News

Martin Manurung Tegaskan Danau Toba Terima Wisatawan Semua Agama

Diskusi Daring Fraksi Nasdem dengan Menparekraf Sandiaga Uno

JAKARTA, FaseBerita.ID – Anggota DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) Sumatera Utara II, Martin Manurung menegaskan kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno bahwa destinasi wisata Danau Toba menerima wisatawan dari semua agama. Sehingga tidak perlu ada pemberian label tertentu.

“Danau Toba itu dapil saya. Kalau ada yang mengatakan akan kembangkan wisata halal Danau Toba, orang-orang (warga daerah) pasti marah. Karena sejak dulu Danau Toba itu sudah menerima dengan baik wisatawan dari berbagai agama,” ujar Martin kepada Sandiaga Uno, dalam diskusi daring Fraksi Partai NasDem DPR RI bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tentang pengembangan wisata halal di Indonesia, Rabu (13/01/2021).

Jika dilihat secara jelas, kata Martin, emenitas atau fasilitas-fasilitas pendukung bagi wisatawan muslim sudah tersedia di kawasan wisata Danau Toba, sejak lama. Seperti hotel dan restoran yang menyediakan makanan halal, tempat ibadah, dan fasilitas pendukung lainnya. Namun jika dirasa perlu menambah fasilitas ibadah seperti mushola, Martin meyakini bahwa masyarakat Danau Toba tidak ada yang keberatan.

“Saya mengenal daerah itu (Danau Toba). Saya pikir tidak ada satupun orang yang akan menolak untuk membangun fasilitas mushola. Yang terpenting harus duduk bersama dengan para tokoh masyarakat di sana (untuk mendiskusikan) emenitas atau fasilitas pendukung apa sebenarnya harus kita lengkapi untuk mengembangkan pariwisata Danau Toba ini,” kata Wakil Ketua Komisi VI DPR RI tersebut.

Ketua DPP Partai NasDem itu juga menjelaskan bahwa dari data Global Muslim Travel Indeks, Indonesia sudah berada di posisi pertama untuk destinasi wisata halal terbaik dunia, tahun 2019. Sehingga tidak perlu ada lagi pemberian label yang justru dapat menciptakan kegaduhan dan merugikan destinasi wisata itu sendiri.

“Ini sebenarnya sudah on the track. Sudah bagus. Tinggal kita kerjakan saja di lapangan. Tidak perlu terlalu banyak diberikan label. Sehingga bisa kita kembangkan destinasi wisata dan kita bisa raih pasar sebanyak-banyaknya dari konsumen ini,” pungkas Martin.

Dalam FGD ini, Menparekraf Sandiaga Uno  mengatakan bahwa pemahaman kita mengenai pariwisata halal ini masih belum satu frekuensi. Masih perlu pemahaman yang sama.

Menurut Sandi, kita tidak boleh terjebak pada istilah atau terminologi terkait pariwisata halal ini, yang justru dapat membuat kegaduhan. “Bapak Presiden menitipkan, mbok ya jangan gaduh. Kita nggak mau gaduh lah. Kita mau rangkul semua,” katanya.

Terkait Danau Toba, Sandi sepakat bahwa di sana sudah ada fasilitas-fasilitas bagi wisatawan muslim. Seperti restoran penyedia makanan halal.

“Saya sepakat dengan Pak Martin. Betul, memang dalam kunjungan saya ke Danau Toba sudah ada restoran-restoran yang memberikan extention of services,” katanya.

“Saya sudah ke Danau Toba, ke Labuhan Bajo, Kd Bali. Semua makanannya Halal, itu sudah ada. Tinggal tadi, extention of services,” kata Sandi.

Sandi mengatakan Danau Toba punya peluang untuk terus berkembang dan semakin banyak dikunjungi. Agar dapat membuka lapangan kerja seluas-luasnya di sektor pariwisata dan membangkitkan ekonomi kreatif.

“Peluang-peluang ini harus kita kembangkan bersama-sama. Dan mudah-mudahan kita tidak terjebak dengan terminologi-terminologi,” ungkap Sandi menyambut masukan dari Martin Manurung.

Dalam FGD ini, Fraksi NasDem bersama Menparekraf Sandi Uno sepakat bahwa kita tidak boleh terjebak pada label atau terminologi “wisata halal” yang melahirkan kegaduhan. Itu tidak perlu. Yang perlu ada penyamaan frekuensi pemahaman, agar kita bisa mengambil peluang pasar ini.

“Kita sepakat kalau soal ketersediaan makanan halal, tempat sembahyang dan lain sebagainya untuk wisatawan muslim dan semua agama. Penyamaan frekuensi seperti ini sangat penting, agar kerja-kerja pembenahan yang dilakukan pemerintah bisa lebih maksimal,” pungkas Martin.(rel/fabe)