News

Pedagang Meradang, Omzet Turun 50 Persen: Kami Bukan PNS dan Harus Tetap Bekerja

FaseBerita.ID – Wabah Covid-19 berdampak buruk terhadap masyarakat khususnya pedagang. Bagaimana tidak, omzet atau penghasilan mereka turun drastis bahkan hingga 50 persen.

Seperti pedagang di Pasar Dwikora dan Pasar Horas Jaya Pematangsiantar. Aktivitas di pasar ini masih terlihat seperti biasa, meski tingkat keramaian menurun.

Inang-inang, sebutan untuk para pedagang ibu-ibu di Pasar Perluasan maupun pasar Horas ini mengaku adanya wabah Covid-19 membuat mereka tak bisa berbuat apa-apa. Faktor ekonomi adalah hal utama mengapa mereka tetap nekat berjualan.

“Mau makan apa lagi kami. Di rumah anak ada lima orang. Kalau tak membantu suami, mau kayak mana kasih makan mereka di rumah,” ujar Boru Girsang yang sehari-hari berdagang buah dan sayur.

Boru Girsang ini mengatakan setiap harinya, sebelum tengah hari, dirinya sudah mengantongi Rp1 juta dari hasil dagangan buah dan sayur. Namun apa daya. Sembari mempertontonkan rupiah yang ia raih, ia mengaku masih mengantongi ratusan ribu saja.

“Tengoklah ini dek. Baru ada Rp 200 ribu. Padahal jam segini udah Rp1 juta biasanya aku pegang,” jelasnya.

Pada dasarnya, dirinya tetap khawatir tentang pemberitaan yang masif soal Covid-19 belakangan ini di media-media elektronik. Namun lagi-lagi, urusan perut tak bisa ditahan.

Wanita itu juga mengatakan tak punya Hand Sanitizer dan punya satu masker yang tak diganti-ganti. Untuk dagangan sendiri ia mengaku belum pernah disemprot cairan disinfektan.

Senada dengan Boru Girsang, Nurhayati Purba, seorang pedagang sayur juga mengaku tak bisa menahan diri untuk harus bekerja di rumah. Puluhan tahun ia menjalani hidup dengan bersumber dari hasil dagangannya setiap pagi.

“Kau tengok itu daganganku gak berkurang-kurang nampaknya. Padahal dari jam empat subuh awak berdagang di sini. Cemana lagi mau dibilang, awak ini orang kecil. Semogalah virus itu bisa diatasi Pemerintah,” katanya.

Ia mengaku sudah 26 tahun menjanda dan menghidupi diri sendiri. Perkara kekhawatiran soal penyebaran Covid-19, Nurhayati mengaku sama khawatirnya dengan orang orang lainnya. Namun apa daya, berjualan masih patokan hidup.

“Kalau takut ya, takut. Tapi mau kayak mana? Aku ini bukan PNS yang kerja di rumah pun bisa bergaji tiap bulan. Inilah yang aku bisa,” katanya.

Nurhayati dan Br Girsang mengaku sejak adanya fenomena Covid-19 seminggu belakangan dagangan mereka turun. Bahkan pasokan sayur dan buah dari petani dikurangi agar tak sia-sia dipajangkan.

“Banyak itu buah ditahan di gudang mereka karena takut dibawa pun gak laku. Sepi karena orang gak beli. Itupun ditahan di gudang, jadi busuk. Mau bagaimana? Gak tahu lagi,” ujarnya.

Salah seorang tukang parkir yang mengaku namanya Eko mengatakan kenderaan bermotor terparkir turun 50 persen dibanding sebelum fenomena Covid-19. Bahkan sebelum pukul 12.00 WIB, kenderaan sudah sepi.

“Nanti mau jam 12 udah sepi ini, bang,” katanya sembari mengatakan setoran aja tidak pernah dapat.

Terpisah Dirut PD Pasar Horas Jaya (PHJ) Bambang Wahyono yang juga membawahi pasar Perluasan mengaku pihaknya sudah melakukan upaya pencegahan. Penyemprotan cairan disinfektan sudah dilakukan pada Kamis (26/3/2020) kemarin.

“Sudah kita semprot yang hari kamis itu,” ujarnya sembari mengatakan tak bisa menyediakan masker untuk para pedagang.

Bambang mengaku keuangan PD Pasar tak sanggup kalau menyediakan hand sanitizer dan masker satu per satu untuk pedagang. Untuk fasilitas pencegahan mereka mendirikan spot mencuci tangan di beberapa titik.

“Kemudian ada toa yang kita umumkan kepada para pedagang dan pembeli tetap menaati anjuran pencegahan Covid-19 dari Pemerintah Kota Pematangsiantar. Itu setiap dua jam sekali,” terangnya. (mag 04)

USI