News

Kisah Casanova Tarigan Sembuh Covid-19: Tuhan Mengirimkan Malaikat Nyata untuk Saya..

SIANTAR, FaseBerita.ID -Melalui akun media sosial Facebooknya, Casanova Tarigan menceritakan kisahnya menjadi pasien covid-19, selama dirawat di rumah sakit. Selama dalam perawatan, Casanova yang berasal dari Kota Pematangsiantar ini mengaku bahwa para medis yang merawatnya di Makassar seperti malaikat-malaikat yang diutus oleh Tuhan. Ia berhasil sembuh!

Berikut kisah yang dituliskannya:

Haiii… Saya ingin sharing  bagaimana perjuangan saya bisa sembuh dari covid.

Sebelumnya saya minta maaf untuk mama dan keluarga besar saya yang saya tidak beritahukan mengenai hal ini, karena saya tidak mau semua jadi kuatir dgn kondisi saya.

Saya hanya bisa bersyukur Tuhan mengijinkan hal ini terjadi dalam hidup saya. Sebenarnya sampai sekarang pun saya masih tidak menyangka saya akan kena virus ini, yang selama ini saya hanya mengikuti berita-berita.

Dan selama ini yang saya ikuti selalu berita korban yang meninggal karena virus ini, jadi sebelum saya akhirnya saya sakit yang tersimpan di memory saya, virus ini mengerikan.

Dimulai dari bulan Februari saya batuk, karena seperti biasa saya kalau batuk selalu lama, jadi saya biasa aja. Sampai akhirnya saya masih batuk sampai bukan Maret.

Akhir Maret  saya batuk dan flu. Akhirnya saya periksa ke dokter, dikasih obat dan  flu saya sembuh dan batuk berkurang.

Casanova Tarigan

Saya merasa enakan cuma satu minggu, setelah itu batuk makin parah dan saya mulai demam. Selama satu minggu saya tetap demam (39 derajat). Sekitar jam 10 malam di awal April saya pergi ke UGD Awal Bros. Setelag melewati prosedur, saya masuk ke ruang isolasi sementara, diperiksa darah dan foto paru-paru. Hasil darah saat itu aman, hasil foto paru-paru kanan saya ada infeksi.

Saya dikasih obat, disuruh pulang, dan saat itu status saya ODP, saya harus isolasi mandiri 14 hari.

Di rumah saya masih demam setiap hari, setelah 3 hari saya ke UGD lagi. Lalu saya periksa darah dan di swab. Hasil darah aman. Saya disuruh pulang, nunggu hasil swab, lanjut isolasi mandiri.

 Setelah itu di rumah saya masih demam (39 derajat)  setiap malam setiap hari. Dan badan mulai terasa pegal, kalau batuk dada terasa nyeri, mulai sesak dan lemas. Akhirnya pagi-pagi saya ke UGD. Cek darah dan akhirnya dokter merujuk saya ke rumah sakit khusus covid. Sorenya saya dibawa pakai ambulance ke RSUD Makassar, di ambulance tidak boleh ada yang nemenin.

Di situ saya mulai merasa sedih, merasa sendiri. Dan akhirnya sampai di RSUD, saya masuk ruang isolasi sementara. Di ruangan itu tidak ada satu orangpun, hanya sendirian. Saya menunggu, sampai akhirnya jam 12 malam saya dipindahkan ke gedung khusus covid, pindahnya pun pakai ambulance.

Situasi ini membuat saya semakin merasa takut. Dan akhirnya sampailah saya di gedung khusus covid RSUD Makassar. Saya masuk di sebuah ruangan yang sangat bersih, ruangan yang di dalamnya terdapat 7 kasur yang berarti ruangan itu untuk 7 pasien. Di dalam ruangan yg besar itu saya sendirian. Pertama kali saya diterima oleh seorang suster yang sangat ramah dan baik.

 Trimakasih suster Dewi Suriyani, suster yang selalu mengajak saya ngobrol, suster yang selalu memberi waktunya walau hanya 5 menit untuk mengajak saya bercerita dan menguatkan saya.

Tanggal 15 April saya masuk isolasi sementara, tanggal 16 April saya masuk ruangan khusus covid.

Kalau kata Suster Dewi pas saya masuk, batuk saya kayak kereta api. Hari pertama, saya masih merasakan perasaan yang sama sepertu pas baru masuk, hari ke 2 adalah hari perjuangan saya.

Dada saya terasa sakit saat batuk, sakit sampai ke belakang, tenggorokan saya sakit bangat, bibir saya kering. Mau bernafas terasa nyangkut, nafas udah satu-satu dan terasa sangat lemas. Saat itu saya pikir udah akhir hidup saya, saya menangis sama Tuhan.

