News

PDIP Kawal Proses Hukum Pembunuhan Youvary Purba

FaseBerita.ID – Keluarga korban pembunuhan Youvary Aldryansyah Purba (21) warga Komplek SD 2 Serbelawan, Kecamatan Serbelawan, mendatangi Kantor PDIP Simalungun dan Kantor BMI Simalungun, Rabu (6/1). Kedua orangtua korban, Alihsyah Purba dan Sumarni, meminta pendampingan dari PDI-P dan BMI Simalungun agar proses hukum dikawal hingga tuntas.

Ketua PDIP Simalungun, Samrin Girsang dan Ketua BMI Simalungun Apel Manalu, menyatakan kesiapan membantu keluarga korban mengawal proses hukum sampai keluarga mendapat keadilan. Pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Kapolres Simalungun dan Kasat Reskrim agar proses hukum dijalankan seadil-adilnya tanpa ada interpensi dari pihak manapun.

“Kebenaran harus ditegakkan. Kita kawal sampai tuntas,” tegas Samrin.

Baca juga:

Youvary Purba Ditemukan Tewas Terborgol di Rumah Salah Satu Manager PT BSRE

Lanjut Samrin, dalam hal ini pihak perusahaan Brigestone juga harus bertanggungjawab atas kejadian tersebut. Di mana peristiwa kejadian berada di lokasi perumahaan perusahaan dan melibatkan karyawan.

“Kita tidak ingin kejadian serupa jangan terulang lagi. Perusahaan Brigestone harus mempunyai standart operasi (SOP) dalam penanganan masalah, khususnya satpam. Apakah memang dibenarkan satpam melakukan penganiayaan terhadap orang yang melakukan kesalahan di lokasi Brigestone? SOP Satpam perusahaan harus dicek dan dievaluasi,” ungkapnya.

Ketua BMI Simalungun, Apel Manalu menambahkan, dalam penanganan kasus pembunuhan tersebut pihaknya meminta agar tidak ada rekayasa terhadap keluarga korban. BMI Simalungun mendukung kinerja kepolisian dalam menegakkan supremasi hukum, tanpa ada intepensi.

“Pihak perusahaan jangan lepas tangan terhadap masalah ini. Perusahaan juga harus bertanggungjawab,” tegasnya.

Alihsyah Purba, orangtua korban, mengaku datang ke PDI-P Simalungun dan BMI Simalungun memohon pendampingan selama proses hukum. Keluarga hanya menginginkan keadilan.

Baca juga:

Kapolres Simalungun Bentuk Tim Khusus Kasus Pembunuhan di Kompleks BSRE

“Kekejaman yang dilakukan pelaku kepada anak kami menjadi beban kami. Kami hanya ingin keadilan ditegakkan seadil-adilnya,” tukasnya.

Lanjut Alihsyah, pihaknya tidak puas terhadap rekontruksi yang dilakukan pihak kepolisian. Di mana banyak ditemukan kejanggalan-kejanggalan. Diantaranya, kedua anak pelaku yang sudah ditetapkan tersangka, dalam rekontrukasi hanya sebagai orang yang menyaksikan kejadian pembunuhan.

Kemudian, pelaku lainnya masih dalam rekontruksi hanya dibuat sebagai orang yang memukul pelan sekali saja korban.

“Kalau sekali saja anakku dipukul, tidak mungkin segitu banyak luka ditubuhnya. Sementar kata dokter forensik kepada kami keluarga, bahwa kematian itu diakibatkan luka dan benturan keras dibagian vital kepala. Diantaranya, otak belakang, pelipis mata, wajah, dan tulang rusuk. Bahkan, sampai ke liang lahat anak saya masih banyak mengeluarkan darah,” ungkapnya sembari meneteskan air mata.

Masih kata Alihsyah, dalam rekontruksi tersebut ada dua orang satpam yang berperan dalam kejadian tersebut tidak dijadikan tersangka. Yakni, satpam yang memborgol, kedua satpam tersebut hanya dijadikan sebagai saksi.

Disinggung soal tanggungjawab perusahaan, Alihsyah menyatakan bahwa sampai saat ini pihak perusahaan tidak ada melakukan tanggungjawab. Hanya pihak keluarga pelaku yang datang untuk upaya perdamaian. (osi/fabe)

iklan usi