News

Korban Longsor di PLTA Simarboru Tapsel Belum Ditemukan: Operasi SAR Dihentikan

FaseBerita.ID – Korban longsor di lokasi pembangunan PLTA Simarboru, Aruan Mari Masnyah Ritonga (38), warga Dusun Hutaimbaru, Desa Luat Lobang, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapsel, belum ditemukan hingga berita ini dikirimkan, Minggu (13/12).

Pada Kamis 10 Desember 2020 lalu, Tim SAR gabungan yang didalamnya ada Basarnas Sumatera Utara, BPBD Tapanuli Selatan, TNI dan Polri, juga telah menghentikan pencarian, terhadap Aruan. Dimana, sebagai operator excavator di PLTA ini, jatuh terseret longsor dari tebing sekitar 250 meter, hingga ke dasar Sungai Batangtoru, pada Jumat (4/12) petang lalu.

Penghentian pencarian oleh Tim SAR tersebut, dikemukakan oleh Ketua Tim M Rizal Rangkuti, perwakilan Basarnas Sumatera Utara. Hal itupun, diungkapkanya dihadapan perwakilan Forkopimda Tapanuli Selatan, Forkopimcam Sipirok, perwakilan PT NSHE, PT Syno Hydro, perwakilan keluarga korban dan media, pada pertemuan di Site Sipirok.

Pada kesempatan itu Risal rangkuti menyebut, seluruh tim, telah melakukan berbagai upaya, tentunya sesuai dengan SOP dalam mencari korban, yang diduga terseret longsor bersama alat berat yang dikendarainya. Namun, belum membuahkan hasil.

“Langkah dan upaya yang kita lakukan tentunya terus dilaporkan pada pimpinan di Medan. Dan, sesuai perintah pimpinan, operasi SAR yang kita laksanakan untuk mencari korban, tidak efentif lagi, dan dihentikan pada hari ini,” ungkapnya seraya menyampaikan, tindak lanjut pada pencarian dilakukan dengan pemantauan saja.

“Begitupun, Basarnas siap turun lagi jika dibutuhkan, apalagi jika nantinya ada titik terang dengan keberadaan korban,” ucapnya.

Untuk diketahui, pada hari kedua, titik jatuhnya excavator itu sendiri telah ditemukan. Berada ditengah aliran sungai dengan kedalaman 4 hingga 5 meter. Dimana, sekalipun ‘bangkai’alat berat tersebut telah kelihatan, namun belum bisa dijangkau oleh petugas, untuk memastikan ‘korban’ berada didalamnya. Hal ini diakibatkan, selain berada di tengah aliran sungai yang deras, juga dipengaruhi kondisi topografi tanah yang curam serta licinnya di kiri kanan sungai.

“Inilah salah satu kesulitan tim dalam melakukan operasi SAR,” sebut Rangkuti.

Menanggapi penghentian pencarian korban melalui operasi SAR, Firman Taufick selaku Communications and External Affairs Director PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) atau pengelola PLTA Batangtoru, kepada wartawan menyampaikan, keputusan Basarnas menghentikan pencarian korban, sangat dihormati. Tentunya hal itu dikarenakan, semua harus sesuai SOP, dan pastinya sudah sesuai dengan protokol yang berlaku.

“Begitupun kami akan terus memantau dan berkoordinasi dengan Basarnas, dan siap memberi informasi terbaru di lapangan,” jelasnya.

Firman juga menyampaikan, ungkapan terimakasih kepada Pemkab Tapsel, TNI, Polri, Camat Sipirok, para Kepala Desa, masyarakat dan relawan yang secara tulus dan bahu membahu mendukung upaya pencarian.

Dan kepada keluarga yang ditinggalkan, Taufick mewakili PLTA Batangtoru menyampaikan rasa duka cita mendalam atas musibah ini. Segenap manajemen sangat memahami apa yang dirasakan keluarga korban, dan berharap dapat selalu ikhlas tabah atas musibah ini.

“Sesuai peraturan yang berlaku dan kebijakan yang ditetapkan perusahaan, atas musibah ini PLTA Batangtoru akan bertanggungjawab penuh atas musibah ini,” terang Taufick.

Dijelaskan, perbukitan di lokasi yang masuk wilayah Kelurahan Wek I, Kecamatan Batangtoru itu, mengalami longsor pada Kamis (3/12) malam. Jalan dan paret dilokasi itupun tertutup material longsor. Hal itu mengakibatkan, alat berat dan kendaraan tidak bisa pulang ke barak.

Dan, pada Jumat (4/12), Afuan Mari Mansyah Ritonga membersihkan material longsor dengan excavator. Tetapi nasib naas menimpa dirinya, pada pukul 15:30 di titik R 26. Longsor susulan yang lebih besar terjadi. Tak pelak, excavator dan operator (Afuan Mari Mansyah Ritonga) tereret materian longsor. Terguling beberapa kali hingga masuk kedalam jurang dengan kedalaman sekitar 250 meter, hingga terhenti di dasar Sungai Batangtoru.

Sejak kejadian, upaya pencarian terus dilakukan. Termasuk mendatangkan tim SAR. Namun, hingga hari keenam, tepatnya Kamis (10/12) operasi SAR untuk mencari korban, harus dihentikan dengan alasan tidak efektif lagi. Upaya lanjutan, dilakukan dengan pemantauan. Apalagi dihiir telah dipasang jarring, untuk mengantisipasi, korban terbawa arus. Tetapi, hingga saat ini, korban belum juga ditemukan. (ran)

iklan usi