News

Keluarga Nilai Banyak Kejanggalan saat Rekonstruksi

Rekonstruksi pembunuhan Santi Devi Malau

TAPTENG, FaseBerita.ID – Proses rekonstruksi pembunuhan Santi Devi Malau (25), karyawati Bank Syariah Mandiri Cabang Pandan, Tapanuli Tengah (Tapteng) yang digelar pada Selasa (2/7/2019) sekira pukul 10.00 WIB, melahirkan tanda tanya bagi keluarga korban. Pihak keluarga menyatakan, banyak perbedaan adegan yang direka ulang dengan bukti petunjuk, keterangan saksi dan pengakuan tersangka sesungguhnya.

Salah satunya adalah tidak adanya reka ulang pembunuhan gadis cantik asal Lingkungan 2 Kelurahan Sibabangun tersebut yang melibatkan tersangka Nurmayanti Nasution secara langsung. Sementara pada naskah skenario rekonstruksi adegan ke 22, istri Dimas Pristiawan ini mengaku membantu suaminya yang bertengkar dengan tetangga kos.

“Menurut kita, gelaran reka ulang tidak sesuai dengan pengakuan tersangka dan bukti petunjuk. Ada fakta lapangan yang terlupakan, yakni luka cakar pada bagian wajah korban. Logikanya, berantam dengan cakar-cakaran, bukanlah gaya laki-laki,” ujar Madayansyah Tambunan, salah seorang keluarga korban, Rabu (3/7).

Menurutnya, dari hasil reka ulang ada indikasi Dimas Pristiawan berupaya untuk melindungi istrinya dari keterlibatan aksi kejahatan tersebut. Padahal saksi Muhammad Akbar Sikumbang, yang merupakan karyawan rumah makan Cantika, mengaku melihat ada luka memar lebam diwajah tersangka Nurmayanti Nasution. “Naskah adegan skenario rekonstruksi dibuat polisi atas pengakuan tersangka. Kenapa bisa tidak sinkron,” kata Madayansah dengan nada bertanya.

Dari bukti petunjuk dan keterangan tersangka, sambung Madayansyah, seharusnya ada adegan di mana Nurmayanti Nasution terlibat kontak langsung dengan korban Santi Devi Malau. Ia juga menilai pembunuhan tidak mungkin hanya dilakukan satu orang. “Ada beberapa adegan yang menurut pihak keluarga tidak sesuai, jadi kami merasa keberatan. Faktanya korban mengalami luka cakaran pada bagian wajah. Jadi kami anggap rekonstruksi kemarin ada yang ganjil,” tukasnya.

Masih kata Madatansyah, delik pidana “pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan kematian” yang dipersangkakan terhadap pelaku juga tidak sesuai dengan bukti petunjuk dan fakta lapangan. Banyak kejanggalan yang terjadi dalam kasus tersebut, termasuk cincin korban yang tidak dibawa kabur oleh tersangka pelaku. Konon lagi, pelaku masuk ke kos-kosaan korban dengan cara memaksa mendorong pintu. Tersangka Dimas Pristiawan juga ada menyediakan tali yang disimpan dalam kantong celana kiri.

Pasal yang dikenakan kepada tersangka pembunuh wanita berhijab itu juga dinilai terlalu ringan. Menimbang kasus ini tergolong kejahatan berat dan diduga ada perencanaan, seharusnya pelaku dijerat pasal berlapis, yakni pasal 340, 339, 338, dan 365 dengan ancaman pidana seumur hidup. Sementara pasal yang dipersangkakan hanya pasal 365 ayat 4 subsider pasal 365 ayat 3 jo pasal 55, 56 subsider pasal 170 ayat 2 butir ke 3 KUH Pidana.

Karenanya, kata Madayansyah, pihak keluarga menuntut adanya keadilan dan meminta polisi kembali mendalami lagi kasus pembunuhan tersebut. Penyidik juga diminta tidak berhenti hanya pada pengakuan tersangka. Tidak menuntup kemungkinan, Nurmayanti terlibat langsung dalaam aksi pembunuhan tersebut, tidak hanya sekedar mengetahui. Pihak keluarga berharap agar pelaku ditindak dengan seberat-beratnya. “Tuntutan keluarga hanya satu, keadilan. Itu saja,” tandasnya.

Berikut naskah skenario rekonstruksi adengan ke 22 yang berhasil dikutip wartawan media ini. Di antaranya, para tersangka turun dari becak mesin dan singgah di Rumah Makan Cantika. Lalu tersangka duduk memesan dua gelas teh manis. Para tersangka bertemu dengan saksi Muhammad Akbar Sikumbang yang merupakan karyawan Rumah Makan Cantika. Setelah saksi Muhammad Akbar Sikumbang menghidangkan dua gelas teh manis, lalu saksi bertanya kepada tersangka Dimas Pristiawan. “Kenapa wajah kalian kok berdarah seperti habis bertengkar”.

Kemudian Dimas Pristiawan menjawab “habis bertengkar dengan tetangga kos ku, habis itu ibu kos mengusir kami dari kos, jadi kami pergi kemari, bingung kami mau tidur di mana malam ini, kalau enggak di sinilah dulu kami tidur satu malam ini”. Lalu saksi bertanya kembali kepada Dimas Pristiawan sambil melihat ke arah tersangka Nurmayanti Nasution “itu kenapa wajah kakak itu memar lebam. Lalu tersangka Nurmayanti Nasution menjawab “kubantulah dia, namanya juga suamiku”. (ztm)