Saya berdoa, saya rasa takut, yang saya ingat wajah mama saya, saya memohon sama Tuhan jangan panggil saya sekarang, saya masih ingin hidup. Saat sakit, di ruangan sendirian, secara psikis saya pun tertekan.

Pengen apapun harus dilakukan sendirian. Akhirnya saya dipasang oksigen dan kateter. Saat saya rasa takut, saya cerita ke suster, suster menguatkan saya, suster bilang jangan takut, harus kuat, harus tenang.

Setelah beberapa hari, saya mendapat kabar saya positif, hasil swab saya saat di UGD.

Aaah.. seperti mimpi rasanya.

Saya langsung telpon dokter memberitahu hasilnya. Melihat reaksi dokter yang santai dan tenang, saya jadi ikut tenang, dokter cuma pesan saya harus jaga pikiran, harus semangat, jaga imun tubuh, pasti sembuh.

Yang tadinya saya selalu lihat berita virus ini sangat mengerikan, tapi sejak saya dirawat, semua tidak seperti yang saya bayangkan.

Saya sangat bersyukur saya dirawat di RSUD Makassar. Tuhan mengirim tim medis yang sangat menolong saya dalam perawatan. Para perawat yang merawat saya dengan sikap mereka yang tenang.

Mereka yang biasa aja saat ketemu saya, mengubah paradigma saya. Saya sempat bingung, ini para perawat kok santai aja, saya kan pasien positif covid, kok mereka ga takut?

Kok mereka lihat saya biasa aja? padahal saya ini kan membahayakan. Cara mereka memperlakukan saya, membuat saya merasa diterima dan saya merasa tenang dan nyaman.

Saat ada perawat yang menepuk kaki saya memberi semangat, hal itu sangat memberi pengaruh yang besar pada saya secara psikis dan sampai sekarang saya tidak melupakan hal itu. Hari demi hari saya jalani, setiap bangun tidur selalu tersiksa dengan tenggorokan yang sakit dan bibir kering.

Setiap bangun pagi ada perasaan sedih tapi selalu setiap pagi perawat yang masuk selalu menguatkan saya dan mengingatkan saya untuk semangat, jaga imun tubuh.

Jadi selama dirawat tertanam dalam pikiran saya, saya harus jaga imun tubuh untuk melawan virus, jadi saat down, saya selalu berjuang untuk tidak sedih (saat down saya selalu menghubungi orang terdekat saya, ini nanti edisi khusus saya cerita).

Ketakutan saya selama ini berubah otomatis, pasien positif covid tidak semengerikan seperti di berita-berita. Intinya harus jaga pikiran dan jaga imun tubuh, pasti sembuh.

Saya pribadi sangat bersyukur saat saya positif covid, saya dirawat oleh tim medis yang terbaik. Setiap hari sebenarnya saya selalu menangis kagum menyaksikan langsung perjuangan dan pengorbanan para perawat khusus covid di RSUD Makassar apalagi saya mendengar ada perawat belum bisa buka puasa padahal saat itu udah jam 9 malam.

 Oh Tuhan mereka sangat luarbiasa. Tuhan mengirimkan malaikat – malaikat yang nyata untuk saya. Hari demi hari saya lalui, setiap perawat masuk selalu menguatkan dan mengingatkan saya untuk olahraga. Cleaning service yang setiap saat membersihkan ruangan pun selalu ramah dan nanya kabar.

 Aaah rumah sakit ini bener2 memberi kenyamanan.

Sampai akhirnya saya swab 4 kali, hasilnya 2 kali negatif dan saya dinyatakan sembuh. Saya dirawat selama 20 hari. Kata dokter Edward, saya pasien yang paling lama.

Terimakasih untuk tim medis khusus covid RSUD Makassar. Trimakasih Pak Joe Mirnoto dan semua tim. Sampai sekarang tubuh saya di rumah, tapi jiwa saya masih di rumah sakit, masih kagum dengan perjuangan dan pengorbanan para perawat. Salam hormat untuk pahlawan-pahwalan luarbiasa.

Trimakasih Mbak Hariati Ati

Dan untuk semua pasien yang saat ini sedang berjuang, jangan pernah menyerah, jangan putus asa, pasti sembuh.

Jangan takut saat merasakan sakit, rasa takut pasti ada tapi langsung dikendalikan. Karena saya pun selama 20 hari pernah merasa takut, putus asa, sempat down dan bertanya-tanya apakah saya bisa sembuh, saat perasaan seperti itu muncul, langsung berdoa dan ceritalah pada orang terdekat biar langsung dikuatkan.

Jaga pikiran, semangat selalu dan gembiralah selalu, hati yang gembira adalah obat. Terus berjuang yaaa… Pasti sembuh!!!!

Salam dari saya pasien positif covid yang sudah sembuh

Kasanova Tarigan yang sudah 11 Tahun tinggal di Makkasar.(**/fi)

USI