News

Kasus Pencurian Sawit di Eks Kebun Sendiri di Simalungun, Ditolak Hakim

FaseBerita.ID – Majelis Hakim Pengadilan Negeri Simalungun menolak tuntutan jaksa terhadap Esterlan Sihombing (80), wanita yang dituduh mencuri di kebunnya sendiri. Fakta persidangan, ternyata lahan sawit tersebut telah dijual kepada oranglain oleh anak Esterlan.

Majelis hakim ketua Rozianti SH didampingi oleh dua hakim anggota Aries Ginting SH dan Mince Ginting SH menjatuhkan putusan penuntutan tidak dapat diterima terhadap perkara Esterlan Sihombing, dalam sidang yang diadakan secara online, Rabu (21/10/2020).

Majelis hakim berpendapat bahwa bahwa lantaran penuntutan dari jaksa belum waktunya sebab masih menunggu perkara lainya yakni perdata.

“Atas putusan ini diberikan kepada jaksa untuk pikir pikir selama 7 hari dan  mengajukan kasasi,” terang Aries selaku humas PN Simalungun.

Esterlan br Sihombing (80)  warga Huta III Simangonai Nagori Jawa Baru Kecamatan Hutabayu sebelumnya dituntut Penjara oleh Jaksa Juna Karo Karo selama 3 bulan penjara. Namun hukumannya tidak dijalani dengan masa percobaan selama 6 bulan.Jaksa Juna Karo Karo menyatakan perbuatan terdakwa melanggar pasal 362 KUH Pidana.

Atas putusan majelis hakim tersebut Esterlan Sihombing yang sudah berumur 80 tahun menerangkan bahwa ia sangat berterimakasih atas putusan yang diberikan majelis hakim tadi.

“Saya merasa  bersyukur kepada Tuhan hingga saat ini masih diberi kesehatan demi keadilan saya sudah mengikuti persidangan ini terus,” terang Esterlan sambil memegang tongkatnya didampingi oleh penasehat hukumnya Parluhutan Banjarnahor, SH.

Bermula pada hari Kamis tanggal 25 April 2019 sekira pukul 08.30 Wib, terdakwa Esterlan menyuruh saksi Toni  untuk memanen buah kelapa sawit yang belakangan ternyata milik saksi korban Edy SE yang berada di perladangan di Huta III Simanginai Nagori Jawa Baru Kecamatan Hutabayuraja Kabupaten Simalungun.

Kemudian saksi Toni menyuruh pekerjanya untuk memanen buah kelapa sawit yakni diantaranya saksi Sarno, saksi Supriono, saksi Widianto dan saksi Saut. Dimana peranan masing-masing adalah saksi Sarno, saksi Supriono  dan saksi Widianto berperan mengegrek buah kelapa sawit yang ada di pohon dengan menggunakan alat egrek sebanyak 4 buah, sementara saksi Saut  berperan melangsir dengan menggunakan alat beko dan setelah buah kelapa sawit selesai dipanen sebanyak 120 tandan kemudian terdakwa memberikan upah sebesar Rp600.000.

Menanggapi putusan yang diberikan majelis hakim Kasipidum Irvan Maulana SH didampingi oleh Barry SH kepada wartawan menuturkan bahwa atas putusan pengadilan akan melaporkan kepada pimpinan.

“Apapun arahan dan petunjuk pimpinan akan dilaksanakan sebab sebelumnya masa percobaan 6 bulan dan dituntut selama 3 bulan penjara.  Sebab di persidangan bahwa terdakwa terbukti bersalah menyuruh orang untuk memanen sawit dijualnya kepada terdakwa,” terang Kasipidum.

Menurut Irvan, terdakwa dalam persidangan mengakui bahwa lahan sawitnya itu sudah dijual kepada korban Edi Ronal Simbolon. (ros/fi)