News

Lanjutan Sidang Penipuan CPNS: Saksi Ngaku Disuruh Kirim Uang

TAPTENG, FaseBerita.ID – Sidang lanjutan dugaan penipuan CPNS dan pencucian uang yang dipersangkakan terhadap mantan Bupati Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Raja Bonaran Situmeang (RBS), kembali digelar, Senin (6/5).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan tiga saksi, yakni Sukran Jamilan Tanjung, Yesi Mayasari dan seorang petugas Lapas Klas II A Sibolga.

Yesi Mayasari, yang merupakan staf administrasi pada tahun 2013 hingga 2015, dalam kesaksiannya mengaku pernah mengirimkan uang sebesar Rp3.300.000 ke rekening Farida hutagalung atas perintah Raja Bonaran Situmeang, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Tapteng.

“Saya dulu staf administrasi semasa terdakwa menjadi bupati. Saat itu saya disuruh terdakwa mengirimkan uang ke rekening Farida Hutagalung, tapi saya tidak tau uang itu untuk apa,” jelasnya, sembari menambahkan jika ia tidak mengenal Heppy Rosnani Sinaga dan Farida Hutagalung, namun mengakui pernah melihat Efendi Marpaung sebayak dua kali.

Sementara, pengakuan dari petugas lapas dalam keterangannya menyatakan, pertemuan Sukran Jamilan Tanjung dengan Heppy Rosnani tidak diketahui untuk tujuan apa. Saat itu, dirinya hanya diperintahkan oleh atasan untuk menjaga pertemuan Sukran dan Heppy di dalam ruangan.

“Saya diperintahkan oleh atasan untuk menjaga Pak Sukran dan Heppy. Saya tidak tau tujuan mereka bertemu. Tapi sepengetahuan saya, pada pertemuan itu mereka sepertinya baru kenal dan terlihat biasa saja,” paparnya.

“Yang saya tau mereka hanya berbincang-bincang terkait masalah Pak Bonaran dan Heppy. Saya juga tidak tau jelas apa yang meteka perbincangkankan,” sambungnya.

Sukran Jamilan Tanjung, yang dihadirkan JPU pada persidangan berdasarkan pengakuan Heppy Rosnani pada persidangan sebelumnya, mengaku mendatangi Heppy untuk mencabut laporan yang menjerat RBS. Sebelum pertemuannya dengan Heppy Rosnani Sinaga, ia ditemui seseorang yang mengaku adik Heppy Rosnani, saat dirinya sedang menunggu kelurganya yang datang berkunjung menemuinya di Lapas. Orang tersebut menceritakan kasus yang sedang dijalani Heppy di Lapas kelas II A Sibolga.

“Aku sedang menunggu kakak dari Jakarta di ruang tunggu. Tiba-tiba datang seseorang yang mengaku marga Sinaga dan katanya dia adik Heppy Rosnani. Dia bilang mereka sudah capek dengan janji-janji Bupati. Katanya Bupati berjanji akan menguruskan kakaknya di MK, dan tidak akan di tahan di Lapas. Mereka mengaku akan mencabut laporan yang mengadukan Bonaran. Itulah yang membuat saya ingin mengetanui kebenaran yang dikatakan orang yang mengaku adik si Heppy,” ujarnya.

Sukran menegaskan, pertemuan dengan Heppy Rosnani merupakan inisiatif dirinya sendiri dengan tujuan untuk mengetahui kebenaran dari pernyataan orang yang mengaku adiknya Heppy. Namun pernyataan yang dia dengar dari orang yang mengaku adik Heppy tidak sesuai dengan hasil keterangan Heppy Rosnani Sinaga.

“Saya dibilangin kawan apa sudah kenal dengan Heppy Rosnani Sinaga, saya jawab belum. Kata kawan saya saat itu Heppy ada di dalam ruang tunggu maen anak-anak sama keluarganya. Kalau gak salah, saat itu juga ada yang datang mengaku adik Heppy Rosnani Sinaga,” jelasnya.

Namun saat JPU mempertanyakan, apakah Sukran benar meminta Heppy Rosnani Sinaga untuk mencabut laporannya, ia menyatakan ‘tidak benar’. Mendengar jawaban itu, sontak JPU berkata jika Sukran harus disergap, karena memberikan keterangan palsu.

“Ini harus di sergap karena memberikan keterangan palsu,” ucap Jaksa Syakrul Efendi Harahap.

Kepada awak media seusai persidangan, Raja Bonaran Situmeang membantah kesaksian Yesi Mayasari. Ia menyebutkan, jika pernyataan mantan staf administrasi itu tidak benar, dan secepatnya akan melaporkam Yesi karena memberikan keterangan palsu.

“Ini nanti akan kita laporkan karena memberikan keterangan palsu. Kita masih yakin kepada polisi, apa lagi kepada bapak Kapolri Tito Karnavian. Kita yakin polisi akan menanggapi laporan kita,” tukas Bonaran. (ztm)