News

Pemindahan Ibu Kota Negara: Pemerintah Waspadai Kesenjangan Penduduk Asli dan Pendatang

FaseBerita.ID – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mewanti-wanti pemerintah untuk memperhatikan semua dampak dari pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur (Kaltim). Salah satunya soal kesenjangan ekonomi antara penduduk asli dan pendatang.

Ekonom dari INDEF, Bhima Yudhistira memperkirakan kesenjangan pendapatan yang diukur dari gini rasio di Kaltim akan meningkat seiring banyaknya pendatang yang bermukim di daerah tersebut. Apalagi, perekonomian mayoritas penduduk asli sebagai petani perkebunan atau pertambangan tengah lesu lantaran turunnya harga komoditas.

“Rasio gini di Kaltim akan meningkat karena adanya perbedaan pendapatan antara PNS Kementerian/Lembaga dan penduduk setempat yang bekerja di sektor komoditas. Harga komoditas perkebunan dan tambang yang rendah beberapa tahun terakhir akan berdampak pada daya beli penduduk lokal. Sementara gaji PNS kan justru naik plus tunjangan,” kata Bhima kepada JawaPos.com (grup media ini), Selasa (27/8/2019).

Ia mengatakan, jarak ketimpangan antara penduduk lokal dan pendatang itu dikhawatirkan akan menimbulkan gejolak sosial dan instabilitas di ibu kota negara yang baru. Tercatat, angka kemiskinan di Penajam Paser Utara per tahun 2018 mencapai 9,03 persen. Sementara di Kutai Kartanagara sebesar 7,31 persen.

“Bahkan kriminalitas jadi tantangan baru. Bukan berarti lari dari Jakarta masalah ketimpangan selesai, justru ada problem baru,” terangnya.

Baca juga: Infrastruktur Ibu Kota Baru Mulai Dibangun Tahun Depan

Lebih lanjut Bhima mengatakan, INDEF menyarankan agar pemerintah dapat melakukan mitigasi dampak kesenjangan pendapatan tersebut sebelum benar-benar melakukan pemindahan ibu kota negara. Di antaranya dengan melakukan mitigasi dampak rendahnya harga komoditas terhadap daya beli penduduk lokal.

“Program seperti B20 harus dioptimalkan di wilayah Kaltim. Jadi, harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani sawit bisa naik. Kemudian pada saat pembangunan libatkan lebih banyak kandungan lokal dan tenaga kerja setempat,” tukasnya. (jpg)