News

Pembunuhan Karyawati BSM: Ungkap Peran Istri Tersangka Pelaku

FaseBerita.ID – Penangkapan DP dan istrinya NYN, tersangka pembunuhan terhadap Santi Devi Malau (25), karyawati Bank Syariah Mandiri (BSM) Cabang Pandan, diapresiasi Forum Peduli Putra Putri Daerah (FP3D) Sibabangun, Tapteng. Mereka memuji kinerja polisi yang bertindak cepat membekuk tersangka.

Namun, forum yang mempersatukan pemuda-pemudi di Kecamatan Sibabangun ini juga memberi beberapa catatan kepada pihak kepolisian. Diharapkan, dalam pengungkapan kasus ini pihak kepolisian tidak berhenti pada pengakuan tersangka saja. Banyak faktor yang bisa dijadikan bahan untuk pengembangan penyidikan berikutnya, termasuk hasil visum yang menyebutkan ada luka cakaran di wajah korban.

“Ada beberapa hal yang menjadi cacatan kita pada pelaksanaan konferensi pers yang digelar pihak kepolisan kemarin. Salah satunya belum diungkapkannya keterlibatan NYN secara signifikan,” ujar ketua FP3D Sibabangun, Madayansyah Tambunan MPd, Kamis (20/6/2019).

Menurut Madayansyah, pasal yang dikenakan kepada tersangka pembunuh salah satu putri terbaik Kecamatan Sibabangun itu juga terlalu ringan, menimbang kasus ini tergolong kejahatan berat dan diduga perencanaan.

Seharusnya pelaku dijerat pasal berlapis, yakni pasal 340, 339, 338 dan 365 dengan ancaman pidana seumur hidup, bukan hanya pasal 365 ayat 4 sebagaimana yang dipersangkakan.

“Asumsinya sederhana, bagaimana mungkin tali jemuran diambil hanya untuk mengikat istri pelaku yang marah-marah. Dan itu gunting yang dibawa istrinya untuk apa? Bahkan pada sesi wawancara, tidak ada sedikitpun mimic penyesalan yang diperlihatkan tersangka. Bahkan ia terkesan santai,” sebut Madayansyah dengan nada bertanya.

Masih kata Madayansyah, banyak kejanggalan yang terjadi dalam kasus tersebut, termasuk cincin korban yang tidak dibawa kabur oleh tersangka. Pengakuan tersangka yang curiga korban mau lari saat menawarkan mengambil uang ke ATM juga sangat tidak masuk akal.

“Membunuh hanya gara-gara tidak diberi pinjaman Rp200 ribu, sangat tidak masuk akal. Pola pikir masyarakat Tapteng tidaklah senekad itu. Jejak digital bisa dijadikan pihak kepolisian untuk mengungkap kasus ini,” imbuhnya.

Meski demikiaan, calon anggota DPRD Tapteng terpilih ini tetap percaya pada kinerja kepolisian dan mendorong kepolisian bekerja secara profesional. FP3D akan terus mengikuti perkembangan proses penyelidikan dan menunggu proses rekonstruksi dan reka ulang. “Kita lihat saja nanti, sejauh mana hasil pengembangan penyelidikannya,” pungkas Madayansyah.

Diberitakan sebelumnya, misteri kematian karyawati Bank Syariah Mandiri (BSM) Santi Devi Malau terungkap setelah polisi menangkap pasangan suami istri berinisial DP (20) dan NYN (18) sebagai tersangka, Selasa (18/6/2019), sekira pukul 17.30 WIB. Menurut pengakuan sementara, pembunuhan dilakukan hanya karena korban tidak meminjamkan uang kepada DP.

Kapolres Tapanuli Tengah AKBP Sukamat SH SIK dalam konfrensi pers yang digelar di Mapolres Tapteng, Rabu (19/6/2019) menyebutkan, pelaku pembunuh Santi dicokok dari rumah persembunyiannya di Jalan Marelan IV, Gang Wakaf, Kecamatan Medan Deli, Kota Medan. “Kedua pelaku warga Kota Medan, selama ini mencari nafkah di Pandan. Tiba tadi pagi sekira pukul 08.00 WIB,” kata Sukamat.

Diterangkan, pasca peristiwa pembunuhan tersebut, kedua pelaku langsung melarikan diri ke Kota Medan. Tidak mau kecolongan, pada Senin (17/6/2019), petugas kepolisian dari Polres Tapteng dan Polsek Pandan melakukan pengejaran. Setibanya di Kota Medan, tim berkoordinasi dengan pihak Ditkrimum Poldasu. Tim juga berhasil mendapat informasi bahwa pelaku bersembunyi di rumah keluarganya di Medan Deli.

“Petugas langsung mengecek kebenaran informasi tersebut dan berhasil menangkap kedua pelaku di sebuah rumah di Jalan Marelan IV Kecamatan Medan Deli. Polisi juga terpaksa melakukan tindakan terukur kepada pelaku laki-laki dengan menghadiahinya timah panas, karena berusaha melarikan diri saat ditangkap,” kata Sukamat.

Dipaparkan, terjadinya peristiwa pembunuhan berawal saat DP berniat hendak meminjam uang sebesar Rp200 ribu kepada korban. Karena tidak memiliki uang, korban tidak memenuhi permintaan tersangka. Kepada tersangka korban mengaku hanya memiliki uang Rp20 ribu.

Mendengar pengakuan korban, pelaku kesal dan terus memaksa korban agar memberikan uang yang diminta. Pelaku tidak percaya korban tidak punya uang, apalagi korban bekerja sebagai karyawati di sebuah bank. Pelaku lalu melakukan pemaksaan kepada korban dengan menguasai kamar sembari menyekap korban. Karena merasa terancam, korban berteriak.

Saat itulah pelaku menghabisi nyawa korban dengan cara mencekiknya, sembari menyeretnya ke kamar mandi. Kepala korban juga dibenturkan ke dinding dan kloset. Setelah tidak berdaya, kepala korban ditutup dengan kain yang biasa digunakan untuk sholat.

“Karena teriak, pelaku mencekik leher korban. Setelah korban pingsan, pelaku menyeret korban ke kamar mandi dan membenturkan kepala korban ke kloset,” timpal Sukamat.

Dalam kasus pembunuhan ini, sambung Sukamat, kedua pelaku dijerat pasal 365 ayat 4 dengan ancaman 20 tahun penjara. Namun hingga saat ini, pihak kepolisian masih menetapkan DP sebagai pelaku utama.

“Kita masih melakukan pendalaman bagaimana keterlibatan istrinya. Karena dalam kasus ini istri pelaku mengetahui pembunuhan ini. Bila terbukti terlibat, istri pelaku bisa dijerat hukuman 15 tahun penjara,” jelas Sukamat.

Sukamat mengungkapkan, sebelum peristiwa pembunuhan ini terjadi, pelaku juga pernah masuk ke kamar korban dengan mencuri jam tangan milik korban. Menurut keterangan saksi, pelaku sedang dililit utang dan keduanya ingin kembali ke Medan tapi tidak memiliki ongkos.

“Pada tanggal 7 Mei 2019 laki-laki ini sudah masuk ke kos korban dan mengambil dua jam tangan bermerek,” urainya. (ztm)