News

Ngatirin Menderita Kanker Hidung, Butuh Bantuan Pemerintah dan Dermawan

SIMALUNGUN, FaseBerita.ID – Ngatirin (57) diduga menderita kanker hidung tak dapat berbuat banyak, faktor ekonomi membuatnya hanya pasrah dengan penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya.

Upayanya untuk mencari nafkah pun tak mampu lagi dilakukannya sebagai tulang punggung keluarga. Kini untuk bertahan hidup, ia bergantung pada istrinya yang bekerja sebagai buruh.

Ditemui di kediamannya di Lorong VII, Lingkungan VI, Kelurahan Sinaksak, Kecamatan Tapian Dolok, Kabupaten Simalungun, Selasa (22/6) siang. Ngatirin didampingi istrinya Tuminem (50) mengatakan bahwa ia sudah beberapa tahun terakhir menderita penyakit ini. Awalnya ia hanya divonis menderita polip hidung saat melakukan pertobatan di Puskesmas dan hanya diberi obat.

Seiring waktu berjalan, penyakit polip semakin parah hingga menimbulkan benjolan di hidung dan leher. “Kalau kambuh, sakitnya di kepala ini,” katanya dengan suara parau dan pelan dari pemilik raut wajah pria berambut putih itu terlihat jelas menahan rasa sakit yang amat sangat, sesekali ia menyapu benjolan di hidungnya dengan baju bekas.

Tidak banyak yang ucapkannya ketika bertemu dengan awak media dan beberapa pengurus Karang Taruna Kabupaten Simalungun dan Kecamatan Tapian Dolok serta Kelurahan Sinaksak.

Sesekali Tuminem pun bercerita bahwa untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, ibu empat orang anak ini mengatakan ia bekerja sebagai buruh pabrik keripik di lingkungan tempat tinggalnya. Untuk per harinya ia menerima upah Rp 30 ribu per hari. “Anakku yang 2 sudah menikah, dua anakku masih di sini dan sekarang gak kerja,” katanya.

Dengan rumah yang berukuran 4 meter kali 5 meter berdinding tepas yang mulai lapuk termakan usia dan sebagian ditutup plastik terpal biru mereka tinggal berempat, tak ada aliran listrik begitu juga kamar mandi yang berada di luar bagian belakang rumahnya.

Tuminem bercerita bahwa sebelumnya mereka mengontrak rumah, 3 tahun lalu, mereka dibuatkan rumah sederhana itu oleh mertuanya dan sejak itu mereka menempati rumah tersebut.

Ditambahkannya, sejak suaminya sakit sudah beberapa kali membawa suaminya berobat ke bidan dan puskesmas. Ia tak memiliki uang untuk membawa suaminya ke dokter spesialis, sementara BPJS Kesehatan juga ia tidak punya. Bahkan administrasi kependudukan berupa KTP dan Kartu Keluarga juga tidak lengkap.

“Aku gak punya KTP, tapi suami ada. Kalau anakku juga belum masuk KK makanya belum punya KTP juga,” ucapnya singkat dihadapan pengurus Karang Taruna.

Usai berbincang singkat, Pengurus Karang Taruna dengan program kerjanya Karang Taruna Perduli memberikan bantuan berupa sembako dan sejumlah uang untuk keluarga Ngatirin. Dengan harapan apa yang diberikan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meringankan beban keluarga Ngatimin.

Terpisah, Ketua Karang Taruna Kabupaten Simalungun Bonauli Rajagukguk mengatakan kegiatan yang dilakukan merupakan program Karang Taruna Perduli. Apa yang dialami keluarga Ngatirin ini adalah tanggungjawab bersama. Untuk itu diharapkannya Pemerintah Kabupaten Simalungun dapat cepat tanggap dengan adanya laporan ini.

“Kemarin kita dapat informasi mengenai keluarga ini dari pengurus Karang Taruna Kelurahan Sinaksak. Lalu saya meminta kepada pengurus Karang Taruna Kabupaten agar melakukan langkah awal untuk membantu keluarga Pak Ngatirin. Karang Taruna harus mampu hadir di tengah-tengah masyarakat dalam membantu permasalahan sosial yang sering terjadi di lingkungan masyarakat,” kata Bona.(adi/fabe)