News

Layanan Kesehatan Indonesia Menuju Universal Health Coverage

JAKARTA, FaseBerita.ID-Webinar Media Workshop dan Anugerah Lomba Karya Jurnalistik BPJS Kesehatan Tahun 2021, pada hari kedua, Jumat (29/10/2021) dengan thema Menjaga Keberlangsungan Program JKN-KIS.

Nara sumber yakni Direktur Perluasan dan Pelayanan Peserta BPJS Kesehatan Ir David Bangun, Muttaqien MPH AAK selaku anggota DJSN, dan Pakar Asuransi Kesehatan, Prof Budi Hidayat.

David Bangun membawakan materi dengan judul ‘Mencapai Universal Health Coverage melalui peningkatan kualitas layanan’. Sementara Prof Budi Hidayat memaparkan materi ‘Menjaga Kesinambungan Pendanaan Program JKN-KIS

Dalam pemaparannya, David Bangun mengatakan, kondisi Universal Health Coverage (UHC) terjadi dimana masyarakat mendapat akses yang sama pada layanan kesehatan berkualitas. Pemerintah sudah memasukkan ke RPJMN tahun 2024 untuk memberikan perlindungan 98 persen masyarakat Indonesia. Kondisi saat 165 kabupaten/kota sudah UHC, 5 provinsi sudah UHC di atas 95 persen.

Peserta JKN-KIS sudah mencapai 83% dari total penduduk Indonesia atau sebanyak 226,3 juta jiwa. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat semakin percaya terhadap pelayanan BPJS Kesehatan. Didominasi PBI dan PD Pemda, sebagai komitmen pemerintah untuk melindungan masyarakat.

Menjadi tantangan dalam upaya perluasan peserta yakni di segmen PBPU, segmen PPU PN, dan segmen PPU swasta.

Di tengah pertumbuhan peserta JKN-KIS, peningkatan kualitas layanan dan kepuasan peserta harus ditingkatkan, mulai dari mengoptimalkan layanan digital di berbagai aspek, menyediakan layanan pengurusan administrasi, pemenuhan informasi.

Layanan lain yang telah berhasil dikembangkan adalah aplikasi Mobile JKN, BPJS Kesehatan Care Center 165, Chat Assistant JKN (Chika, Pelayanan Administrasi melalui Whatsapp (Pandawa), Pelayanan Informasi dan Penanganan Pengaduan (PIPP), hingga media sosial resmi BPJS Kesehatan.

“Kami telah menerapkan sistem online di pelayanan kesehatan seperti antrean online di fasilitas kesehatan, display tempat tidur, display tindakan operasi, konsultasi dokter online, dan sebagainya. Kami juga memudahkan peserta untuk membayar iuran JKN-KIS melalui kanal non-tunai melalui autodebit, fasilitas perbankan maupun non perbankan, Kader JKN, dan lain-lain,” ujar David.

Sementara Pakar Asuransi Kesehatan Universitas Indonesia Budi Hidayat dalam materi berjudul ‘Menjaga Kesinambungan Pendanaan Program JKN-KIS’ menjelaskan, awalnya di Indonesia multi penyelenggaraan jaminan kesehatan tetapi sekarang dominasi single player oleh BPJS Kesehatan.

JKN menjadi laboratorium kesehatan sosial terbesar di dunia. Bukan saja di Indonesia. Hal ini tidak lepas dari kebijakan yang mempunyai implikasi yang teruji. Dan dunia bisa mengadopsi atau meniru ini, seperti India dan China.

Untuk menjaga kesinambungan pendanaan finansial program JKN-KIS dalam jangka panjang, diperlukan setidaknya empat solusi sistemik yang bisa diimplementasikan pemerintah, BPJS Kesehatan, dan pihak-pihak terkait lainnya.

“Empat solusi tersebut yaitu dengan mengontrol utilisasi abnormal, melakukan rasionalisasi tarif layanan, menetapkan iuran yang ideal, dan mengoptimalkan tata kelola kepesertaan,” kata Budi Hidayat.

Sementara itu, Anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional Muttaqien mengatakan program JKN-KIS semakin mendekat dan menjangkau seluruh penduduk Indonesia. Diperlukan rencana strategis yang sistematis dan terukur untuk mencapai target terlindunginya 98% penduduk Indonesia dalam Program JKN-KIS pada tahun 2024.

Monitoring dan evaluasi terpadu dengan mekanisme dan kriteria standar harus dilakukan. Perlu optimalisasi pemanfaatan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) untuk mengendalikan biaya dan menguatkan loyalitas peserta terhadap Program JKN-KIS.(esa/fabe)