News

Kayu Hutan Dibeli dari Pangulu Seharga Rp25 Juta

SIMALUNGUN, FaseBerita.ID – Sidang perkara pencurian kayu di kawasan Hutan Register dan Lindung yang dilakukan terdakwa Jan Nofri digelar di Pengadilan Negeri Simalungun, Kamis (20/6/2019). Pada sidang kali ini, jaksa menghadirkan saksi yang merupakan pembeli kayu.

Ketua Pembangunan Gereja marga Sinaga sekaligus saksi dalam kasus ini mengatakan, kayu yang ia beli dari Pangulu Bahapal Raya yang saat itu dijabat oleh terdakwa Jan Nofri, tidak diketahui darimana asalnya.

Hanya saja, sebelum jual beli disepakati, saksi terlebih dahulu menemui terdakwa dan mencek kayu yang hendak dibeli. Begitu tiba di lokasi, saksi menyetujui harga kayu sebesar Rp25 juta.

“Apakah seorang ketua pembanguan tidak mengetahui kalau lokasi itu adalah hutan register,” tanya Haidi Nasution, salahsatu Majelis Hakim kepada Saksi.

Saksi kemudian merasa bingung menjawab pertanyaan hakim. “Sata tidak tahu pak,” kata saksi.

“Kok anda selaku kepala sekolah tidak mengetahui apakah itu hutan lindung atau tidak,” tanya hakim lagi dan langsung dijawab oleh saksi bahwa ia tidak mengetahuinya.

Usai mendengar keterangan saksi, sidang kembali ditunda minggu depan dengan agenda mendengarkan keterangan terdakwa.

Sekedar diketahui, dalam dakwan jaksa disebutkan, perbuatan terdakwa terungkap pada Selasa (22/1/2019) sekira pukul 22.00 WIB di Jalan Sutomo, Kelurahan Sondi Raya, Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun.

Sebelum tanggal tersebut, terdakwa telah menerima permohonan kayu olahan dari Panitia Pembangunan Gereja GKPS Desa Limag Raya Kecamatan Raya.

Selanjutnya terdakwa menyuruh Risdo Damanik (DPO) untuk melakukan penebangan kayu di Dusun Raya Humala, Nagori Bahapal Raya, Kecamatan Raya Kabupaten Simalungun dengan upah Rp1.500.000 per ton.

Kemudian terdakwa menyuruh saksi Jaimbang Purba untuk mengangkut kayu olahan yang telah dikerjakan Risdo Damanik dengan menggunakan mobil truk Cold Diesel Mitsubishi BK 8044 WA dengan tujuan Gereja  GKPS Desa Limag Raya, Kecamtan Raya serta memberikan surat jalan tanggal 22 Januari 2019 yang ditandatangani oleh terdakwa selaku Pangulu Bahapal Raya.

Namun setibanya di Jalan Sutomo, Kelurahan Sondi Raya, Kecamatan Raya truk yang bermuatan kayu olahan sebanyak 45 unit tersebut, distop petugas Kehutanan. Lalu menanyakan siapa pemilik kayu serta menanyakan dokumen angkut kayu.

Jaimbang Purba menyebutkan, bahwa pemilik kayu tersebut dan yang menyuruhnya adalah terdakwa.

Namun Jaimbang Purba tidak dapat menunjukkan dokumen angkut kayu/ Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan dan hanya memperlihatkan surat jalan yang diberikan terdakwa.

Berdasarkan hal itu, terdakwa diamankan dan barang bukti dibawa ke Kantor Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara di Medan untuk ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku.

Perbuatan terdakwa sebagimana diatur dan diancam Pidana Pasal  12 huruf c Jo Pasal 82 ayat (1) huruf c,  Undang-undang RI No 18 Tahun 2013  Tentang  Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana. (ros/pra/des)