News

Mobil Pick-up Pengangkut BBM Hangus Terbakar

TAPTENG, FaseBerita.ID– Satu unit mobil pick-up L-300 bermuatan Bahan Bakar Minyak (BBM) terbakar di Km 17 Jalinsum Barus-Manduamas, tepatnya di Dusun Pangambatan, Desa Pardomuan, Kecamatan Sirandorung, Tapteng, Jumat (7/5) sekira pukul 21.20 WIB. Diduga kebakaran akibat korsleting kabel perapian mobil.

Informasi dihimpun, L-300 BK 8243 XI yang dikemudikan Tanjung (50), terbakar saat melintas di Jalan Lintas Sumatera dari arah Barus menuju Manduamas. Di tengah perjalanan, saat mendaki di tanjakan ram kelapa sawit Desa Pardomuan, tiba-tiba ada api menyala di bak mobil. Sopir mobil yang mengetahui ada nyala api, segera keluar.

“Sebelum terbakar, mobil sempat mundur karena tidak kuat menanjak,” ujar S Sihombing (48), warga sekitar.
Api yang menyala langsung membakar mobil. BBM yang berada di atas bak, memudahkan api melahap seluruh mobil. Walau tidak menimbulkan korban jiwa, puluhan jerigen berisi BBM jenis bensin dan solar musnah dilalap api. Hanya sebagian kecil yang berhasil diselamatkan. Kerugian material diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

Disebut-sebut, puluhan jerigen bensin dan solar yang hendak dibawa ke Manduamas tersebut didapatkan dari SPBN Sitiris-tiris, yang notabenenya khusus untuk menyuplai bahan bakar nelayan. Apakah peristiwa kebakaran yang terjadi pada malam hari ada kaitannya dengan legalitas BBM yang terbakar ?

“Yang kita tahu SPBN Sitiris-tiris diperuntukkan bagi kapal nelayan yang ada di wilayah Barus sekitarnya,” kata Johannes Sigalingging, salah seorang aktivis sosial di kota Barus.

Masih kata Johannes, setiap agen/penyalur yang mengambil BBM dari SPBU Sitiris-tiris harus mengantongi Surat Keterangan Penyalur (SKP) bahan bakar minyak untuk penyaluran di laut atau sungai. Disinyalir, pemilik usaha telah melakukan pengangkutan dan niaga BBM tanpa izin usaha. Padahal, Sesuai Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, kegiatan usaha hilir harus mengantongi izin dari Pemerintah.

“Harus ada itu, dokumen perizinan perniagaan dari pemerintah,” timpalnya.
Johannes juga mengungkapkan, pengangkutan BBM dengan memakai mobil puck-up sangat berbahaya dan berisiko tinggi. Melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 18 tahun 2018 tentang Pemeriksaan Keselamatan Instalasi dan Peralatan pada Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi, Pemerintah telah menetapkan klasifikasi kegiatan inspeksi terhadap instalasi dan peralatan yang dapat digunakan untuk menjamin keselamatan migas

“Produk BBM itu memiliki titik nyala yang lebih tinggi. Tidak sembarangan alat transportasi yang bisa membawanya. Bayangkan jika peristiwa kebakaran itu tepat di lokasi pemukiman warga. Bisa-bisa rumah warga ikut terbakar,” tukas pria yang akrab disapa dengan sebutan Boncel ini.(ztm/fabe)