News

Laporan Penipuan ‘Jalan di Tempat’ di Polsek Barumun

FaseBerita.ID – Sejak dilaporkan 26 Desember 2019 lalu, hingga kini belum ada tanda-tanda tindak lanjut kasus penipuan yang dilaporkan ke Polsek Barumun. Yusuf Azhari, selaku pelapor menduga kasus ini mandek.

Kepada Metro Tabagsel belum lama ini, Yusuf Azhari dan Syarif Hidayatullah selaku korban penipuan atas FNN menyebutkan awal terjadi tindak pidana penipuan tersebut. Berawal dari kesepakatan kerja sama pembentukan agen gas di Kabupaten Palas.

FNN dan kroninya merekrut sejumlah investor lokal (korban, red) guna kerja sama tersebut. Ada belasan orang yang andil dalam kerja sama yang disepakati. Masing-masing menginvestasikan dana bervariasi. Mulai Rp35 juta hingga Rp70 juta.

Penyerahan uang dilakukan November 2018 di kantor notaris Rahma Yanti SH MKn yang beralamat di jalan KH Dewantara lingkungan VI Padang Luar Sibuhuan.

Namun hingga setahun berlalu, bisnis kerja sama yang di angan-angankan tak kunjung ada. Kejelasan dana keseluruhan diperkirakan Rp700 juta, yang sudah diserahkan kepada FNN juga semakin keruh.

Seiring bergulirnya waktu, korban dan pelaku sepakat berdamai. Hingga akhirnya dipertemukan kembali yang turut dimediasi dan dihadiri wakapolres Palas Kompol Kuto Pulungan di kantor notaris Rahma Yanti SH MKn.

Disitu pelaku FNN sepakat akan mengembalikan dana masing-masing korban. Namun hingga deadline yang ditentukan, tak kunjung ada pengembalian dana dari pelaku kepada korban.

Sebelumnya kasus ini telah sampai ke meja Polsek Barumun. Yusuf Azhari resmi melaporkan tindak penipuan ini tertanggal 26 Desember 2019 lalu.

Hanya saja pelapor menduga laporan ke polisi itu mandek.

“Sebab, sampai detik ini belum ada kejelasan bagaimana perkembangannya, uang kami tak kembali, yang bersangkutan (pelaku, red) pun santai,” kata Yusuf Azhari dan Syarif Hidayatullah.

Kapolsek Barumun AKP Suprihanto melalui Kanit Reskrim Aiptu Saiful Bahri mengaku telah berkoordinasi dengan Kasat Reskrim Polres Palas guna menyurati kantor notaris di Medan. Tujuannya agar pihak kepolisian bisa memanggil dan memeriksa notaris Rahma Yanti. Hanya saja belum ada kepastian akan tindakan tersebut.

“Sudah saya koordinasikan itu ke kasat supaya disurati, tapi entah udah gimana belum tahu,” kata Saiful yang mengaku LP itu terjadi sebelum dia menjabat kanit.

Sementara Waka Polres Palas Kompol Kuto Pulungan yang dikonfirmasi juga membenarkan turut hadir di notaris Rahma Yanti SH MKn memediasi kedua belah pihak beberapa waktu lalu. Dan di situ terbangun kesepakatan agar pelaku membayar dana tersebut kepada para korban. Hanya saja, alasan pandemi jadi kendala pembayaran tak dilakukan sampai melewati batas deadline yang ditentukan.

“Iya, saya hadir di situ. Belum selesai karena saat ini corona,” tukas Kompol Kuto. (tan)

USI