News

Otak Penyelundupan Sabu 81,8 Kg Dihukum Mati

FaseBerita.ID – Terdakwa penyeludupan sabu seberat 81,8 kilogram dan ratusan ribu pil ekstasi disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Kisaran melalui video conference (vidcon).

Sidang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Ulina Marbun yang dalam putusannya menjatuhi hukuman mati terhadap terdakwa Tarmizi, yang disebut sebagai otak penyelundupan barang haram tersebut. Sementara untuk terdakwa Amiruddin dan Hanafi majelis memvonis keduanya dengan hukuman 20 tahun penjara dan denda sebesar Rp 1 miliar.

Sidang dilaksanakan secara terpisah akibat dampak virus corona. Sementara itu,  para terdakwa dalam sidang tersebut berada di lapas Labuhan Ruku.

“Menjatuhkan hukuman kepada terdakwa Tarmizi dengan pidana mati,” ucap Ulina di ruang utama PN Kisaran, Senin (13/4).

Majelis hakim menilai para terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 114 ayat (2) jo pasal 132 ayat (1) UU No 35 tahun 2009 tentang narkotika.

Sementara dalam persidangan lainnya yang dipimpin majelis hakim Nelson Angkat, memutuskan bahwa terdakwa Adi Putra Sari alias Tyson, Ardiansyah alias Yun, Nazaruddin Manurung dan Zul AB dijatuhi hukuman penjara selama 20 tahun dan denda Rp 1 miliar.

Sama seperti Tarmizi, Amiruddin dan Hanafi, keempat terdakwa dinilai terbukti melanggar Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) UU No 35 tahun 2009 tentang narkotika. Mendengar vonis yang dibacakan majelis hakim, jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Asahan menyatakan pikir-pikir. Sebelumnya JPU menuntut seluruh terdakwa dengan hukuman pidana mati.

Diketahui sindikat ini ditangkap petugas BNN pusat dari berbagai lokasi di Sumatera Utara pada tahun lalu berawal dari informasi, ada sebuah speed boad yang berlabuh di perairan Asahan membawa narkotika yang diambil dari wilayah perbatasan Malaysia, 2 Juli 2019 lalu.

Petugas BNN kemudian melakukan penyelidikan dan mencurigai sebuah mobil innova warna hitam BK 1430 HG. Saat mobil keluar dari sebuah rumah menuju jalan raya, tepatnya di perlintasan kereta api Simpang Warung Kisaran, sekitar pukul 17.15 WIB, tim menghentikan dan menggeledah mobil itu. Hasilnya ditemukan tiga buah ban dalam mobil, yang berisi narkotika jenis sabu dan ekstasi. Dua penumpang di mobil itu, Adi Putra dan Ardiansyah langsung diamankan.

Berdasarkan keterangan keduanya, diketahui bahwa mereka masih ada menyimpan narkotika di sebuah rumah yang berada di kawasan Desa Lubukpalas, Asahan. Saat petugas mendatangi rumah tersebut, kembali ditemukan satu buah ban dalam mobil juga yang berisi narkotika, disembunyikan di bagian belakang rumah.

Tak sampai di situ, pengembangan mencari keberadaan pelaku lainnya terus dilakukan dan hasilnya diketahui bagian dari sindikat ini tengah melintas ke arah Kabupaten Batubara, menggunakan mobil Honda Jazz BK 1004 VP.

Saat petugas BNN mengejar kendaraan tersebut, tiba-tiba muncul mobil Avanza berplat B 1321 KIJ, berusaha menyalip menghalangi pengejaran. Namun, petugas berhasil menghentikan mobil Honda Jazz dimaksud di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kabupaten Batubara. Dua orang diamankan dari mobil Honda Jazz tersebut atas nama Hanafi dan Amiruddin.

Pengembangan tetap berlanjut. Hingga akhirnya pada Rabu 3 Juli 2019 sekitar pukul 01.30 WIB, BNN berhasil menangkap Zul di sebuah rumah di perkebunan sawit, Teluk Dalam, Kabupaten Asahan.

Narkotika yang disita berupa 81,8 kilogram sabu dan 102.657 butir pil ekstasi. Kendaraan yang turut diamankan dalam kasus ini, satu unit mobil Toyota Innova BK 1430 HG, satu unit mobil Honda Jazz BK 1004 VP, satu unit mobil innova BK 1144 VI, satu unit mobil CRV BK 1735 KY, satu mobil CRV BK 1832 UO, satu unit mobil Avanza B 1321 KIJ, serta beberapa alat komunikasi. (per/rah)