News

Kandangkan Truk Monster!

SIBOLGA, FaseBerita.ID- Masyarakat Kota Sibolga resah dengan truk ekspedisi Over Dimension Overload (Odol) atau yang biasa disebut dengan istilah truk Monster, yang setiap harinya lalu lalang di sepanjang jalan inti kota tanpa pengawasan yang ketat dari pihak terkait.

Sebelumnya Tim Koalisi LSM Aliansi Masyarakat Anti Korupsi (LSM-AMAK) Sibolga-Tapteng sangat keberatan dengan truk Monster tersebut.

Beberapa waktu lalu, Ketua Tim AMAK Imran Steven Pasaribu mengatakan, jika hal ini masih belum juga bisa ditertibkan, maka Aliansi ini akan turun ke lapangan untuk menggelar aksi demontrasi.

Menanggapi persoalan itu, masyarakat Kota Sibolga, khususnya pengguna jalan raya, sangat mendukung aksi yang akan dilakukan AMAK, agar truk monster tersebut bisa ditertibkan dengan cepat. Bahkan, warga meminta truk-truk yang mengancam keselamatan pengguna jalan tersebut harus dikandangkan.

“Sebagai warga kami merasa resah, inikan harusnya tidak boleh. Karena tidak mungkin sebuah truk mengangkut barang-barang sebanyak itu, ini bisa bahaya. Kalau bisa dalam waktu dekat ini, tim AMAK itu bisalah unjuk rasa, agar semua truk monster ini bisa dihentikan, bila perlu dikandangkan sekalian,” kata Hamsah, selaku warga Sibolga. Minggu, (25/4).

Selanjutnya, warga lainnya juga mengatakan, sebelumnya Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah berkomitmen untuk membebaskan Indonesia dari truk kelebihan muatan dan dimensi atau over dimension and over load (Odol) pada 1 Januari 2023.

Truk Odol perlu ditertibkan lantaran menimbulkan kerugian besar bagi pemerintah. Ini karena truk dengan muatan berlebih, jadi salah satu pemicu tertinggi atas kerusakan jalan raya dan bisa membahayakan pengguna jalan.
Warga menyebut, hal itu dikutipnya dari laman Website Kemenhub RI. Sebelumnya telah dijelaskan pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, truk Odol ini tampak dibiarkan selama bertahun-tahun, hal itu sudah menjadi kebiasaan di Indonesia, karena dianggap salah satu toleransi.

“Bisa kita lihat dari websitenya pak, jadi saya juga selaku warga Kota Sibolga, merasa tidak nyaman jika melintas di sekitar truk itu, ini sangat berbahaya. Jadi nanti kalau sudah ada korban selanjutnya, pada saat itu pihak Dishub akan datang, seperti kejadian di Jalan Suprapto dulu, yang menghantam pagar Korem. Apakah kita mau hal itu terulang lagi,” ucap Sakirin Lubis.

Dijelaskannya, problematika Odol di Indonesia adalah sudah menjadi budaya dalam dunia logistik angkutan truk di Indonesia, terkhusus di kota Sibolga. Terkait solusi mengatasi Odol, perlu dilakukan dengan memperketat pengawasan dalam uji KIR dan jembatan timbang.

Kemudian, untuk mengendalikan angkutan barang muatan lebih juga harus memperkuat penyelenggaraan Unit Penyelenggaraan Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB) atau jembatan timbang.

Menurut Sakirin, truk monster ini sangat terkait dengan tingginya ongkos logistik saat menyeberang ke pulau Nias, di antaranya disebabkan harga mobil yang mahal dan biaya operasional kendaraan yang tinggi.

Sementara di sisi lain, Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Transportasi Indonesia (K-SPTI Sibolga Tapteng), Rahmansyah Sibuea mengatakan, aktivitas truk over tonase bukan urusan dari pihaknya, sebaiknya segala urusan truk monster itu bisa dimintai keterangan kepada pihak-pihak yang berwenang.

Namun ia meminta hendaknya para pengusaha bisa mensejahterakan dan menjamin keselamatan seluruh para pekerja yang berada di perusahaan logistik di truk tersebut.

Amatan, hingga kini truk monster masih menjadi ‘raja jalanan’ di Kota Sibolga. Disebut raja jalanan, lantaran setiap kali truk tersebut melintas, semua pengguna jalan harus ekstra hati-hati berada di sebelahnya. Bahkan, banyak pengguna jalan yang memilih mengambil jalur lain daripada harus berpapasan dengan truk-truk monster tersebut.

Diketahui, truk-truk bermuatan lebih tersebut memuat barang hingga 2 sampai 3 kali lipat dari muatan normalnya.
Para pengusaha mengakalinya dengan meninggikan muatan, lalu ditutup dengan terpal tebal. Sebagian lagi bahkan nekat membuka pintu belakang truk dan menjadikannya sebagai tempat barang. Sehingga, muatan yang mau diangkut bisa lebih banyak lagi.

Hal tersebut diduga dilakukan pengusaha ekspedisi untuk menghemat biaya bongkar muat dan biaya ongkos kapal untuk menyeberang ke pulau Nias. (hp/fabe)

USI