News

Ompung Lama Butuh Kepedulian Kita…

TAPSEL, FaseBerita.ID – Lama Batubara (77), warga Lingkungan Panggulangan, Kelurahan Parausorat, Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan satu dari sekian lansia yang butuh kepedulian.

Dari amatan, Kamis (4/7/2019), Ompung Lama, hidup dalam kondisi sangat sederhana. Bahkan, bisa dibilang jauh dari kata sejahtera.

Ompung Lama Batubara menyebut, di hari tuanya ini, dia sudah sebatang kara. Tak ada tempat mengantungkan diri lagi. Karena suami dan 4 dari 5 anak anaknya, telah pergi untuk selamanya.

“Adong dope sada nai borukku, tai nangge jungada be mulak (Putri saya memang masih ada yang hidup, tapi tak pernah pulang),” ungkapnya.

Sekitar setahun tahun terakhir, hidupnya semakin susah. Sebab, putrinya yang berdomisili satu lingkungan dengannya telah meninggal dunia. Padahal, biasanya hidupnya sangat bergantung pada putrinya yang bernama (almarhum) Siti Rawani Rambe tersebut.

“Dung maninggal ma ia, nangge dong pature au, sada au doma dibagason,” ungkap Lama, ompung yang tinggal seorang diri dirumah sangat sederhana berukuran 5×4 meter persegi itu.

Ketika ditanya, apakah ada menerima bantuan beras atau bantuan sosial lainnya, siompung mengaku tak ada sama sekali. Kebutuhan hidupnya, tergantung belas kasihan sanak sudara dilingkungan itu.

“Dahanonku dilehen san pitora (Berasku masih ada, dari zakat fitrah),” ungkap Ompung Lama, seraya menyebut bisa makan nasi saja sudah syukur.

“Huhul holan indahani upangan, molo adong hepengku dilehen halak, utabusi ihan (Kadang aku hanya memakan nasi saja tanpa lauk. Jika ada orang ngasi uang, baru kubelikan ikan),” ujar ompung yang sudah renta ini dengan mata berkaca kaca.

Kepala Lingkungan Panggulangan Amri Nurman Harahap menyebut, warganya tersebut, memang tak mendapat bantuan apa apa dari pemerintah sejak 2010 lalu. Padahal, sebelumnya, masih menerima bantuan seperti program BLT dan beras. Tetapi, sejak saat itu, namanya tak pernah terdaftar menjadi penerima bantuan lagi.

“Dari kondisinya memang masih sangat layak mendapat bantuan. Tetapi, entah mengapa, namanya tak tercantum lagi sebagai penerima bantuan apapun,” ungkap Kepling seraya mengakui, kebutuhan hidup si ompung sangat tergantung dengan belas kasihan sanak saudara, tertama yang ada di lingkungan itu.

“Rumahnya juga sangat sederhana, tak ada listrik dan tak ada air,” ungkap Kepling dan mengaku sudah berulang kali mengupayakan agar warganya tersebut mendapat bantuan. (ran)

USI