News

Peringatan Hardiknas di Sibolga: Kembalikan Kurikulum Pendidikan Moral Pancasila

SIBOLGA, FaseBerita.ID – Pemerintah Kota Sibolga memandang sangat perlu dilakukannya perubahan kurikulum pendidikan yang ada saat ini.

Terlebih, pendidikan moral Pancasila yang perlu untuk dimunculkan kembali sebagai pedoman anak didik di sekolah.

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Wali Kota Sibolga Edi Polo Sitanggang didampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Alpian Hutauruk usai pelaksanaan upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Lapangan Simaremare, Kamis (2/5).

Dimana kata Edi Polo, di tengah perkembangan teknologi saat ini, moral anak-anak merosot tajam bila dibandingkan dengan anak-anak zaman dulu. Ditambah, tidak adanya asupan pendidikan moral yang diperoleh dari sekolah.

“Kita memang melihat kurikulum saat ini, sangat disayangkan pendidikan moral pancasila dihilangkan. Kita lihat sendiri bagaimana moral anak-anak sekarang ini dengan kemajuan teknologi saat ini. Sangat berbeda jauh dengan waktu saya kecil dulu,” kata Edi Polo.

Sebagai kepala daerah mewakili Wali Kota, politisi partai PDI-Perjuangan ini berharap, pemerintah pusat melalui kementrian pendidikan dan kebidayaan dapat dikembalikan lagi di tengah-tengah dunia pendidikan.

“Kami juga berharap agar kurikulum pendidikan moral pencasila dapat dikembalikan seperti semula. Karena, moral anak-anak sekarang sudah kurang, karena tidak adanya pendidikan moral,” harapnya.

Ditambah lagi kata Edi Polo, narkoba yang saat ini telah menggerogoti kalangan anak-anak. Membuat Pemko Sibolga tidak henti-hentinya berupaya menjaga, jangan sampai ada anak yang memakai narkoba. Dengan cara menggelar operasi rutin setiap harinya di seluruh Kota Sibolga.

“Termasuk lem kambing yang belakangan marak sekali di kalangan pelajar. Anak remaja, yang beranjak dewasa lebih riskan terjerumus ke dalam pemakaian narkoba. Melalui aparat satpol PP tetap kita perdayakan untuk terus menggelar operasi kasih sayang,” pungkasnya.

Apa yang disampaikan Wakil Wali Kota tersebut sejalan dengan isi pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendy yang dibacakan oleh Edi Polo selaku Inspektur upacara peringatan hari pendidikan nasional.

Katanya, selama 4 tahun masa pemerintahan Presiden Joko Widodo-Yusuf Kalla, lebih memfokuskan pada pembangunan infrastruktur atau prasarana. Pembangunan prasarana transportasi darat, laut maupun udara. Mulai jalan tol hingga jalan pedesaan, pelabuhan dan lapangan terbang.

Menguatkan pendidikan, memajukan kebudayaan merupakan tema peringatan hari pendidikan nasional kali ini.

Yang mencerminkan pesan penting Ki Hajar Dewantara terkait hubungan erat Pendidikan dan kebudayaan dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang syarat nilai dan pengalaman kebudayaan guna membingkai hadirnya sumberdaya manusia yang berkualias. Demi terwujudnya Indonesia yang berkemajuan.

Dalam perspektif Kemendikbud, pembangunan sumber daya manusia menekankan dua penguatan, yaiu pendidikan karakter dan penyiapan generasi terdidik yang terampil dan cakap dalam memasuki dunia kerja. Dalam pendidikan karakter dimaksudkan untuk membentuk insan berakhlak mulia, empan papan, sopan santun, tanggungjawab, serta budi pekerti yang luhur.

Sementara Ikhtiar membekali keterampilan dan kecakapan disertai pula dengan penanaman jiwa kewirausahaan. Tentu, semua itu membutuhkan profesionalitas kinerja segenap pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan di tingkat pusat dan daerah.

“Saat ini peserta didik kita didominasi generasi yang terlahir di era digital dan pesatnya teknologi. Mereka lebih mudah dan cepat menyerap teknologi terbaru. Hal ini bisa dimanfaatkan oleh sekolah dan para guru untuk menerapan pendidikan berbasis teknologi digital dengan sentuhan budaya Indonesia, melalui tri pusat pendidikan, keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiga pusat pendidikan tersebut harus saling mendukung dan menguatkan. Selaras dengan itu, dalam konteks kebudayaan, posisi kebudayaan sebagai basis pendidikan nasional. Semakin kukuh dengan disahkannya undang-undang nomor 5 tahun 2017 tentang kemajuan kebudayaan, serta kongres kebudayaan tahun 2018. Implementasinya diharapkan semakin meningkatkan ketahanan budaya, meningkat pula dalam mengambil peran ditengah peradaban dunia. Penguatan karakter anak juga ditopang dengan hadirnya undang-undang nomor 24 tahun 2009, tentang bendera, bahasa dan lambang negara. Serta lagu kebangsaan, kecintaan dan kebanggaan pada simbol-simbol negara itu harus terus ditanamkan agar mampu membentuk generasi yang kuat, rasa nasionalisme dan lebih berjiwa patriot,” kata Mendikbud dalma pidatonya yang dibacakan ole Wakil Wali Kota.(ts)

iklan usi