News

Merah Putih Berkibar di Puncak Gon-gonan

TAPSEL, FaseBerita.ID – Perayaan HUT ke-74 Kemerdekaan RI tahun ini sepertinya punya kebanggaan tersendiri bagi sebagian masyarakat. KPA Forester Tapanuli Bagian Selatan bersama NNB Pintupadang, Batang Angkola, Tapsel, misalnya.

Untuk memeriahkan perayaan HUT RI, mereka mengibarkan bendera merah putih di Puncak Gunung Gon-gonan, sekaligus pamasangan tugu trigulasi di dataran 1.396 meter di atas permukaan laut, Sabtu (17/8/2019).

Namun, pada Jumat malam, beberapa menit sebelum pemberangkatan 70 peserta tersebut terlebihdahulu dilepas Lurah Pintupadang. Tokoh masyarakat setempat mengungkapkan, bila Gunung Gon-gonan memiliki sejarah dalam perjuangan para pejuang negeri.

Di bawah Gon-gonan itu, ke arah timur, ada Desa Pintu Padang dan Benteng Huraba. Benteng Huraba merupakan ikon perjuangan rakyat dalam menghalau para penjajah pada saat perang kemerdekaan dahulu.

Ketua Panitia Alamasyah dan Ketua KPA Forester Tabagsel Ahmad S Daulay mengungkapan, sesuai dengan tema ‘Lestari Alamku, Merdeka Negeriku’, maka dari kegiatan ini ada harapan bila alam di sekitaran Gon-gonan khususnya tetap lestari dengan hasil yang langsung dirasakan masyarakat.

Pendakian ke Gunung Gon-gonan dimulai tengah malam, pukul 00.00 WIB. Dengan target tiba di puncak gunung pada pukul 10.00 WIB. Metro Tabagsel mengikutinya bergabung bersama panitia. Dari 70 peserta keseluruhan, sebagian besar merupakan mahasiswa-mahasiswi dari berbagai perguruan tinggi di Kota Padangsidimpuan.

Pendakian malam ini membutuhkan penerangan, maka masing-masing peserta membutuhkan senter atau head lamp. Dalam menapaki trek, ini lebih sulit bila dibanding pada siang hari.

Peserta sedang melewati trek yang terjal dan jalan yang lembab dengan memegang tali, Sabtu (17/8) ke Puncak Gon-gonan, Kabupaten Tapanuli Selatan. (Samman Siahaan)

Harus teliti jalan, dan jangan sampai berpencar. Sebab, trek menuju Gunung Gon-gonan baru dibuka, dan merupakan jalan satu-satunya yang tersedia menuju kesana.

Dari ujung permukiman hingga ke puncak, hampir tidak ada dataran atau jalan menurun, rerata jalurnya merupakan tanjakan, dan tentunya sangat menguras tenaga. Dari ujung permukiman ini juga, hingga ke pos I di pinggiran sungai Siram, masih merupakan daerah perkebunan warga. Namun jalurnya terus menanjak.

Selepas sungai Siram, tidak banyak yang dapat disaksikan kecuali harus teliti pada treknya. Sebab, jalur ini rerata melintasi bahu gunung, dan hutan yang terbilang masih perawan yang pada kiri dan kanannya merupakan jurang yang curam. Dan tentunya, perjalanan menjadi lebih lambat. Apalagi banyak peserta yang harus istirahat, memulihkan tenaga.

Tim sampai di Pos kedua pada pukul 06.00 WIB. Kala matahari sudah menampakan sinarnya. Di waktu seperti ini, mulai banyak suara-suara satwa sejenis primata serta burung yang sahut-bersahut. Dari sini pula, sampai di titik puncak, akan jarang terlihat sinar matahari. Kanopi-kanopi pepohonan yang menjulang tinggi menutupinya.

Dari pos terakhir ke puncak Gon-gonan, lebih sulit lagi. Selain banyaknya rotan yang merintangi atau pangkalnya yang penuh duri, juga tanahnya lembab tertutupi tumbuhan lumut atau daun-daun cemara gunung.

Maka tak ayal, di tengah trek ini disediakan tali sepanjang 30 meter, sebagai pegangan dalam menapaki trek. Pada trek ini juga, lebih banyak harus merangkak melewati dari bawah-bawah akar pepohonan yang telah dijalari lumut-lumut.

Terakhir, di Puncak Gon-gonan, seluruh peserta tiba pada pukul 11.00 WIB siang. Tak lama, upacara pengibaran bendera dan membentangkan bendera sepanjang 20 meter sebagai peringatan hari Kemerdekaan RI ke-74, sekaligus pemasangan tugu trigulasi di sana. Upacara ini dipimpin Ketua KPA Forester Tabagsel, Ahmad S Daulay.

Dataran di puncak Gon-gonan kurang lebih dari 30 meter persegi. Panjang trek secara keseluruhan yang dilalui sejauh 12.6 Kilometer. Dengan elevasi tanjakan lebih dari 1.100 meter. Peserta terakhir yang kembali ke perkampungan di Pintupadang, tiba pada pukul 20.00 WIB.

Kegiatan seperti ini menjadi komitmen bagi Forester Tabagsel dalam menjaga lingkungan serta membina masyarakat sekitar untuk turut membina dan memiliki penghidupan dari alam sekitar, tanpa merusaknya.

“Ini sudah menjadi rencana kita. Beberapa lokasi yang terdapat penebangan pohon, akan kita tanami lagi berbagai tanaman berbuah, nantinya bisa menjadi daerah agro wisata,” kata perwakilan pendiri KPA Forester Tabagsel, Ahmad Negara. (san)