News

Kualitas Pendidikan Tak Merata Teknologi Bisa Jadi Solusinya?

FaseBerita.ID – Pendidikan jadi salah satu sektor penting untuk memajukan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Sayangnya, ada ketimpangan antara kualitas pendidikan di daerah maju dan daerah yang ada di area 3T (tertinggal, terdepan dan terluar).

Direktur Pengembangan Sumber Daya Manusia Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PDT), Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI, Priyono mengatakan, ada 122 kabupaten tertinggal dari total 400 kabupaten di Indonesia. Belum cukupnya jumlah tenaga pendidik di daerah-daerah itu menimbulkan ketimpangan kualitas pendidikan.

“Karena itulah, diperlukan proses belajar mengajar yang mengandung terobosan untuk mendukung percepatan kualitas pendidikan di daerah tertinggal. Dalam hal ini, dibutuhkan peran teknologi,” ujar Triyono kepada Warta Ekonomi di GoWork Pacific Place, Selasa (14/5/2019).

Untuk mengatasi masalah itu, Kemendes-PDTT menggandeng platform teknologi pendidikan, Zenius Education. Melalui sistem yang terintegrasi, para murid dan guru di daerah tertinggal dapat mengakses 70 ribu konten pendidikan di platform itu.

CEO Zenius Education, Wisnu Subekti berkata, “Jadi, kami buat produk yang berguna untuk membantu guru dan sekolah dalam pembuatan soal, uji materi. Namanya Zenius Prestasi, bisa diakses secara online atau pun offline.”
Akses secara daring dapat dilakukan lewat situs Zenius. Sementara itu, akses secara luring akan memanfaatkan jaringan wireless pada perangkat server boks milik Zenius yang diletakkan di masing-masing sekolah.

“Kalau ada gawai laptop atau ponsel pintar, bisa connect ke wireless itu. Jadi, nanti terhubung ke jaringan lokal dan bisa akses materi di server Zenius,” jelas Chief Innovation Officer Zenius, Rizky Andriawan.

Kemendes-PDTT dan Zenius memilih 15 sekolah di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat untuk menguji coba sistem itu. 10 di antaranya merupakan sekolah yang berada di titik tanpa koneksi internet sehingga akan memanfaatkan akses secara luring ke server boks Zenius.

Priyono menambahkan, “Di wilayah itu sudah ada jaringan 2G. Kami memilih daerah yang online dan offline, sebagian besar termasuk ke kategori offline.”

Sekolah yang menjadi fokus utama kedua pihak itu berada di tingkat SD dan SMP. Khususnya yang sudah menduduki kelas 6 atau pun kelas 9.

Sekadar informasi, satu server boks Zenius yang ditempatkan di masing-masing sekolah diklaim dapat digunakan sekitar 50 sampai 100 siswa untuk belajar. Guru pun dapat mengakses materi seputar cara ajar dan pengembangan soal ujian untuk semakin meningkatkan kualitas pengajaran mereka agar tak ketinggalan dari para muridnya. (int)

USI