News

Kasus Memandikan Jenazah Perempuan, 4 Pegawai RSUD Ditetapkan Tersangka

FaseBerita.ID – Empat pegawai RSUD Djasamen Saragih yakni DAH, RE, EES, dan RS akhirnya ditetapkan sebagai tersangka oleh Kepolisian Resort Pematangsiantar atas kasus dugaan penistaan agama.

Kapolres Pematangsiantar AKBP Boy Siregar dalam jumpa pers, Jumat (11/12) mengatakan, selain diduga melakukan penistaan agama, para tersangka juga dijerat Pasal 51 UU RI No 29 Tahun 2004 Tentang Peraktik Kedokteran dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Walau ditetapkan sebagai tersangka, Boy Siregar menjelaskan keempatnya tidak dilakukan penahanan karena beberapa alasan, terutama menyangkut tugas di RSUD. Pihaknya juga memastikan para tersangka tidak melarikan diri.

“Karena hingga saat ini, para tersangka masih dibutuhkan untuk pemandian jenazah di Rumah Sakit. Jadi, tidak kita lakukan penahanan. Sampai saat ini belum ada tenaga pengganti pemandian,” ujarnya.

Kasus itu bermula dari laporan Fauzi Munthe warga Serbelawan Kabupaten Simalungun, suami dari almarhummah Zakiah, yang meninggal dunia di RSUD Djasamen Saragih. Fauzi tidak terima jika jenazah istrinya dimandikan 4 petugas pria yang bukan muhrim.

Kasus ini pernah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pematangsiantar pernah menggelar pertemuan antara pihak keluarga dan RSUD, Rabu (23/9/2020) lalu di Kantor MUI Jalan Kartini, Kecamatan Siantar Barat.

Dalam pertemuan itu, Ketua MUI M Ali Lubis meminta sertifikat tersangka DAH dicabut. Ia juga meminta pihak rumah sakit tidak bermain-main dengan syariat Islam.

“Agar menjalankan prosesi fardu kifayah kepada umat islam sesuai syariat Islam yang sudah disepakti bersama,” bebernya.

Di kesempatan yang sama, pengacara pelapor Muslimin Akbar aprsesiasi kinerja Polres Siantar yang menindaklanjuti laporan mereka. Namun mantan anggota DPRD Siantar meminta Kepolisian juga mengusut hingga tingkat pimpinan RSUD. (ros/fi)