News

LIPI Luncurkan Alat Deteksi Penggunaan Masker

FaseBerita.ID – Pusat Penelitian Informatika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI meluncurkan alat deteksi pengggunaan masker atau disebut detektor masker LIPI (DeMasPI).

Tujuan peluncuran adalah untuk mendukung pemerintah dalam penanganan penyebaran Covid-19. Mengingat, pentingnya penggunaan masker dapat mengurangi resiko penularan penyebaran virus Corona Covid-19.

Menurut peneliti Pusat Penelitian Informatika LIPI pada Kelompok Penelitian Computer Vision Risnandar, penelitian ini berupa pembangunan sistem perangkat lunak yang diprogram secara khusus dan berguna untuk mendeteksi kepatuhan masyarakat yang tidak memakai masker atau pengguna masker tidak sesuai dengan ketentuan.

“Dalam penelitian ini membutuhkan perangkat keras, di antaranya kamera yang terpasang di notebook, komputer, ponsel maupun Closed-Circuit Television (CCTV),” ujar Risnandar dalam keterangan resminya, Senin (1/2).

Dia mengatakan, spesifikasi kamera dengan resolusi tinggi dan ketepatan jarak pengambilan live video juga menjadi hal penting yang perlu dilakukan.

“Karena hasil live video ini akan menentukan proses deteksi penggunaan masker,” ucap Risnandar.

Dia menjelaskan, penelitian ini telah melalui pengembangan desain sistem detektor, persiapan coding dan programming dengan python, keras, dan tensorflow.

Selain, lanjut dia, implementasi dan uji coba tahap awal menggunakan data set (image dan video) yang tersedia dan live video.

“Pengembangan DeMasPI ini mulai pada bulan Juli 2020, berawal dari analisis kebutuhan, pencarian dataset (image dan video), membandingkan kelebihan dan kekurangan dengan teknik, metodologi, dan substansi penelitian sebelumnya,” papar Risnandar.

Tahapan dan Keunggulan DeMasPI

Risnandar kemudian menjelaskan untuk tahap saat ini telah dilakukan deployment sistem testing dan debugging, serta finishing atau maintenance sistem detektor masker.

Dia mengaku melalui berbagai simulasi untuk menguji akurasi, pemograman DeMasPI ini dapat mendeteksi kepatuhan penggunaan masker rata-rata hampir 95 persen lebih.

Artinya, kata Risnandar, program ini dapat mendeteksi individu dengan penggunaan masker yang tidak sesuai dengan ketentuan yaitu melalui mata, hidung dan mulut.

“Juga dengan berbagai skenario tanpa membatasi jumlah orang yang akan dideteksi, berbagai jenis masker, dan termasuk berbagai corak bahan pada masker,” terang dia.

Risnandar menerangkan keunggulan DeMasPI dapat mendeteksi kepatuhan penggunaan masker dalam jumlah orang yang tidak terbatas dan dideteksi secara langsung atau real-time.

Dia mengklain DeMasPI dapat diaplikasikan pada kerumunan di area publik seperti jalan raya, stasiun, terminal, pasar, perkantoran, maupun sekolah dan perguruan tinggi.

“Namanya penelitian yang dilakukan manusia, tentu tidak sempurna berhasil 100 persen mencegah penyebaran pandemi Covid-19. Saya harap, DeMasPi ini dapat membantu untuk menyadarkan dan menjalankan protap Covid-19 secara baik dan benar menurut peraturan yang berlaku,” jelas Risnandar. (int)