News

Partuha Maujana Simalungun Usulkan Nama Jalan Pakai Aksara Simalungun di Kota Siantar

150 Tahun Kota Siantar

SIANTAR, FaseBerita.ID – Kota Pematangsiantar  merupakan tanah leluhur etnis Simalungun dengan motto Sapangambei Manoktok Hitei, saat ini telah dihuni oleh berbagai suku etnis, hidup saling berdampingan satu sama lain dalam keadaan rukun, aman, damai dan saling menghormati. Sebagai penduduk asli kota Pematangsiantar etnis Simalungun akan tetap bertanggung jawab untuk tetap melestarikan dan mengembangkan budaya Simalungun.

Sebagaimana diamanatkan oleh Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2007 Tentang Pedoman Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat Dan Nilai Sosial Budaya Masyarakat, bahwa adat istiadat dan nilai sosial budaya masyarakat merupakan salah satu modal sosial yang dapat dimanfaatkan dalam rangka pelaksanaan pembangunan sehingga perlu dilakukan upaya pelestarian dan pengembangan sesuai dengan karakteristik dari masyarakat adat.

Ketua DPC Partuha Maujana Simalungun Kota Pematangsiantar DR (HC) Minten Saragih didampingi Sekretaris PMS Rohdian Purba, Jumat (23/4/2021), mengatakan kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka.

Berbagai strategi dilakukan oleh masyarakat setempat untuk menjaga kebudayaannya. Kearifan lokal merupakan budaya yang diciptakan oleh aktor-aktor lokal melalui proses yang berulang-ulang, melalui internalisasi dan interpretasi ajaran agama dan budaya yang disosialisasikan dalam bentuk norma-norma dan dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat

“PMS merupakan lembaga pemangku adat dan cendikiawan Simalungun dengan falsafah Habonaron Do Bona dengan motto Sapangambei Manoktok Hitei adalah lembaga yang berkewajiban untuk menggali, mengembangkan, membina serta melestarikan adat dan budaya Simalungun sebagaimana mestinya yang pada akhirnya merupakan asset budaya Nasional,” kata Rohdian.

Pelestarian kebudayaan Simalungun, lanjut pria yang sehari-hari bekerja sebagai Kepala SMIP USI ini,  ditujukan untuk mendidik masyarakat akan rasa tanggung jawab untuk Simalungun, berbangsa dan bernegara demi mengisi Kemerdekaan Republik Indonesia dalam bentuk peran aktif pada Pembangunan Daerah dan Pembangunan Nasional.

Dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional, maupuan pembangunan daerah khususnya di kota Pematangsiantar di bidang adat dan budaya sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang bahwa kearifan lokal mutlak untuk dikembangkan dan dilestarikan.

Untuk PMS sesuai dengan suratnya Nomor: 032.I /DPC.PMS/PS/IV/2021, tertanggal 21 April 2021 telah meminta kepada pemerintah kota Pematangsiantar agar, membuat nama-nama jalan dengan kearifan lokal suku Simalungun dengan memakai aksara dan bahasa Simalungun.

Hal ini sangat penting demi pelestarian budaya Simalungun sebagai kearifan lokal di kota Pematangsiantar melalui penulisan aksara dan bahasa Simalungun di setiap jalan yang berada di wilayah kota Pematangsiantar, sebagaimana dibuat pada daerah lainnya misalnya Djogjakarta, disamping tujuan untuk melestarikan aksara Simalungun, juga memberi edukasi terhadap masyarakat bahwa nenek moyang suku Simalungun pada jaman dahulu telah memiliki ilmu pengetahuan tentang aksara dan bahasa sendiri, ini merupakan kekayaan kebudayaan daerah yang juga merupakan kekayaan kebudayaan nasional.

PMS juga meminta kepada Pemerintah kota Pematangsiantar agar  pakaian dinas ASN di lingkungan Pemerintah Kota Pematangsiantar mengunakan cirikhas budaya Simalungun berupa pakain dinas, dengan menggunakan gotong parhorja. Gotong parhorja yang dikenakan oleh ASN  bertujuan agar semua ASN di Pemko Pematangsiantar bekerja dengan sepenuh hati, jujur, displin, ramah dalam melayani masyarkat kota Pematangsiantar dengan baik.

Dengan memakai gotong gotong parhorja, semua ASN diingatkan bahwa mereka adalah pelayan/parhorja  ditengah-tengah masyarakat, bukan untuk dilayani. Dengan menggunakan gotong parhorja ini nuansa kebudayaan Simalungun sebagai kearifan lokal akan semakin menunjukkan jati diri bahwa Siantar itu adalah sebagai  tanah leluhur etnis Simalungun. Di samping itu juga budaya kearifan lokal semakin terjaga dan lestari, hal ini juga sudah dilaksanakan pada daerah lainnya , seperti didaerah Bali, dan Pulau Jawa.

Rohdian Purba menjelaskan  agar kearifan lokal berjalan secara melekat maka ada baiknya dikuatkan dengan terbentuknya peraturan yang mengikat, semisal adalah Peraturan walikota (Perwa) atau Peraturan Daerah.

Selain itu juga PMS meminta kepada DPRD kota Pematangsiantar agar segera menetapkan Perda tentang motto kota Pematangsiantar yaitu Sapangambei Manoktok Hite yang sudah hampir 15 belum dicantumkan pada logo/lambang  kota Pematangsiantar. Padahal di tengah-tengah masyarakat baik kegiatan pemerintah sudah sering diungkapkan motto tersebut, termasuk slogan yang tertulis dibeberapa sudut kota dan kegiatan Pemko, namun sampai sekarang motto tersebut juga belum ada Perdanya. Motto harus melekat pada lambang daerah Pematangsiantar yang sudah berusia 150 tahun. (ros/fabe)

USI