News

Karantina TBA Musnahkan 200 Kg Paket Tanpa Dokumen

FaseBerita.ID – Karantina Pertanian Tanjungbalai Asahan (TBA) memusnahkan media pembawa penyakit hewan dan penyakit tumbuhan ilegal dalam menjaga ancaman penyebaran pendemi Covid-19, Kamis (9/4).

Pemusnahan merupakan salah satu unsur tindakan karantina. Mengapa komoditas pertanian harus dimusnahkan? Ada beberapa sebabnya, diantaranya karena tertular atau tidak bebas dari penyakit, busuk, rusak, atau termasuk jenis yang dilarang pemasukannya, tidak dapat disembuhkan atau dibebaskan dari penyakit setelah tindakan perlakuan, dan bisa juga karena setelah dilakukan penolakan tidak dibawa keluar dari area tujuan oleh pemiliknya dalam batas waktu yang ditetapkan.

Media pembawa yang akan dimusnahkan merupakan hasil pengawasan bersama yang dilakukan oleh Karantina Pertanian Tanjungbalai Asahan dan Bea Cukai Teluk Nibung dengan ditahannya MP HPHK dan MP OPTK yang dibawa penumpang berupa komoditas hewan seperti daging ayam, daging sapi, sosis, nugget, dan olahan lainnya, dengan total sebanyak 53.25 kg.

Serta beberapa jenis komoditas tumbuhan seperti bawang Bombay, bawang merah, bibit kelapa, cabai kering dan buah-buahan lainnya sebanyak 147.95 kg yang berasal dari Malaysia.

Seluruh barang tahanan dimusnahkan di Alat Pembakar Karantina Pertanian TB Asahan. Komoditas tersebut merupakan hasil tangkapan dan penahanan sejak periode Februari – Maret 2020.

Kepala Karantina Pertanian Tanjungbalai Asahan drh Bukhari mengatakan bahwa berdasarkan UU Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, media pembawa (MP) hama dan penyakit hewan karantina (HPHK) dan organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) yang selanjutnya disebut Media Pembawa (MP) adalah hewan, produk hewan, tumbuhan, produk tumbuhan, pangan, pakan, PRG, SDG, agensia hayati, jenis asing invasif, tumbuhan dan satwa liar, tumbuhan dan satwa langka, dan/atau media pembawa lain yang dapat membawa HPHK dan OPTK.

“Penahanan dan pemusnahan MP HPHK dan MP OPTK ini merupakan langkah dan komitmen kita untuk menjaga negara kita ini dari serangan penyakit hewan dan penyakit tumbuhan yang terbawa penumpang dari Malaysia. Hal ini kita lakukan untuk menciptakan kedaulatan negara kita, khususnya dalam bidang pertanian,” ungkap drh Bukhari saat membuka acara.

Pelabuhan Teluk Nibung merupakan pintu terdepan Indonesia yang terhubung dengan Negara Malaysia. Di masa pandemi global khusunya penyakit Covid-19 perlu tindakan ketat menjaga laju lalu lintas komoditas produk pertanian khususnya dari hewan dan tumbuhan.

Oleh sebab itu, kita harus selalu siaga dari serangan virus ini. Seluruh jajaran pemerintah sudah menyatakan ini sesuatu yang berbahaya, ini yang harus kita perhatikan, dan sesuai arahan Menteri Pertanian bahwa Badan Karantina Pertanian sebagai garda terdepan menjaga keamanan hayati negeri, jadi kita tidak boleh lengah,” tutup drh Bukhari. (ck04/sr/rah)

USI