News

Pekerja Tak Didaftar ke BPJS, PT Nagali Dilaporkan

Sayuti Bekerja 10 tahun

LABURA, FaseBerita.ID – Kasus kecelakaan kerja yang dialami Sayuti (51), sepulang bekerja dari perkebunan PT Nagali Semangat Jaya pada tanggal 17 Juni 2019 lalu, kini dilaporkan ke UPT Pengawas Ketenagakerjaan Wilayah VII Sumut.

Informasi dihimpun dari Sayuti, seperti kebiasaannya sekitar sepuluh tahun terakhir, Senin 17 Juni 2019 Sayuti berangkat bekerja ke perkebunan PT Nagali Semangat Jaya. Bekerja seperti biasa, setelah pulang bekerja pukul 16.00WIB, suyati mengalami kecelakaan terjatuh dari sepeda motor. Akibatnya kaki sebelah kiri persis di bawah lutut mengalami robek 5 -6 cm karena terkena standard sepeda motor.

Setelah mengalami kejadian, anak korban melaporkan kecelakaan tersebut ke manager perusahaan yang saat itu disampaikan kepada Pargaulan Sitorus. “Nantilah itu, kutelepon dulu bos (pemilik perusahaan),” ungkap Suyati menirukan ucapan Pargaulan Sitorus.

Mendengar jawaban tersebut, Suyati hanya dapat menahankan sakit sembari memanggil bidan desa untuk mengobati. Bahkan Suyati mengaku belum terdaftar menjadi peserta BPJS ketenagakerjaan dan kesehatan.

Tak berhenti disitu, satu minggu kemudian tepatnya Senin 24 Juni 2019 anak korban kembali mendatangi manager tetapi juga tidak mendapat jawaban yang memuaskan. “Belum ada putusan, karena bos belum bisa di hubungi,” demikian balasan pihak perusahaan kepada Suyati.

Akibat tidak memiliki biaya berobat, sampai hari ini (26/6/2019) Suyati masih dirawat di rumahnya, tanpa dibawa ke puskesmas atau ke rumah sakit.

Sebelum kejadian 17 Juni, Suyati juga pernah mengalami kecelakaan kerja pada tanggal 30 Januari 2019. Suyati pernah terjatuh di lokasi kerja dan mengalami kelumpuhan badan sebelah dan dirawat di rumah sakit selama 5 hari. Dan selanjutnya tidak bisa bekerja sampai Maret.

Sekretaris Konsulat Cabang Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (KC-FSPMI) Kabupaten se-Labuhanbatu Raya Wardin mengatakan, pihaknya sudah mendampingi Suyati untuk memperoleh haknya sebagai pekerja. KC-FSPMI Labuhanbatu Raya sudah melaporkan kejadian yang dialami Suayati kepada UPT Pengawas Ketenagakerjaan Wilayah VII Sumut.

“Berdasarkan UU nomor 24 tahun 2011 dan Perpres nomor 12 tahun 2013, setiap perusahaan wajib mendaftarkan tenaga kerjanya paling lama Januari 2015. Dan warga negara asing yg bekerja paling singkat 6 bulan harus didaftar menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan. Sanksinya pencabutan izin dan sanksi pidana 8 tahun atau denda minimal 1 miliar,” jelasnya, Rabu (26/6/2019).

Tegas Wardin, jadi tidak ada alasan bagi pengusaha untuk tidak mendaftarkan tenaga kerjanya ke BPJS, apalagi Suyati sudah bekerja puluhan tahun. Oleh karena itu sikap kami pengurus KC FSPMI se- Labuhanbatu Raya mengutuk tindakan pengusaha yang mengabaikan UU nomor 24 tahun 2011 tentang BPJS dan UU nomor 1 tahun 1971 yang tidak memperlengakpi buruh dengan perlengkapan kerja (K3).

“Kepala UPT Wasnaker Provsu Wil IV yang berlokasi di Rantauprapat kami minta segera melakukan pengawasan dengan baik dan benar. Jangan ada dulu korban baru bertindak dan selalu berdalih kekurangan anggaran dan kekuarangan SDM,” jelas sembari menunjukkan surat pengaduan tersebut.

Senada, Sekretaris LSM Team Investigasi Penyelamatan Aset Negara Repubulik Indonesia (TIPAN-RI) Kabupaten Labuhanbatu Anto Bangun mengatakan, kecelakaan kerja itu meliputi kecelakaan yang terjadi di tempat kerja baik berangkat dan pulang atau dari dan ke tempat kerja. Sedangkan kepesertaan BPJS Ketenagagakerjaan dan Kesehatan untuk semua pekerja merupakan kewajiban pengusaha mendaftarkannya serta membayar sebagian iurannya tanpa membedakan hubungan kerja pekerja di satu perusahaan. Apakah PKWT atau PKWTT. “Semua pekerja harus didaftarkan di BPJS, tanpa terkecuali Karyawan, BHL atau apapun statusnya,” jelasnya.

Manager PT Nagali Semangat Jaya Pargaulan Sitorus saat dikonfirmasi via selulernya mengatakan, Suyati itu berstatus BHL bukan karyawan. “Suyati itu bukan karyawan tapi BHL sehingga belum didaftarkan ke BPJS.

Terkait kecelekaan kerja yang dialami Suyati, Pargaulan menegaskan bahwa pihaknya sudah membawa dan menanggung biaya perobatan Suyati ke Rumah Sakit Labura dan Rumah Sakit di Asahan.

“Suyati sudah kita bawa berobat ke rumah sakit dan semua biaya kita tanggung. Bahkan Suyati kita minta tidak usah kerja sampai kondisinya membaik,” jelasnya. (tim/rah)