News

Pemakaian Air di Bawah 10 M3, Pelanggan RT3 PDAM Tirtauli Dikenakan Biaya Beban Tetap

SIANTAR, FaseBerita.ID – Direksi Perumda Tirtauli Kota Pematangsiantar membuat kebijakan baru kepada pelanggan. Takni pembayaran tarif Beban Tetap kepada pelanggan kelompok RT3 yang pemakaian airnya di bawah 10 m3. Kebijakan ini disampaikan pada saat jajaran direksi menggelar sosialisasi di Simalungun Room Siantar Hotel, Rabu (3/2) sore.
Dirut Perumda Tirtauli Zulkifli Lubis bersama Dirum Berliana Napitu menerangkan kebijakan itu dikeluarkan dikarenakan banyaknya pelanggan kelas menengah tidak memakai air mencapai 10 m3.

Hal itu diduga lantaran para pengusaha tersebut menggunakan sumur bor. Dan mereka tidak menggunakan air Tirtauli.
“Jadi ke depan, mereka harus membayar biaya beban tetap. Seperti halnya biaya abodemen listrik maupun telepon,” ujar Zulkifli.

Zulkifli mengatakan biaya beban Tetap ini bukanlah hal yang baru. Sebab sebelum tahun 2013, biaya beban tetap ini pernah diterapkan. Namun setelah tahun 2013, sistem ini tidak dilakukan lagi.
Tujuan paling utama dilakukan biaya Beban Tetap ini adalah agar pelanggan menggunakan air sebanyak kebutuhan pokok di rumah tangga.

Supaya pelanggan lebih sehat. Menurutnya, air Tirtauli sudah terjamin kebersihannya dan kesehatannya. “Kalau sumur bor itu belum tentu sehat sebab tidak ada proses penyaringan atau sterilisasi dari kuman. Sementara air Tirtauli telah dilakukan penambahan bahan untuk membunuh kuman,” katanya.

Nah, dari data yang dipaparkan Zulkifli ada sekitar 8.000 pelanggan tidak memakai air Tirtauli. Artinya pembayarannya nol. Lalu, dari 70 ribu pelanggan, ada sekitar 20 ribu pelanggan pemakaian airnya dibawah 10 m3.
Sementara standar penggunaan air untuk kebutuhan rumah tangga setidaknya ada 10 m3 perbulan.

Lantas berapa yang harus dibayarkan pelanggan RT3 jika pemakaian airnya dibawah 10 m3 ?
Dari penjelasan Zulkifi biaya Beban Tetap yang harus dibayar jika pemakaian air di bawah 10 m3 adalah Rp25 ribu. Tapi jika pemakaiannya sudah diatas 10 m3, tidak ada lagi biaya Beban Tetap.
“Dulu sebelum tahun 2013 biaya beban tetap sebesar Rp7 Ribu. Jadi ada saat menjadi Rp25 Ribu,” jelasnya.

Lalu apakah nantinya biaya Beban Tetap ini akan diberlakukan kepada seluruh pelanggan?
Zulkifli mengatakan untuk saat ini yang dibebankan adalah bagi pelanggan yang perekonomianya menengah ke bawah yang tergabung dalam RT3. Sementara pelanggan berpenghasilan rendah atau RT1 dan RT2 ditunda dulu enam bulan ke depan.

“Sebenarnya kenaikan tarif sudah saatnya dilakukan. Sebab terakhir tarif air naik pada tahun 2013 atau sudah 8 tahun air tidak naik. Tapi karena kondisi pandemi Covid19, maka rencana kebaikan tarif Air minum ditunda dulu. Mungkin di tahun 2022 lah ada kenaikan sekitar 30 persen. Kalau saat ini biaya Beban Tetap dulu yang diterapkan,” ujar Zulkifli.

Dipaparkan Zulkifli, rata-rata pendapatan air minum per kubik sekitar 4.200. Sementara biaya produksi sekitar 3.900 per kubik. Sehingga selisih untuk pendapatan sangat kecil.
Untuk tahun 2020, hasil laporan audit akuntan swasta, Perumda berlaba Rp1 miliar lebih. Dan ini ada peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya.

“Di Sumatera Utara hanya ada sekitar 4 perusahaan daerah yang sehat. Salah satunya Siantar. Maka dengan itu, prestasi itu harus dipertahankan. Kalau perusahaan air minum di suatu daerah terus merugi, maka secara peraturan, Gubernur bisa mengambil alih,” kata Zulkifli.(pra/fabe)