukan langkah preventif seperti menemukan faktor risiko penyebab bunuh diri pada remaja dan pola pengasuhan. Menurut dokter spesialis kejiwaan, Dr dr Nova Riyanti Yusuf SpKJ yang baru saja menyelesaikan disertasi berjudul ‘Deteksi Dini Faktor Risiko Ide Bunuh Diri Remaja di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas/ Sederajat di DKI Jakarta’, ada beberapa faktor yang harus diwaspadai.

Pertama adalah pola pikir abstrak yang menimbulkan perilaku risk-taker. Kedua, transmisi genetik yang dapat menimbukan sifat agresif dan impulsif. Ketiga, memiliki riwayat gangguan jiwa lain. Keempat, lingkungan sosial yang tidak mendukung. Kelima, penyalahgunaan akses internet.

“Beberapa faktor risiko tersebut merupakan alasan remaja memiliki ide bunuh diri,” terang dokter yang akrab disapa Noriyu itu saat dijumpai dalam sebuah acara di kawasan Depok, Jawa Barat belum lama ini. (per/int)