News

Penangkaran Walet di Karang Sari Diprotes Warga

FaseBerita.ID – Sebuah bangunan rumah toko yang terletak di Jalan Anjangsana, Huta III, Nagori Karang Sari, Kecamatan Gunung Maligas, digunakan sebagai penangkaran walet diprotes warga sekitar lokasi.

Soalnya, tanpa persetujuan warga yang bahkan persis satu dinding tiba-tiba bangunan yang baru selesai dibangun itu sudah di gunakan sebagai penangkaran burung walet.

“Sudah ada bunyi-bunyian suara burung disitu pak. Kami nggak tahu awalnya bangunan itu untuk penangkaran burung walet. Tiba-tiba ada rekomendasi dari Pangulu Karang Sari tentang Penangkaran Burung Walet disitu. Ini suratnya Pak,” kata beberapa warga RT 1 Huta III, Nagori Karang Sari, Sabtu (21/3) sekira pukul 22.00 WIB, saat menggelar pertemuan disalah satu rumah warga sembari menyerahkan beberapa lembar kertas kepada kru koran ini.

Dijelaskan warga lagi kepada kru koran ini, bahwa sebelumnya memang ada protes warga bahkan sempat digelar rapat di Kantor Pangulu Nagori Karang Sari. Pada saat rapat itu dihasilkan keputusan bahwa si pemilik harus mengurus perizinan terlebih dahulu.

Namun yang membuat warga terkejut tiba-tiba Pangulu mengeluarkan surat rekomendasi bernomor 140/186/II/KS/2020 yang ditanda tangani Pangulu Nagori Karang Sari Wito Sembodo tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu kepada warga yang tinggal persis sebagai tetangga di lokasi rumah toko tersebut.

Saat dikonfirmasi Camat Gunung Maligas Juris Saragih kepada kru koran ini mengatakan, “Sempatnya ribut-ribut masyarakatnya kemarin itu. Masalahnya kan kita belum tau pasti, riak-riak dari masyarakatnya sudah ada. Harusnya Pangulu memending dahulu, karena setahu saya kemarin itu ribut dengar infonya bukan untuk walet yang difasilitasi pangulu ikut juga Kapolsek. Lagian prosesnya sekarang terkait rekomendasi, camat tidak lagi mengeluarkan rekomendasi karena memangkas birokrasi,” kata Camat Gunung Maligas, Minggu (22/3) sekira pukul 14.58 WIB, via seluler.

Sementara itu lebih lanjut, Pangulu Nagori Karang Sari Wito Sembodo saat dikonfirmasi melalui selelur membenarkan dirinya mengeluarkan surat rekomendasinya.

“Jadi tadi malam kami rapat dengan warga situ. Sebelumnya juga kami ada pertemuan di Kantor Pangulu yang kesepakatannya yang punya harus menguru perizinannya. Yang namanya rekomendasi itu sebenarnyakan pengantar, artinya harusnya orang dinas itu koordinasi di lapangan,” katanya menjelaskan.

Terkait terbitnya rekomendasi yang dikeluarkannya tanpa lebih dahulu memberitahukan ke warga sekitar lokasi ruko, dengan mengelar rapat dengan warga terlebih dahulu, diakui Wito Sembodo kepada kru koran ini.

“Tidak, karena kesepakatan waktu rapat disuruh ngurus izin yang dihadiri warga, LPM, RT, dan Gamot. Hari ini saya dan maujana akan menemui pengelola, karena keinginan masyarakat ditutup dulu,” terang Wito Sembodo dengan bahasa Jawa, Minggu (22/3) sekira pukul 15.23 WIB. (adi)

USI